Student Journalism: Mengikis Budaya Bullying

Dwi Aris Supriyanto • Dipublikasikan Senin, 4 Mei 2026 | 07:54 WIB

 

 

Euodia El-Viana Tiaraningsih
Euodia El-Viana Tiaraningsih

 

Bercanda hal wajar dalam pergaulan. Namun, ada kalanya candaan justru menyakitkan dan berubah menjadi bullying atau perundungan.

Beberapa isu di lingkungan sekitar yang menunjukkan batas tipis antara bercanda dan bullying ialah ejekan fisik. Candaan yang sudah mengarah ke bullying biasanya berupa menyinggung, dilakukan berulang-ulang, dan membuat seseorang merasa malu atau tidak dihargai meskipun dibungkus dengan alasan hanya bercanda.

Hardiknas mengingatkan kita, manusia berpendidikan suatu keharusan. Tidak hanya terdidik akalnya, namun juga terdidik hatinya. Melalui pendidikan karakter yang ditanamkan di sekolah, kita belajar berempati.

 

Budaya bullying terjadi karena kurangnya empati, tipisnya moral, dan ketidakmampuan menghargai perbedaan. Dampaknya tidak bisa dianggap remeh. Korban bisa kehilangan percaya diri, merasa tertekan, bahkan menarik diri dari lingkungan sosial.

Sudah seharusnya pendidikan karakter perlu kita tanamkan untuk mengikis budaya bullying yang ada di sekolah.

 

Oleh: Euodia El-Viana Tiaraningsih, Kelas IX SMPN 3 Wonosalam

 

Editor : Anggi Fridianto
Student Journalism Jombang SMPN 3 Wonosalam