Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Pagu Harga Terlalu Mahal, Pengadaan Bibit Pisang Rp 2,1 M Dikritik

Binti Rohmatin • Selasa, 6 Oktober 2020 | 02:53 WIB
Pagu Harga Terlalu Mahal, Pengadaan Bibit Pisang Rp 2,1 M Dikritik
Pagu Harga Terlalu Mahal, Pengadaan Bibit Pisang Rp 2,1 M Dikritik






JOMBANG – Proyek pengadaan bibit pisang mas kirana di Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Jombang mendapat reaksi kalangan pemerhati kebijakan. Salah satu yang hal yang paling disorot adalah pagu anggaran Rp 15 ribu per batang.



“Pagu satuan 15 ribu per bibit itu terlalu mahal, meskipun pakai sistem lelang. Harga satuan eceran umum tak lebih 13.500 per batang, tinggi batang 50 centimeter,” ujar M Djali, aktivis Majelis Rakyat Jombang (MRJ) kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin.



Terkait volume yang mencapai 143 ribu bibit pisang, juga dikritiknya. “Mestinya, disperta pakai pilot proyek satu kecamatan dulu. Mungkin 50 ribu bibit, terus dikembangkan. Betul-betul ditangani serius. Ini kan konyol langsung datangkan 143 ribu bibit,” terangnya.



Terlebih, lanjut Djali, menyiapkan bibit 143 ribu itu tidak mudah meskipun memakai sistem semi kultur jaringan. Karena spesifikasi tinggi 50 centimeter dari dasar polybag dengan empat lembar daun, butuh waktu cukup lama.



“Ini sulit bisa dipenuhi perusahaan. Saya juga punya pengalaman di Nganjuk mengembangkan sistem semi kultur jaringan. Makanya teman-teman serius mengawasi proyek ini,” urainya.



Sebagai bentuk pengawasan, MRJ akan memantau mulai proses lelang hingga pengadaan bibit sampai di Jombang, distribusi ke petani, penanaman hingga perawatan. “Misalnya nanti, ada bibit yang hanya punya dua lembar daun dengan ketinggian 20 centimeter, pasti akan kami persoalkan. Apalagi, saya dengar aparat penegak hukum juga sudah memantau proyek ini,” pungkasnya.



Penelusuran Jawa Pos Radar Jombang ke sejumlah penjual bibit di Kecamatan Ngoro, harga bibit pisang jenis mas kirana Rp 10 ribu, dengan ketinggian antara 30-50 centimeter.



Salah satu penjual bibit pisang Mas Kirana adalah Wasis Purnomo asal Dusun Wedani, Desa Badang, Kecamatan Ngoro. Selain pisang mas kirana, dia juga menjual bibit pisang cavendis. “Kalau ada pesanan jenis lain, kami buatkan sesuai pesanan,” kata Wasis, kemarin.



Dari dua bibit yang dijual, paling mahal bibit pisang jenis cavendis. “Untuk bibit pisang cavendis ini 15 ribu ketinggian 30-50 centimeter,” sebut dia.



Sedangkan bibit pisang jenis Mas Kirana, lanjut dia, lebih murah dibanding cavendis. “Yang bibit pisang mas kirana ini lebih murah, 10 ribu. Ketinggian juga sama antara 30-50 centimeter,” sebut dia lagi.



Dari dua jenis bibit pisang itu, lanjut dia, memiliki waktu panen yang hampir sama. Untuk cavendis, sekira sembilan bulan. “Jadi dari mulai tanam maksimal sembilan bulan sudah panen, petumbuhan tinggi dan tandan panjang,” terang dia.



Biasanya selama dua tahun, rumpun pisang bisa sepuluh kali panen. “Baru kemudian pisang dibongkar, karena banyak anakan itu pengaruh ke kualitas. Jelas semakin tidak bagus,” papar dia.



Dijelaskan, penjualan bibit pisang miliknya memakai metode minibit atau pecah bonggol. “Yang jelas bukan kultur jaringan, kita tidak punya lab. Pakai sistem tradisional, belum sampai pakai teknologi tinggi,” terang dia.



Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan dia juga menjual bibit pisang dengan sistem kultur jaringan. “Kalau pun ada (kultur jaringan, Red) biasanya dapat dari penangkar. Terus kami besarkan di sini, jadi planlet kami beli. Karena sampai sekarang kami belum sampai ke planlet,” terang dia.



Ia menjelaskan, metode minibit terbilang masih tradisional. “Tetapi sudah agak modern. Kalau pakai minibit tunasnya bisa tumbuh banyak, sampai 20 tunas. Kalau pakai bonggol biasa ini hanya tumbuh satu tunas saja,” pungkas dia.



Sebelumnya Kepala Dinas Pertanian Jombang Priadi menjelaskan, pengadaan bibit pisang semi kultur jaringan diperuntukkan untuk empat kecamatan. Masing-masing Kecamatan Mojowarno, Ngoro, Bareng dan Wonosalam.



“Jadi tidak bisa menghitung untuk berapa petani, yang jelas untuk petani di Kecamatan Mojowarno, Ngoro, Bareng dan Wonosalam,” kata Priadi Kepala Disperta Jombang, Rabu (30/9).



Dipilihnya empat kecamatan itu karena beberapa alasan. “Pisang mas kirana ini demplot (demonstrasi plot, Red) di Wonosalam dan Ngoro karena daya tumbuhnya 95 persen. Bisa bertahan hidup selama tiga tahun, sementara pisang cavendis dan raja hanya 65 persen,” ujarnya. .



Dari rencana 143 ribu bibit, lanjutnya, disiapkan untuk lahan seluas 70 hektare. Jumlah itu disebutnya masih kurang banyak. “Kebutuhan kami malah kurang jauh, 143 ribu itu hanya setara 70 hektare. Karena rata-rata per hektare 2.000,” sebut dia.



Ia menyampaikan, pengadaan bibit pisang nanti juga bakal bekerjasama dengan pihak lain. “Untuk Bareng dan Wonosalam kerjasama dengan PT SSN, sementara Ngoro dan Mojowarno bekerjasama dengan Koperasi Inti Mandiri. Ketika sudah berhasil, masyarakat dibimbing sertifikat pisang mas itu,” beber Priadi.



Lantas syarat petani yang bisa menerima bantuan bibit itu memiliki luasan lahan yang sudah ditentukan. “Per pohon jaraknya 2,5 x 3 meter. Sebenarnya yang minta 50-100 banyak sekali,” papar dia.



Menurutnya program tersebut sebagai pancingan awal. Dengan harapan petani bisa mengembangkan sendiri berikutnya. “Ketika mereka merasa beruntung dari pisang, maka bisa dikembangkan melalui anakan. Namanya pindah anakan, tidak perlu sertifikat,” pungkas Priadi.


Editor : Binti Rohmatin