Gus Irfan Yusuf Boarding Pass Kebangkitan NU

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 06:20 WIB
 


KH Zainul Ibad As’ad (Gus Ulib)
KH Zainul Ibad As’ad (Gus Ulib)
 
Oleh: Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan, Jombang, KH Zainul Ibad As’ad (Gus Ulib)

Gus Irfan sebagai alternatif paling solutif untuk kebangkitan NU, mengingat NU yang selama lima tahum ini terpuruk dititik nadir paling parah akibat ulah saling hasut dari para pemimpinnya.

Bagi banyak warga Nahdlatul Ulama, KH Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan dipandang sebagai salah satu figur yang membawa semangat pembaruan sekaligus menjaga kesinambungan nilai-nilai perjuangan para muassis NU.

Dengan berpegang pada warisan KH Hasyim Asy’ari, kepemimpinan yang berlandaskan ilmu, akhlak, dan pengabdian diharapkan menjadi bekal untuk menghadapi tantangan zaman.

Baca Juga: Gus Irfan dan Tongkat Estafet NU Mbah Hasyim

Dalam perspektif tersebut, Gus Irfan dapat diibaratkan sebagai “boarding pass NU menuju Indonesia Emas”, sebuah metafora yang menggambarkan harapan agar NU semakin berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia yang maju, berdaya saing, berakhlak, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman, kebangsaan, serta persatuan.

Ungkapan “boarding pass NU menuju Indonesia Emas” adalah kiasan yang mencerminkan harapan dan visi besar warga nahdhiyin.

Gus Irfan dikenal sebagai cucu langsung Mbah Hasyim pendiri NU dan saat ini mengemban amanah di bidang penyelenggaraan haji di pemerintahan RI.

Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, sosok Gus Irfan patut diperhatikan.

Baca Juga: Gus Irfan dan Agenda Besar NU Abad Kedua

Di tengah derasnya perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta tantangan global yang semakin kompleks, NU membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memahami tradisi, tetapi juga mampu menerjemahkan nilai-nilai ahlussunnah wal jamaah ke dalam bahasa zaman.

Dalam konteks itulah nama Gus Irfan menjadi salah satu figur yang patut diperhitungkan.

Lahir dari rahim Pesantren Tebuireng dan tumbuh dalam lingkungan keluarga pendiri NU, Gus Irfan bukan sekadar mewarisi nama besar.

Ia tumbuh bersama tradisi intelektual dan perjuangan yang telah menjadi fondasi organisasi ini selama hampir satu abad.

Namun yang lebih penting, ia berusaha membuktikan bahwa keturunan ulama tidak cukup hanya mengandalkan garis nasab.

Kepemimpinan harus dibangun melalui kerja nyata, pengabdian, dan kemampuan menjawab kebutuhan umat.

Ya, pengalaman panjangnya di dunia pesantren, organisasi, ekonomi umat, hingga pemerintahan memberi modal yang tidak dimiliki banyak tokoh.

Baca Juga: Gus Irfan dan Harapan Kepemimpinan Baru PBNU untuk Menyongsong Indonesia Emas 2045

Ia memahami denyut kehidupan pesantren dari dalam, mengenal dinamika organisasi, dan memiliki pengalaman mengelola kebijakan publik di tingkat nasional.

Kombinasi tersebut menjadikannya sosok yang mampu menjembatani kepentingan jam’iyah, jamaah, dan negara.

Sebagai Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Gus Irfan juga menunjukkan pendekatan kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan.

Ia menegaskan penyelenggaraan haji harus menjadi layanan publik yang aman, tertib, profesional, dan menjaga martabat jamaah Indonesia.

Berbagai penguatan kebijakan dan inovasi pelayanan haji yang diperkenalkan menunjukkan cara pandang yang modern tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan dan pengabdian.

Selain itu, NU masa depan membutuhkan pemimpin yang mampu membawa organisasi ini naik kelas tanpa kehilangan jati dirinya.

NU tidak cukup hanya menjadi penjaga tradisi keagamaan.

NU harus menjadi kekuatan peradaban yang mampu melahirkan gagasan besar di bidang pendidikan, ekonomi, teknologi, lingkungan, kesehatan, dan diplomasi kebudayaan.

Indonesia Emas 2045 tidak mungkin dicapai tanpa keterlibatan aktif organisasi masyarakat terbesar di negeri ini.

Di sinilah relevansi figur Gus Irfan.

Ia hadir sebagai representasi perpaduan antara tradisi dan modernitas.

Di satu sisi, ia memiliki legitimasi historis sebagai cucu Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Baca Juga: Minta Pelaksanaan Haji Berjalan Baik, Gus Irfan Ingatkan Pejabat Daerah Ikuti Aturan Dengan Benar

Di sisi lain, ia menunjukkan kapasitas untuk bergerak dalam arena kebijakan nasional yang menuntut profesionalisme, efisiensi, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.

Muktamar ke-35 NU di Tambakberas bukan hanya momentum memilih ketua umum.

Lebih dari itu, muktamar merupakan kesempatan menentukan arah perjalanan organisasi menuju abad kedua NU.

Pilihan terhadap pemimpin akan menentukan bagaimana NU menjawab tantangan bonus demografi, disrupsi digital, krisis lingkungan, hingga perubahan geopolitik dunia Islam.

Jika NU ingin tetap menjadi rumah besar umat yang relevan bagi generasi muda, maka organisasi ini membutuhkan kepemimpinan yang mampu menggerakkan energi kaum santri ke ruang-ruang produktif.

Generasi muda NU harus diajak menjadi pelaku inovasi, pengusaha, ilmuwan, birokrat, dan pemimpin bangsa yang berakhlak.

Gagasan besar itu membutuhkan figur yang dapat diterima berbagai kalangan, mampu merangkul perbedaan, dan memiliki visi kebangsaan yang kuat.

Tentu, pemilihan Ketua Umum PBNU adalah hak para muktamirin.

Namun dalam arena gagasan, nama Gus Irfan layak dipertimbangkan sebagai salah satu kandidat yang menawarkan kombinasi langka antara akar tradisi pesantren, pengalaman organisasi, jejaring nasional, dan kemampuan manajerial.

Ia bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan potensi pemimpin masa depan.

Karena itu, metafora “boarding pass NU menuju Indonesia Emas” relevan dengan sosok Gus Irfan.

Boarding pass bukan tujuan akhir, melainkan tiket untuk memasuki perjalanan besar.

Dan perjalanan besar NU menuju abad kedua pengabdian membutuhkan nakhoda yang memahami sejarah, membaca masa kini, serta mampu menatap masa depan dengan optimisme.

Dalam hal ini, Gus Irfan merupakan salah satu figur yang memiliki bekal tersebut untuk membawa NU terus terbang tinggi, mengabdi kepada umat, menjaga Indonesia, dan menyiapkan generasi emas yang akan mewarisi ne

Editor : Achmad RW
Muktamar NU 2026 Ketua Umum PBNU Gus Irfan Yusuf KH Mochamad Irfan Yusuf NU Indonesia Emas