JOMBANG – Upaya Pemkab Jombang menata Pasar Ploso masih membutuhkan perhatian ekstra.
Meski pemerintah daerah sudah menghabiskan anggaran mencapai milian rupiah untuk merehabilitasi pasar serta membangun Pasar Buah di Sub Terminal Ploso, para pedagang kembali memadati area depan pasar untuk berjualan.
Pantauan di lokasi Rabu (18/2) menunjukkan, bagian depan Pasar Ploso yang sebelumnya sempat steril dari aktivitas pedagang kini kembali dipenuhi lapak jualan.
Bahkan, belum genap dua bulan sejak area tersebut dibersihkan, jumlah pedagang yang berjualan di depan pasar terlihat semakin bertambah.
Sebagian besar pedagang menjual sayur mayur dan palawija. Mereka menggelar dagangan secara lesehan maupun dengan sistem bongkar pasang.
Ada pula yang memanfaatkan kendaraan roda tiga serta berjualan sebagai pedagang kaki lima. Meski tidak menempati bangunan permanen, aktivitas jual beli tetap berlangsung ramai menimbulkan kesan semrawut. ”Memang awalnya di sana harus steril, cuma sekarang kesannya balik lagi,” ujar Hadi, salah seorang warga sekitar.
Sebelumnya para pedagang sempat diminta berjualan di area Sub Terminal Ploso. Di lokasi tersebut sudah dibuat garis-garis di depan kios sebagai penanda tempat berjualan, meski bukan dalam bentuk lapak permanen seperti pedagang buah di pasar baru. ”Kalau tidak salah kemarin itu mereka diminta berjualan di area terminal Ploso, di depan kios. Cuma, bukan lapak seperti pedagang buah, jualannya lesehan,” jelasnya.
Namun, mayoritas pedagang enggan menempati area yang sudah disiapkan tersebut dan memilih kembali berjualan di depan pasar. Penertiban petugas sempat dilakukan, tetapi tidak berlangsung lama. ”Sempat diobrak petugas juga, cuma tidak lama balik jualan lagi di sana,” imbuhnya.
Salah satu alasan pedagang kembali berjualan di depan pasar diduga karena mereka meminta dibuatkan tempat yang setara dengan pedagang lain. Sebagian di antaranya tidak termasuk dalam daftar pedagang yang dipindahkan ke pasar baru.
Sementara itu, DK, salah satu pedagang Pasar Ploso, mengakui rehabilitasi pasar dan pembangunan Pasar Buah di Sub Terminal Ploso belum sepenuhnya mengubah wajah pasar. Bahkan, menurutnya, kondisi saat ini justru membuat penataan pasar kurang tertib.
”Karena di bagian belakang Pasar Ploso semakin sepi, banyak pedagang jualan di depan. Istilahnya sekarang sudah difasilitasi, dulu yang awalnya jualan di atas tanah sekarang sudah jadi paving,” ujarnya.
Meski bagian belakang pasar sudah direhab, hingga kini belum ada pedagang yang menempati area tersebut. DK menilai kondisi itu bukan semata karena pedagang enggan, melainkan tidak adanya arahan yang jelas. ”Saya fikir bukan pedagang yang tidak mau menempati, tapi tidak ada yang mengarahkan supaya jualan di belakang,” tuturnya.
Keramaian di bagian depan pasar pun kian meluas. Jika sebelumnya aktivitas ramai hanya terpusat di sisi barat depan Pasar Ploso, kini keramaian juga terjadi di depan Pasar Buah yang baru hingga meluber ke bahu jalan.
”Dulu itu ramainya hanya di depan sebelah barat, sekarang depan Pasar Buah yang baru itu juga ramai sampai ke jalan. Semakin crowded,” katanya.
Ia tidak mengetahui secara pasti apakah pedagang yang berjualan di depan merupakan pedagang lama atau pendatang baru. ”Entah itu pedagang baru atau pedagang siapa, yang jelas sekarang di depan itu semakin ramai,” katanya.
Untuk diketahui, tahun lalu pemkab merehab Pasar Ploso sekaligus membangun Pasar Buah di kawasan Sub Terminal Ploso.
Rehab pasar menelan anggaran mencapai Rp 3,5 miliar, sementara pembangunan Pasar Buah menelan anggaran Rp 3,9 miliar. Selain mempercantik wajah pasar, dua proyek tersebut menjadi komitmen pasar daerah meningkatkan tata kelola pasar yang sebelumnya semrawut. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto