Radarjombang.id - Setahun berlalu, puluhan warga korban longsor di Kecamatan Wonosalam masih tinggal di hunian sementara (huntara) tanpa kepastian pembangunan hunian tetap (huntap). Warga berharap pemerintah segera merealisasikan huntap seperti yang dijanjikan.
Ja’i Mulyanto, 40, warga Dukuh Banturejo, Dusun Jumok, Desa Sambirejo, Kecamatan Wonosalam mengatakan dia bersama keluarga sudah tinggal di huntara sejak April 2025. Rumah sempit itu ia tinggali bersama istri, dua anak dan ibunya yang sudah lanjut usia. ”Alhamdulillah kami sehat-sehat. Kemarin Idul Fitri juga di sini,” katanya, Kamis (9/4).
Ia menyebut, hingga saat ini belum ada kejelasan terkait janji pemerintah membangun huntap bagi korban longsor. ”Belum ada informasi atau rapat dengan kabupaten atau desa. Kami masih menunggu saja, jadi tidak tahu sampai kapan di huntara,” imbuhnya.
Ia pun mempertanyakan terkait program pengadaan motor operasional kepala desa, dan berharap pembangunan huntap bagi korban longsor menjadi prioritas. ”Semoga bisa segera dibangun. Lokasinya juga diharapkan aman dan dekat dengan tegalan atau kebun,” ujarnya.
Salah satu yang menjadi keluh kesahnya adalah jarak huntara dengan sekolah anaknya yang jauh. Selain itu, jarak huntara dengan ladangnya juga jauh. ”Kasihan anak-anak sekolahnya jauh, mau dipindah juga kasihan,” imbuhnya. Selama tinggal di huntara, hampir setiap pagi Ja’i kembali ke lokasi rumah lamanya untuk merawat ternak, sebelum kembali ke huntara pada sore hari.
Tidak hanya dirinya, puluhan korban longsor di Dusun Jumok, Desa Sambirejo pada 2024 hingga kini juga masih tinggal di huntara. ”Informasinya korban longsor yang tahun 2024 juga belum dapat huntap, sama masih di tinggal di huntara,” bebernya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Jombang Dian Kusuma Rahmad Subekti melalui Kepala Bidang Perumahan Wahyu Budi Utomo membenarkan, korban longsor 2025 sudah setahun tinggal di huntara. ”Iya, sudah satu tahun menempati huntara,” ujarnya.
Terkait pembangunan huntap, pihaknya menyebut pemerintah masih merencanakan pengajuan studi kelayakan atau FS (feasibility study) melalui Perubahan-APBD (P-APBD) 2026 nanti. Namun demikian, menyesuaikan anggaran. ”Nanti di P-APBD akan kami usulkan untuk FS relokasi. Jika anggaran mencukupi, bisa sekaligus dengan pengadaan lahan. Jika tidak, FS didahulukan, lahan diusulkan tahun berikutnya,” tuturnya.
Disinggung terkait korban longsor tahun 2024 hingga kini juga belum dapat huntara, Wahyu tak menampik. Pembangun huntap rencana akan diusulkan pada 2027. ”Untuk korban longsor 2024 lalu, proses pengadaan lahan huntap sudah selesai. Penataan lahan direncanakan melalui P-APBD 2026. Pembangunan rumah akan kami usulkan 2027,” ujarnya.
Baca Juga: 19 Huntara Korban Longsor Wonosalam Jombang Ditarget Rampung Pekan Ini
Sebelumnya, bencana tanah longsor pertama terjadi 7 Februari 2024 di Dusun Jumok, Desa Sambirejo, kecamatan Wonosalam. Insiden tersebut merusak belasan rumah dan memaksa sedikitnya 36 jiwa dari 13 kepala keluarga harus direlokasi lantara kawasan tersebut dinilai rawan terjadi longsor susulan. Pemkab Jombang menyediakan hunian sementara bagi korban menggunakan anggaran belanja tidak terduga (BTT) dan berjanji membangun hunian tetap bagi korban.
Sementara itu, pada Januari 2025, longsor kembali terjadi, merusak sejumlah rumah dan menelan dua korban jiwa. Sebanyak 28 kepala keluarga direlokasi ke huntara dan hingga kini masih menunggu kepastian pembangunan huntap. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto