Radarjombang.id - SMKN Mojoagung merayakan Hari Guru Nasional dengan cara yang sederhana namun penuh makna, Selasa (25/11).
Kepala SMKN Mojoagung, Panca Sutrisno, menjelaskan peringatan tahun ini sengaja dirancang untuk menonjolkan kebersamaan antara guru dan murid.
”Di SMKN Mojoagung, kita melaksanakan peringatan yang sederhana tapi bermakna,” ujarnya.
Kegiatan dimulai dengan upacara bendera, di mana seluruh petugas upacara mulai dari pemimpin barisan, pengibar bendera, hingga pembawa acara semuanya merupakan bapak dan ibu guru.
Setelah upacara, sekolah menampilkan pertunjukan sederhana yang juga sepenuhnya diinisiasi para guru.
Setelah upacara ada penampilan paduan suara, karaoke yang dipersembahkan oleh guru, drama kolosal Bela Pati Dyah Pitaloka menjadi puncak acara hari guru kemarin, guru berdandan lengkap ala kerajaan disambut meriah seluruh siswa yang menyaksikan.
Juga ada penampilan band siswa, dan jaranan yang dibawakan siswa.
”Ada drama kolosal, menyanyi, dan baca puisi yang dipersembahkan untuk murid SMKN Mojoagung. Harapannya, tidak ada sekat antara guru dan murid.
Dalam kebersamaan itu, proses belajar mengajar akan lebih bermakna,” terang Panca.
Ia menegaskan kemajuan sekolah tidak hanya diukur dari fasilitas, tetapi dari pemahaman bersama antara guru dan siswa tentang makna belajar.
Karena itu, pada Hari Guru Nasional, ia mengajak para guru untuk merayakan dengan cara yang sederhana namun meriah.
”Kapan lagi bapak ibu guru menampilkan ekspresi di hadapan murid-murid kita?,” tambahnya.
Baca Juga: Refleksi Hari Guru 2024: Kembalikan Jati Diri dan Karakter Pendidikan Kita
Panca juga menyoroti perkembangan era digital dan media sosial yang membuat batas antara guru dan siswa semakin tipis. Menurutnya, pendidikan karakter saat ini membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan era 1970-an.
”Yang terpenting guru nyaman, murid nyaman, perlindungan guru dan murid terlaksana. Tetap kita terapkan karakter menghormati sesama guru dan menghargai murid, begitu pula murid menghargai bapak ibu guru.
Dari sanalah kolaborasi akan terbangun,” jelasnya.
SMKN Mojoagung di biasakan setiap pertemuan antara guru dan murid selalu dibiasakan salim, sebagai bentuk tawaduk dan penghormatan kepada guru yang menjadi orang tua di sekolah.
”Kita tularkan kebiasaan baik ini, sebab yang namanya mendidik lebih cenderung pada pembentukan karakter anak didik,” tegas Panca.
Mengapresiasi dan Mendukung Kreativitas Inovasi Guru
Selain menonjolkan kebersamaan antara guru dan siswa, peringatan Hari Guru Nasional di SMKN Mojoagung juga menjadi momentum untuk menegaskan peran besar kreativitas dan prestasi para guru.
Kepala SMKN Mojoagung, Panca Sutrisno, menyampaikan, para guru di sekolahnya memiliki capaian yang sangat beragam. Mulai dari inovasi pembelajaran hingga kontribusi profesional di luar sekolah.
’’Prestasi bapak ibu guru banyak sekali, kreativitasnya bermacam-macam. Seperti kemarin, ada diklat pembelajaran mendalam. Guru kami ada yang berinovasi agar siswa tetap bisa berdaya lenting setelah lulus, bukan hanya kompeten secara teknis tapi juga berjiwa wirausaha,’’ paparnya.
Konsep daya lenting bagi lulusan menjadi fokus penting. Siswa tidak hanya dibekali kemampuan sesuai kompetensi keahlian. Tetapi juga ditanamkan mental adaptif dan inovatif agar mampu bertahan dalam tantangan era globalisasi.
’’Pembelajaran harus bisa menerapkan jiwa wirausaha, agar hidup di masyarakat mereka tidak kekurangan akal dan mampu bertahan di era sekarang,’’ tambahnya.
Sebagai pimpinan, ia membuka kesempatan seluas-luasnya bagi para guru untuk berkembang. Setiap ada diklat, pelatihan, atau kesempatan peningkatan kompetensi, sekolah selalu memberi ruang dan dukungan penuh.
’’Jangan sampai guru seperti katak dalam tempurung. Dunia sekarang tidak ada batas. Guru harus berwawasan luas, tidak boleh hanya berwawasan itu-itu saja. Inovasi dan kreativitas yang kami harapkan,’’ tuturnya.
Banyak guru di SMKN Mojoagung tidak hanya berkiprah di lingkungan sekolah. Tetapi juga aktif sebagai asesor di Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), narasumber kewirausahaan, hingga diminta berbagai lembaga untuk membagikan ilmu dan pengalamannya. Hal ini menunjukkan, kualitas guru-guru SMKN Mojoagung telah diakui secara luas.
’’Selama untuk pengembangan kompetensi, kami tidak pernah membatasi kreativitas guru. Justru harus kita dorong dan kita dukung. Jangan sampai mengkerdilkan kreativitas mereka,’’ tegasnya. (wen/jif)
Editor : Anggi Fridianto