’’Alasan utama merger karena kekurangan murid dan guru,’’ kata Senen, kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, kemarin.
SDN yang dimerger tersebar di lima kecamatan. Di Kecamatan Jombang, SDN jelakombo 1 dan 2 menjadi SDN Jelakombo. SDN Candimulyo 1 dan 3 menjadi SDN Candimulyo. SDN Pulolor 1 dan 2 menjadi SDN Pulolor.
SDN Pulolor 3 dan 4 menjadi SDN Pulolor 3. SDN Sambongdukuh 1 dan 2 menjadi SDN Sambongdukuh 1. SDN Jombang 1 dan 2 menjadi SDN jombang 2. SDN Denanyar 1 dan 2 menjadi SDN Denanyar 1.
SDN Jombatan 4 dan 5 menjadi SDN Jombatan. SDN Tugukepatihan 1 dan 2 menjadi SDN Tugukepatihan. SDN Sengon 1 dan 2 menjadi SDN Sengon. Di Kecamatan Ploso, SDN Jatibanjar 1 dan 2 menjadi SDN Jatibanjar. SDN Bawangan 1 dan 2 menjadi SDN Bawangan.
Sementara di Kecamatan Megaluh, SDN Sumberagung 1 dan 2 menjadi SDN Sumberagung. SDN Balongsari 1 dan 2 menjadi SDN Balongsari. SDN Gongseng 1 dan 2 menjadi SDN Gongseng. Di Kecamatan Sumobito, SDN Talunkidul 1 dan 2 menjadi SDN Talunkidul. Di Kecamatan Kesamben, SDN Jombatan 1 dan 3 menjadi SDN Jombatan.
Alasan lain merger karena Jombang masih kekurangan guru. ’’Harapannya setelah merger, siswa lebih banyak, kebutuhan guru juga terpenuhi,’’ ungkap Senen. Penggabungan dua SD menjadi satu membuat manajemen anggaran juga lebih mudah.
Setelah 34 SD tersebut dimerger menjadi 17 SD, penataan guru di dapodik akan segera dilakukan. Jumlah SDN yang ada di Kabupaten Jombang yang mulanya 492 lembaga, kini menjadi 475 lembaga. (wen/jif/riz) Editor : Achmad RW