JOMBANG – SMPN 2 Megaluh menggelar kegiatan kokurikuler dengan tema kearifan lokal selama lima hari, Senin (20/4) hingga Jumat (25/4).
Kearifan lokal yang dipilih, permainan tradisional gobak sodor dan egrang.
Tujuan utamanya untuk melatih perkembangan motorik, kemampuan interaksi sosial, serta meningkatkan pemahaman dan mempraktikkan nilai-nilai Pancasila.
’’Melalui permainan tradisional para siswa kelas IX dapat belajar banyak hal,’’ kata Kepala SMPN 2 Megaluh, Laily Syarifah SAg.
Mulai dari gotong royong, menghargai keberagaman, berkolaborasi, dan bersikap adil. ’’Serta kemampuan memecahkan masalah melalui partisipasi aktif dalam permainan,’’ terangnya. Kegiatan ini sekaligus menguatkan kompetensi mata pelajaran (mapel) Pendidikan Kewarganegaraan (Pkn) dan Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK).
Peserta dibagi menjadi beberapa tim. Setiap tim harus membuat alat pertandingan melalui bahn-bahan sederhana yang telah disediakan. Serta mendokumentasikan kegiatan mereka dalam bentuk video pendek.
Baca Juga: MPLS di SMPN 2 Megaluh Jombang: Perkuat Pendidikan Karakter dan Berbudaya
’’Para siswa sangat antusias karena mereka mendapat pengalaman baru dengan cara yang berbeda karena memadukan budaya tradisional dengan teknologi saat ini,” ungkap Laily.
Kokurikuler di SMPN 2 Megaluh sesuai dengan standar kompetensi lulusan yang mencakup 8 Dimensi Profil Lulusan. Meliputi keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan YME, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan dan komunikasi.
Ini juga memberi kesempatan kepada murid untuk menganalisis kondisi lingkungan sekitar secara berkolaborasi bersama teman sekelas melalui aksi nyata sebagai solusi dari permasalahan yang dihadapi.
Baca Juga: SMPN 2 Megaluh, Pertahankan Tradisi Juara Lomba Kecamatan
Di hari terakhir setelah pertandingan Grand Final, SMPN 2 Megaluh menggelar refleksi dan tindak lanjut serta asesmen kokurikuler. ”Kami ingin agar para siswa dapat mengambil pelajaran melalui warisan budaya yang mengandung nilai sosial, edukatif, dan moral penting. Serta berpotensi sebagai ruang belajar sosial dalam pembentukan karakter siswa itu sendiri,” paparnya. (dwi/jif)
Editor : Anggi Fridianto