Drama kolosal itu dipersembahkan dalam perayaan Kemerdekaan RI ke-77 di SDN Brudu Sumobito, Sabtu (20/8) pagi. Sejak pagi, halaman sekolah sudah terlihat ditata bak medan perang. Mereka mengenakan pakaian khas pejuang, ada pula yang berperan sebagai penjajah.
Adegan pun dimulai. Anak-anak memerankan kondisi setelah kemerdekaan hingga terjadinya agresi militer Belanda. Seorang anak berperan sebagai Bung Tomo yang membakar semangat para pemuda Surabaya untuk melawan penjajah. Adegan penyobekan bendera Belanda di Hotel Oranje, hingga aksi tembak-tembakan sangat seru.
“Kita hari ini memang menggelar drama kolosal, cerita perjuangan arek-arek Suroboyo, adegan kita mainkan semua, mulai kemerdekaan, penjajah datang sampai penyobekan bendera,” ungkap M Alfansuri pendamping siswa.
Ia sengaja mengajak anak-anak untuk memerankan adegan perjualan di November 1945 itu. Alasannya, selain untuk memperingati Kemerdekaan RI, kegiatan itu sekaligus memberi pelajaran sejarah kepada anak-anak dengan cara berbeda. “Kita ingin mengajak anak-anak belajar sejarah melalui seni peran, dengan anak sebagai subjek, bukan sekadar objek,” lontarnya.
Sebelumnya, sejumlah latihan juga dilakukan. Ada empat kali latihan yang digelar hingga gladi bersih. “Menyenangkan melihat perkembangan mereka. Dalam peran tadi memang ada yang ketawa-ketawa, tapi ya itulah aslinya dunia mereka,” pungkasnya. (riz/bin) Editor : Achmad RW