Pantauan di lokasi, di salah satu jalan perkampungan, banyak dipenuhi pedagang. Mereka berjualan sayuran, ikan hingga bumbu dapur. Kondisi serupa juga terpantau di lokasi lapak sementara yang dibangun pemkab 2021 lalu. Bagian depan masih banyak pedagang menempati tempat itu. Namun, bagian belakang lebih sepi dan ditumbuhi semak belukar.
Imam Syafi’i salah satu pedagang mengatakan, saat ini terpaksa masih menempati lapak sementara yang dibangun pemkab. ”Ya sejak mau dibongkar pertengahan 2021 pindah jualan ke sini,” kata Imam.
Sembari menunjuk kios sementara, dikatakan hingga saat ini menunggu kabar lebih lanjut dari pemkab. ”Dulu pas setelah dibongkar, katanya hanya delapan bulan. Ternyata masih ada lanjutan, terus Januari (2023) bisa ditempati, sampai sekarang juga belum ada kejelasan. Katanya nunggu peresmian dulu, baru dipindah lagi,” imbuh dia.
Sampai saat ini belum ada pembahasan terkait penempatan kios. ”Belum ada rapat, ini sampai Februari mau habis masih adem ayem. Kita juga belum tahu menempati lantai atas atau bawah,” tutur dia.
Meski begitu, kabar yang dia terima, pedagang pakaian atau kering bakal menempati lantai atas. Sementara pedagang basah bakal berjualan di lantai bawah. ”Paling tidak nanti nggak mendadak, apalagi mau puasa atau Lebaran. Susah kalau boyongan dadakan,” kata Imam.
Sementara itu, Ainur Roziqin perwakilan paguyuban pedagang Pasar Perak mengaku sudah menyampaikan unek-unek para pedagang ke pemkab. ”Kami sudah tanyakan ke dinas (Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jombang), kemarin disampaikan tinggal nunggu pemeriksaan keuangan dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) dan Bappeda (Badan perencanaan pembangan daerah),” kata Ainur.
Lelaki yang akrab disapa Udin ini mengatakan, pemkab juga tengah mendata jumlah pedagang. ”Mereka mengusahakan antara akhir Feburari atau awal Maret, pedagang ini butuh waktu untuk pindah, makanya diperjelas,” imbuh dia.
Diakui, karena saat ini pasar setempat bakal menerapkan zonasi, sehingga pembagian atau pengundian tempat diharapkan tak ada persoalan. ”Perkara zonasi pedagang lesehan atau yang lain datanya hampir selesai. Untuk pakaian atau lantai atas masih didata, istilahnya dinas sekarang masih mendata ulang plus tempat yang tersedia berapa,” kata Udin sembari menyebutkan pedagang yang tergabung dalam paguyuban total ada 121 orang.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Jombang Suwignyo mengakui, sampai saat ini pedagang masih menempati lapak sementara. ”Jadi sampai Senin nanti kita masih memilah jumlah pedagang, karena di sana sudah terbagi zona. Ada basah, kering dan untuk kios baju,” kata Suwignyo dikonfirmasi.
Dikatakan, salah satu alasan belum difungsikannya gedung pasar baru itu lantaran butuh penataan serta mendata jumlah pedagang. ”Pada intinya masih mendata jumlah pedagang sayur ini berapa, lalu ikan berapa, daging berapa. Belum lagi pedagang kering seperti yang jual baju dan peracangan ini berapa, kita cocokkan dengan kondisi di lapangan,” imbuh dia.
Dari dua lantai itu, rencananya lantai atas buat zona kering. ”Seperti pedagang baju atau kios menjual bapokting (barang pokok penting), sementara lantai bawah sudah pasti sayur, ikan dan sebagainya,” ujar Suwignyo.
Pendataan akan berlangsung hingga pekan depan. Nantinya akan ada pengundian. ”Yang pasti agak sulit, tetapi kita upayakan pengelompokkan seperti itu. Baru kita sosialisasi, lalu diundi di mana saja tempat mereka berjualan nanti,” tutur dia. Menurutnya, diperkirakan awal Maret pendataan sudah kelar. ”Insya Allah paling lambat bulan depan, karena kita juga sekaligus menunggu peresmian pasar dari ibu bupati,” kata Suwignyo. (fid/naz/riz)
Editor : Achmad RW