Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Dikelola Pemprov, Terminal Kepuhsari Jombang Tetap Sepi

Rojiful Mamduh • Senin, 20 September 2021 | 15:30 WIB
Dikelola Pemprov, Terminal Kepuhsari Jombang Tetap Sepi
Dikelola Pemprov, Terminal Kepuhsari Jombang Tetap Sepi


JOMBANG – Hampir setahun Terminal Kepuhsari di Desa Keplaksari, Kecamatan Peterongan diserahkan ke Pemprov Jatim. Sampai sekarang belum ada perubahan signifikan. Setiap harinya aktivitas terminal tetap sepi. Tidak semua bus masuk terminal.



Seperti pantauan Sabtu (18/9) kemarin, tak ada aktivitas mencolok. Hanya beberapa bus jurusan Tuban dan Malang terlihat di area terminal. Hartono Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jombang mengakui, usai diserahkan ke provinsi tahun lalu, pengelolaan terminal Kepuhsari tak lagi menjadi kewenangan pihaknya. kondisi terminal belum ada perubahan. ”Sebenarnya setelah diserahkan memang harus siap. Jadi tidak hanya meminta aset ke kabupaten, tetapi bisa memanfaatkan,” kata Hartono dikonfirmasi, Sabtu (18/9) kemarin.



Setiap harinya, lalu lalang bus yang masuk ke terminal tetap sepi. Kondisi itu berdampak ke mobil angkutan pedesaan ataupun angkutan kota (lyn). Rata-rata angkudes tidak beroperasi di dalam terminal. ”Rata-rata tidak masuk. Maksudnya tidak sampai ke dalam terminal, karena diterminal sepi penumpang,” sambung Hartono.



Diakui, saat ini masih ada sebagian angkutan masih beroperasi. Namun, pihaknya merasa kesulitan mendeteksi trayek mana saja yang kini masih berjalan. ”Karena sepi, akhirnya mereka carinya ya di mana saja. Sebagian juga turun di depan terminal. Akhirnya sekarang tidak bisa terpantau semua,” ujar dia.



Penyebabnya, lantaran sebagian besar sudah mencari lokasi lain untuk mendapatkan penumpang. ”Karena di dalam sudah nggak ada penumpang,” sambung Hartono lagi. Meski demikian, dimulainya PTM (Pembelajaran Tatap Muka) dirasa cukup berdampak. ”Kebetulan sekolah sudah mulai masuk, sekarang mulai menggeliat lagi. Agak lumayan. Karena selama ini mereka lebih banyak jagakno anak sekolah,” lanjut dia.



Dijelaskan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan pemprov terkait pemanfaatan terminal. ”Kami tetap koordinasi dengan UPT. Mau tidak mau masyarakat memandang masih punya kabupaten. Kita sudah minta tolong agar terminal dihidupkan lagi, salah satunya dari bus itu,” tutur Hartono.


Menurutnya, sudah ada respons diberikan provinsi. Namun,dirasa masih belum berdampak signifikan. ”Realisasinya dari arah barat yang sekarang masuk. Cuma dari arah Surabaya belum. Harapan kita paling tidak, ada satu atau dua yang masuk itu beberapa jam saja. Entah sore atau pagi. Karena kalau sore ini lebih banyak penumpang dari Surabaya, akhirnya turun di depan,” kata Hartono.



Pengelolaan Terminal Sudah Masuk Kajian




TERPISAH Yoyok Kristyowahono pelaksana tugas (Plt) Kepala UPT Pengelola Prasarana Perhubungan (PPP) Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Mojokerto Dishub Jawa Timur menuturkan, saat ini masih dilakukan kajian.



”Jadi sekarang masih dikaji. Tidak bisa satu atau dua bulan, karena melihat berbagai aspek,” kata Yoyok dikonfirmasi, Sabtu (18/9) kemarin.



Dijelaskan, ada beberapa rencana yang sudah digodok pihaknya. Tentunya, agar setelah diserahkan ke provinsi ada perubahan di area terminal. Namun, pihaknya terkendala beberapa faktor. Di antaranya personel. ”Yang jelas setelah diserahkan Oktober 2020, itu sampai detik ini kami kekurangan personil. Sebab yang kami tempatkan di sana (Terminal Kepuhsari, Red) nyomot personil di Kertajaya (Mojokerto, Red),” imbuh dia.



Meski demikian, sementara konsep sudah disiapkan. Terutama dari arah Surabaya, agar bus tetap bisa masuk. ”Kalau mau bus ini dua kali crossing. Lampu TL lalu masuk ke terminal. Ini perlu pemikiran, apakah dibuatkan manajemen rekayasa lalu lintas. Sekarang belum ada titik temu,” sambung Yoyok.



Untuk saat ini lanjut dia, masih dilakukan pembahasan. Sebab, konsep itu berkaitan dengan banyak pihak. ”Jadi melibatkan banyak stakeholder. Tapi konsep kita sudah ada,” ujar dia.


Meski demikian, alternatif terakhir bus dari arah Surabaya dibiarkan tak masuk ke terminal. ”Jadi ngeblong. Karena mereka sudah terdeteksi di Kertayaja, kemudian di Anjuk Ladang (Nganjuk, Red),” kata Yoyok.

Editor : Rojiful Mamduh
#berita jombang