Radarjombang.id - Tingkat pengangguran terbuka (TPT) Jombang pada 2024 mengalami penurunan dibanding 2023.
Pada tahun lalu mencapai 35.334 jiwa, tahun ini sebanyak 28.738 orang.
Penurunan angka pengangguran salah satunya dampak banyaknya pabrik-pabrik baru berdiri di Jombang.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jombang Isawan Nanang Rusdianto menjelaskan, jumlah angkatan kerja berdasarkan data Balai Pusat Statistik (BPS) Jombang Agustus 2023 hingga Agustus 2024 tercatat ada 766.832 orang.
Dari jumlah itu, sebagian besar sudah bekerja.
”Yang sudah bekerja sebanyak 738.094 orang, sedangkan tingkat pengangguran terbuka 28.738 orang,” kata Isawan kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Angka pengangguran sebesar itu, menurut dia, mengalami penurunan dibanding 2023.
Sebab, pada tahun lalu angka pengangguran terbuka mencapai 35.334 orang atau 4,66 persen. ”Pada 2024 ini turun 0,91 persen atau menjadi 3,75 persen,” imbuh dia.
Menurut dia, ada banyak faktor yang menjadikan penurunan jumlah pengangguran terbuka. Salah satunya meningkatnya iklim investasi.
”Karena investasi kondusif, ada banyak investor masuk ke Jombang,” ujar Isawan.
Banyaknya pabrik yang berdiri di utara Sungai Brantas, lanjut Isawan, juga berdampak ke sektor ketenagakerjaan.
”Industri di utara Brantas sudah mulai berkembang, sehingga menyerap banyak tenaga kerja,” tutur dia.
Begitu juga upaya pemkab dengan menggelar bursa kerja atau job fair.
”Jadi setiap tahun kita melaksanakan job fair untuk mempertemukan pencaker (pencari kerja) dengan perusahan, supaya penyerapan tenaga kerja tinggi,” papar dia.
Tidak hanya itu, selama ini pihaknya juga menggenjot pelatihan.
Baik berbasis kompetensi maupun perluasan kesempatan kerja.
”Pelatihan ini di sektor informasi, sehingga masyarakat bisa berwirausaha mulai makanan hingga minuman dan konten kreator,” ujar Isawan.
Diakui tiap tahunnya pengangguran terbuka didominasi lulusan SMA/SMK sederajat. Sehingga, butuh langkah untuk peningkatan SDM.
”Apalagi lulusan SMK ini siap kerja, sehingga selalu ada PBJ (Penyuluhan dan Bimbingan Jabatan) untuk membantu mereka bisa masuk di dunia usaha dan dunia industri,” kata Isawan.
Data dihimpun, iklim investasi di Kabupaten Jombang terus mengalami peningkatan sejak tiga tahun terakhir.
Bahkan, dalam triwulan kedua 2024 total nilai investasi mencapai Rp 686 miliar.
Berdasarkan data DPMPTSP Jombang yang di dapat dari laporan kegiatan penanaman modal (LKPM) di sistem (Online Single Submission), diketahui, total nilai investasi pada 2023 mencapai Rp 2,4 triliun.
Jumlah tersebut naik dari 2022 sebanyak Rp 2,3 triliun maupun pada 2021 yang mencapai Rp 1,5 triliun.
Nilai tersebut bersumber dari para pelaku usaha penanaman modal asing (PMA), penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun dari izin usaha mikro kecil (IUMK). (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto