Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Beli Properti Ratusan Ribu Rupiah, Tak Ada Tindak Lanjut, Soal Rencana Pemkab Jombang Memburu Rekor MURI Jaranan Dor

Wenny Rosalina • Selasa, 30 April 2024 | 14:20 WIB
Ilustrasi kesenian jaranan dor. Pemkab Jombang kembali menyiapkan ribuan siswa di Jombang pecahkan rekor MURI lewat Jaranan Dor tahun ini
Ilustrasi kesenian jaranan dor. Pemkab Jombang kembali menyiapkan ribuan siswa di Jombang pecahkan rekor MURI lewat Jaranan Dor tahun ini

RadarJombang.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Jombang terlalu berambisi mengejar rekor MURI, tanpa melihat dampak KBM dan tindak lanjutnya.

Belum lagi, orang tua siswa yang merasa terbebani karena harus membeli properti jaranan hingga Rp 100 ribu per unit.

”Korelasinya tidak ada tindak lanjut, karena pada MURI-MURI sebelumnya, setelah gebyar rekor MURI, tidak ada lagi tindak lanjut,” kata salah satu kepala SD yang enggan disebutkan namanya saat ditemui koran ini.

Menurutnya, setiap rencana MURI memiliki sisi plus minus.

Berkaca pada MURI-MURI sebelumnya, tidak ada tindaklanjut yang dilakukan dinas atas kemampuan siswa.

”Misalnya diundang kembali untuk tampil kan bisa. Selama ini yang diundang hanya SD-SD besar saja, SD kecil seperti kami jarang dilibatkan,” ungkap dia.

Belum lagi keluhan wali murid yang merasa keberatan karena harus membeli properti untuk memecahkan rekor MURI.

Seperti Tari Remo sebelumnya harus beli sampur, MURI Ishari harus beli songkok dan sekarang jaranan dor juga harus membuat. Karena tidak bisa membuat ya akhirnya beli lagi.

”Ya orang tua nabraknya ke kami, bolak-balik kok iuran beli ini-itu, begitu keluhan wali murid yang sering kami dengar,” bebernya.

Jika nanti sampai hari H siswa belum memiliki jaranan, maka akan diadakan melalui dana BOS.

Padahal, pengeluaran sekolah sendiri untuk kegiatan pembelajaran dan operasional lainnya semakin besar.

Baca Juga: Langkah Dinas P dan K Memburu Rekor MURI Jaranan Dor Dinilai Memberatkan Sekolah dan Ganggu Proses Belajar Siswa

Belum lagi ketika harus datang ke titik tampil, juga memerlukan biaya untuk transportasi.

Mengangkut siswa dengan mobil juga perlu sewa kendaraan yang tidak sedikit.

Termasuk honor untuk pelatih, konsumsi setiap latihan. Bahkan, semua ekstrakurikuler mandek karena seluruh jadwal diisi dengan latihan jaranan dor.

”Karena harus latihan jaranan dor setiap hari, setiap latihan juga menyediakan air minum, ke lokasi juga butuh transportasi dan butuh konsumsi,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu pengurus komite SD mengaku keberatan dalam kegiatan MURI jaranan dor.

Sebab, pada kegiatan MURI-MURI sebelumnya dinilai gagal, tidak ada nilai plus untuk sekolah maupun siswa sendiri.

”Hanya gebyarnya saja, setelah itu sudah tidak ada apa-apa lagi,” keluhnya.

Apalagi orang tua dibebankan untuk membuat atau membeli properti yang digunakan.

Bagi siswa SD kan tidak bisa membuat sendiri. Guru-guru yang jumlahnya terbatas juga tidak mungikin membuatkan. Sehingga kondisi ini memaksa siswa harus membeli di luar.

“Belum lagi harga jaranan yang sekarang naik, tidak semua orang mampu beli dengan mudah, tidak semua orang tua mampu bikin jaranan sendiri,” tegasnya.

Untuk satu jaranan ukuran kecil sekarang dijual dengan harga 35.000. Sedangkan jaranan yang ukuran besar dijual lebih mahal hingga Rp 100.000 per unit.

Tak hanya di Jombang, jaranan inipun diburu hingga ke Kediri dan Nganjuk.

Baca Juga: Tanggapan Sepi, Nasib Jaranan Dor Kesenian Asli Jombang Saat Ini

Harga satuan jaranan ini belum termasuk urunan transportasi, konsumsi, biaya make up, dan lain-lain yang dibebankan sekolah dan orangtua.

Menanggapi rasan-rasan rencana jaranan dor ini Senen Kepala Dinas P dan K Jombang menganggap, MURI jaranan dor dilakukan untuk pengajuan warisan budaya takbenda.

”Harapannya tercatat di Muri dapat mendukung pengusulan penetapan warisan budaya tak benda. Jadi agar jaranan dor tidak diklaim budaya daerah lain,” katanya.

Menurutnya, muri jaranan dor memiliki korelasi dengan implementasi kurikulum merdeka. Sebab budaya daerah bisa menjadi salah satu pembelajaran literasi budaya.

Mengenai banyaknya wali murid yang keberatan jika harus membeli properti jaranan. Senen menegaskan tidak harus membeli.

Siswa bisa membuat jaranan sendiri dengan barang-barang di sekitar, sebagai bentuk karya P5 di semua sekolah.

”Kami sama sekali tidak pernah ada intruksi beli, bahkan sudah dibuatkan video tutorial membuat jaranan yang bisa dicontoh, mungkin ada miskomunikasi,” ungkapnya.

Jika di hari H nanti siswa belum memiliki properti jaranan, dia membolehkan siswa menggunakan gagang sapu sebagai pengganti.

”Boleh pakai gagang sapu, tidak masalah, lagipula membuat replika jaranan ini sebagai bentuk prakarya P5 siswa dalam implementasi kurikulum merdeka,” jelasnya lagi.

Termasuk tutor khusus untuk mengajar tari jaranan, menurutnya bisa dilakukan guru sendiri karena sudah ada video yang bisa dijadikan contoh, baik guru maupun siswa.

Sedangkan latihan jaranan di hari literasi pada jam literasi sehingga tidak mengganggu jam belajar yang lain.

”Dalam satu minggu, ada satu hari jam literasi, waktu itu bisa dimanfaatkan, agar tidak mengganggu jam pelajaran,” pungkas Senen. (wen/bin/fid)

Editor : Ainul Hafidz
#Dor #rekor #dinas P dan K #SD #siswa #Jombang #SMP #Pemkab #kepala #muri #jaranan