Radarjombang.id - Tingginya penyebaran kasus tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Jombang mendapat perhatian serius Bupati Jombang Warsubi.
Sebagai langkah, bupati akan memaksimalkan peran Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TP2TB) serta memantapkan rencana aksi.
”Jombang siap melaksanakan upaya eliminasi TBC,” ujarnya.
Ia menegaskan, Pemkab Jombang sudah melakukan langkag-langkah untuk menekan angka TBC.
Misalnya, memperkuat layanan kesehatan primer, memperluas deteksi dini hingga tingkat desa, serta memastikan pasien TBC mendapat pengobatan yang tuntas.
”Pemerintah kabupaten akan terus berkolaborasi dengan pusat, provinsi, serta masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif melibatkan tenaga kesehatan, pemerintah desa, hingga tokoh agama untuk meningkatkan edukasi masyarakat terkait pencegahan dan pengobatan TBC.
”Saya mengajak seluruh masyarakat Jombang untuk ikut ambil bagian dalam gerakan eliminasi TBC.
”Pemerintah bisa membuat kebijakan, tetapi keberhasilan program sangat ditentukan oleh partisipasi warga, keluarga, dan lingkungan. Bersama-sama kita bisa wujudkan Jombang sehat dan bebas TBC,” pungkas Warsubi.
Seperti diberitakan sebelumnya, angka penyakit menular tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Jombang terus melonjak.
Hingga pertengahan Agustus ditemukan sebanyak 1.474 kasus baru TBC.
”Setiap dua minggu, angka kasus TBC di Jombang terus bergerak naik.
Baca Juga: Komitmen Tanggulangi AIDS, TBC, dan Malaria, Pemkab Jombang Diganjar Penghargaan dari Adinkes
Hingga pertengahan Agustus 2025, tercatat 1.474 kasus baru dari 11.300 warga yang telah diperiksa,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang dr Hexawan Tjahja Widada (13/8).
Pemeriksaan terus dilakukan secara masif hingga akhir tahun, sesuai target dari Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri.
Selain pengobatan, dinas kesehatan juga fokus pada penemuan kasus, investigasi kontak erat, serta terapi pengobatan.
Setiap terduga TBC langsung diperiksa. Jika ditemukan positif, maka 8-10 orang terdekat dalam lingkup keluarga juga akan diperiksa melalui investigasi kontak.
”Kontak yang terduga TB langsung kami berikan terapi profilaksis. Kontak-kontak ini juga akan terus diawasi. Semua pencatatan dilaporkan lewat aplikasi SITB (Sistem Informasi Tuberkulosis) dan terpantau langsung oleh kementerian,” paparnya. (ang/naz)
Editor : Anggi Fridianto