Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Pantang Menyerah! Ini Sosok Lulusan SMK di Jombang yang Tembus Ketatnya Seleksi Kerja ke Jepang

Wenny Rosalina • Sabtu, 13 Juni 2026 | 07:43 WIB
Dwi Khoiruni’mah, perempuan muda kelahiran 19 Juni 2005 asal Jombang berhasil menembus ketatnya seleksi kerja ke Jepang. 
Dwi Khoiruni’mah, perempuan muda kelahiran 19 Juni 2005 asal Jombang berhasil menembus ketatnya seleksi kerja ke Jepang. 

 

JOMBANG – Semangat meraih masa depan yang lebih baik mengantarkan Dwi Khoiruni’mah, perempuan muda kelahiran 19 Juni 2005, menembus ketatnya seleksi kerja ke Jepang. 

Kini, alumnus SMK Budi Utomo Jombang itu bekerja di sektor pengolahan makanan sashimi di Prefektur Nagasaki, Jepang.

Perjalanan warga Gadingmangu Kecamatan Perak menuju Negeri Sakura tidaklah mudah. Perempuan yang pernah menempuh pendidikan di SDN Bibrik 01 Kabupaten Madiun, SMPN Sawahan Kabupaten Madiun, dan SMK Budi Utomo Gadingmangu Jombang itu harus melewati serangkaian tes fisik, wawancara, hingga beberapa kali kegagalan sebelum akhirnya berhasil memperoleh penempatan kerja.

Dwi menceritakan, setelah lulus dari SMK Budi Utomo pada 2023, dirinya sempat merantau ke Solo. Selama 2024 hingga 2025 ia mengajar mengaji dan bekerja di sebuah usaha kuliner sebelum memutuskan mengikuti program pelatihan kerja ke Jepang melalui LPK.

Baca Juga: Lika-liku Perjalanan Hariono, Pedagang Asongan Asal Jombang Menjemput Mimpi Haji Usai 29 Tahun Menabung

Setelah lulus sekolah saya merantau ke Solo. Kemudian pada 2025 saya masuk LPK dan mengikuti berbagai tahapan seleksi untuk bisa bekerja di Jepang,” ujarnya.

Tahapan seleksi yang dijalani tidak sederhana. Ia harus mengikuti tes fisik seperti push up dan sit up, wawancara dengan perusahaan Jepang, hingga seleksi keterampilan. Bahkan dua kali kesempatan kerja yang diincarnya harus kandas sebelum akhirnya diterima di sektor pengolahan makanan sashimi di Nagasaki.

Saya pernah gagal saat wawancara untuk penempatan di Miyazaki dan Aichi. Alhamdulillah pada kesempatan ketiga saya lolos untuk pekerjaan pengolahan makanan sashimi di Nagasaki,” katanya.

Menurut Dwi, tantangan terbesar bekerja di Jepang bukan hanya kemampuan fisik, melainkan kekuatan mental dan kedisiplinan. Ia menilai pekerja asing harus siap menghadapi budaya kerja yang sangat menuntut ketepatan dan tanggung jawab.

Kalau di Jepang itu yang paling penting mental. Orang Jepang sangat disiplin. Kalau kita bekerja lambat atau tidak sesuai standar, mereka akan langsung menegur. Jadi jangan mudah baper atau menyerah,” tuturnya.

Kedisiplinan masyarakat Jepang, lanjut Dwi, terlihat bahkan dari hal-hal sederhana seperti pengelolaan sampah yang harus dipilah sesuai jenisnya. Budaya menghargai ketenangan dan keteraturan juga sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat.

Orang Jepang menghormati warga asing yang sopan dan menghargai aturan. Mereka senang kalau kita menyapa dan berperilaku baik,” ungkapnya.

Saat ini Dwi bekerja di bagian pengolahan makanan sashimi yang dipasarkan melalui jaringan supermarket. Meski telah hampir dua tahun berada di Jepang, ia mengaku masih berstatus peserta program magang teknis atau jisshusei yang memiliki masa kontrak tiga tahun dengan evaluasi berkala.

Ke depan, ia berharap dapat meningkatkan statusnya menjadi pekerja Tokutei Ginou (TG) yang memberikan kesempatan bekerja lebih lama dan memiliki jenjang karier yang lebih baik di Jepang.

Bagi generasi muda yang ingin mengikuti jejaknya, Dwi berpesan agar mempersiapkan kemampuan bahasa Jepang sejak awal. Menurutnya, penguasaan bahasa menjadi kunci untuk beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari maupun lingkungan kerja.

Bahasa Jepang sangat penting karena di sini kita harus mandiri. Naik kereta, berbelanja, mengurus kebutuhan sehari-hari, semuanya membutuhkan kemampuan berbahasa,” ujarnya.

Meski harus hidup jauh dari keluarga, Dwi mengaku betah tinggal di Jepang. Ia menilai peluang kerja yang tersedia lebih terbuka dibandingkan di Indonesia, terutama bagi lulusan sekolah menengah.

Alhamdulillah saya kerasan. Memang sedih jauh dari keluarga, tetapi kesempatan kerja di sini lebih besar. Saya bersyukur bisa mendapatkan pengalaman dan penghasilan yang lebih baik,’’ ungkapnya. (wen/jif)

 

 

Editor : Anggi Fridianto
#kisah inspiratif Jombang #kerja di jepang #alumni smk jombang #magang jepang #Tenaga Kerja Indonesia