’’Setiap ada yang keluar, harus ada pengganti yang baru,’’ kata Senen, kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, kemarin.
Saat ini, ada 582 pembimbing mulok keagamaan dan 577 pembimbing mulok diniyah untuk jenjang SD di Kabupaten Jombang.
Jumlah itu fluktuatif setiap bulan. Sebab, pembimbing mulok sering keluar masuk. Jumlah itu dinilai ideal menurut Senen. Sebab, jumlah lembaga SD 518, jika satu kelas satu pembimbing, maka jumlah itu sudah mencukupi. ’’Tapi ada juga satu sekolah yang lebih dari satu, biasanya sekolah yang kelasnya pararel,’’ ucapnya.
Pada jenjang SD, peggantian pembimbing mulok tidak harus menunggu perekrutan secara masal dari Dinas P dan K. Pembimbing yang mengajukan keluar harus membawa calon pengganti.
Sekolah juga bisa mencari sendiri calon penggantinya, hanya saja harus tetap mengajukan ke dinas, untuk menurunkan tim seleksi. Hingga kini, kurang lebih ada 30 sekolah yang mengajukan penggantian pembimbing mulok ke dinas.
Beberapa alasan yang membuat pembimbing sering ganti adalah karena mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik. Juga karena menikah, pindah alamat, bahkan karena tidak bisa masuk ke dapodik, juga menjadi salah satu pertimbangan.
Pembimbing mulok hingga kini belum bisa masuk dapodik. Sehingga tidak bisa mendaftar sebagai PPPK maupun CPNS. Pembimbing mulok bekerja dengan surat tugas dari dinas P dan K. ’’Kami juga tidak bisa mengikat, karena apa yang kami berikan juga belum maksimal,’’ tegasnya. (wen/jif/riz) Editor : Achmad RW