Oleh Ahmad Afifuddin (Santri PP Al-Madienah Denanyar)
Selasa (3/3/2026) di Pondok Pesantren Al-Madienah, Denanyar, Jombang, KH Muhammad Najib Muhammad, selaku pengasuh, mengisi kajian kitab Arbain Nawawi. ’’Gusti Allah itu menyedikitkan hitungan dosa dan memperbanyak hitungan baik,’’ tutur Abah Najib mengutip hadist ke-37.
Rasulullah Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah menetapkan adanya kebaikan dan kejelekan, kemudian Dia menjelaskannya. Barangsiapa yang berniat untuk mengerjakan amal kebaikan namun belum terlaksana, maka Allah akan catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Dan jika dia berniat untuk kebaikan dan mengerjakannya, maka Allah akan catat baginya dengan 10 kebaikan hingga 700 kali lipat, bahkan sampai berlipat–lipat banyaknya. Sebaliknya, apabila dia berniat untuk mengerjakan amalan kejelekan namun belum terlaksana, maka Allah akan catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Dan apabila dia berniat untuk kejelekan dan mengerjakannya, maka Allah akan mencatat baginya satu kejelekan saja (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam transaksi kita terbiasa dengan hukum, "Anda dibayar dengan apa yang ada hasilkan". Itu sangat berbanding terbalik dengan isi hadis ini.
Alam semesta didesain dengan pondasi Ar-Rahman Ar-Rahim. Allah Ta’ala memasang bonus besar-besaran untuk setiap amal baik dan memberikan pajak seminim mungkin untuk setiap amal kejelekan.
Logika ini kita dapat kita tancapkan sebagai perhitungan hidup yang seharusnya menghancurkan rasa putus asa manusia. Saat manusia ingin berbuat jahat lalu ia terhenti karena sadar atau takut Allah, ia justru mendapatkan poin kebaikan sempurna.
Hadis ini mengajak kita untuk selalu berencana baik. Karena dalam kamus Allah, berniat baik saja sudah merupakan sebuah kemenangan. Mengingatkan pada hadis yang pertama, innamal a'malu binniyat, sesungguhnya segala perbuatan bergantung pada niat. Ini menegaskan bahwa nilai ibadah dan amal perbuatan seseorang ditentukan oleh niat di hatinya. Apakah untuk mencari rida Allah atau lainnya.
Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan, apakah anda sering mengalami rasa takut akan kesalahan dan lupa serta takut dihakimi?
Pasti manusia akan merasakan hal yang begitu. Takut akan salah, lupa dalam hal apapun, dan juga tentang keterpaksaan. Padahal di dalam Islam, terdapat satu pesan agung yang menenangkan jiwa laksana angin segar yang meruntuhkan ketakutan tersebut. Dalam hadist ke-39 Arbain Nawawi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ’’Sesungguhnya Allah membiarkan (mengampuni) kesalahan dari umatku akibat kekeliruan dan lupa serta keterpaksaan (Hadis Hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al Baihaqi).
Ini bukan sekadar aturan hukum. Ia adalah cermin nyata dari sifat Ar-Rahman Ar-Rahim. Manusia bukan makhluk sempurna. Ia bisa lupa, keliru, bahkan berada dalam situasi tertekan. Sering kali, dalam kehidupan sosial, kita lebih cepat menghakimi daripada memahami. Padahal, Allah sendiri membuka ruang maaf atas hal-hal yang berada di luar kendali manusia.
’’Ngunu kuwi anugrah Gusti Allah, welas nang makhluke,’’ tutur Abah Najib.
Ar-Rahman Ar-Rahim bukan sekadar nama yang kita baca di awal salat. Tetapi fondasi cara Allah memperlakukan hamba-Nya. Ia melipatgandakan kebaikan, menyederhanakan hukuman, dan mengampuni kekhilafan. Di tengah hidup yang sering membuat kita takut salah dan merasa tidak cukup baik, hadis-hadis ini mengajarkan satu hal penting. Yaitu jangan pernah putus asa untuk berniat dan berbuat baik. Karena dalam lautan Ar-Rahman Ar-Rahim, rahmat-Nya selalu lebih luas daripada kesalahan kita.
Kasih-Nya masih teramat luas, melampaui batas logika manusia dan tak akan pernah cukup dijelaskan hanya dengan kata-kata. Semakin kita menyelaminya, semakin kita sadar bahwa yang terbentang di hadapan kita bukan sekedar hitungan pahala dan dosa, melainkan samudra cinta Ilahi yang tak bertepi.
Editor : Anggi Fridianto