Radarjombang.id – Angka putus sekolah (APS) jenjang SMP di Kabupaten Jombang masih tinggi. Dari 73.843 penduduk usia 13–15 tahun, tercatat 0,52 persen atau 384 anak tidak lagi bersekolah.
’’Penyebab putus sekolahnya macam-macam. Putus sekolah karena ekonomi yang paling banyak. Meski sekolah sekarang gratis, kebutuhan pendukung lain tetap perlu biaya,’’ kata Kepala Seksi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Iswahyudi Hidayat, kemarin.
Data tersebut disampaikan melalui E-Book Profil Pendidikan Kabupaten Jombang. APS dihitung berdasarkan peserta didik yang sebelumnya sudah masuk sekolah, namun kemudian berhenti di tengah jalan.
’’Biasanya tiba-tiba tidak sekolah lagi. Ada yang ikut orang tua bekerja, ada yang broken home, dan faktor-faktor lain,’’ terangnya.
Kasus putus sekolah pada jenjang SMP umumnya bukan karena tidak melanjutkan setelah lulus SD. ’’Rata-rata putus di tengah jalan,’’ ujarnya.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang telah melakukan berbagai upaya pencegahan. Mulai dari sosialisasi pentingnya pendidikan, pemberian seragam gratis, hingga pengusulan Program Indonesia Pintar (PIP) bagi siswa yang membutuhkan. Meski begitu, beberapa kasus anak putus sekolah masih terjadi.
’’Sekolah juga diwajibkan melakukan kunjungan ke rumah ketika siswa lama tidak masuk. Bukan hanya sekali dua kali, selama masih ada kesempatan, guru harus turun langsung memberikan pemahaman dan bimbingan agar anak mau kembali sekolah,’’ urainya.\
Namun, tidak semua upaya berjalan mulus. Beberapa anak memang menolak kembali bersekolah. Sementara sebagian lainnya pindah mengikuti orang tua tanpa memberikan laporan ke sekolah. Hal ini membuat sekolah dan dinas kerap kecolongan dalam pendataan.
Iswahyudi menegaskan, kesempatan untuk kembali bersekolah selalu terbuka. ’’Selama anak itu memiliki keinginan, kami sangat terbuka dan siap membantu prosesnya. Jangan sampai ada anak Jombang yang kehilangan hak pendidikan,’’ tegasnya. (wen/jif)
Editor : Anggi Fridianto