Oleh Muhammad Dzikron SA MH (Waka Kesiswaan SD Islam Tebuireng Ir Soedigno Kesamben)
Kebanyakan di bulan Ramadan orang-orang hanya fokus pada ibadah individu. Memperbanyak ibadah ilahiyah seperti itikaf, salat malam dan baca Alquran. Dengan alibi menahan lapar dan haus serta berkurangnya tenaga menjadikan mereka malas melakukan ibadah basyariyah.
Terkesan selfish dalam beribadah.
Padahal Allah Ta’ala secara gamblang menyebutkan tujuan utama puasa agar bertakwa (QS Al-Baqarah 183).
Takwa tidak semata-mata dimaknai sebagai kesalehan ritual. Melainkan kesadaran moral. Kesadaran penuh yang membuat seseorang stabil dalam sikap dan jernih dalam mengambil keputusan. Takwa merupakan resiliensi bagi seseorang untuk sabar dalam menghadapi tekanan atau masalah yang dihadapi.
Takwa menuntut apa yang kita perbuat dan apa yang kita ucapkan harus berdasarkan kepada kebaikan dihadapan Allah untuk memperoleh rida-Nya. Kita harus jujur tidak berdusta.
Berbicara baik tidak kasar atau menyinggung. Peduli terhadap sesama, merasakan penderitaan dan kesulitan orang lain. Puasa sejatinya instrument pendidikan dalam membentuk karakter dan moral sosial.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam: ’’Puasa adalah perisai, maka janganlah berkata kotor dan jangan berbuat bodoh. Jika ada orang yang mencaci atau menantangnya berkelahi, katakanlah, 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa'." (HR Bukhari dan Muslim).
Sepatutnya ketika orang berpuasa maka tertanam dalam pikiran dan jiwanya hal-hal kebaikan yang menjadi cerminan sikap kebijaksanaan.
Realita sosial kita justru menyuguhkan paradoks. Ajaran agama yang seharunya membuat sesorang berada dalam bulan kebaikan mengejar kesalehan ritual dan berimplikasi pada kebaikan moral sosial, secara bersamaan masih banyak orang melakukan tindakan bodoh. Mudah tersulut emosi. Tak segan terlibat perselisihan
. Melakukan kecurangan, terlebih di era digital. Media sosial yang seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana menyebarkan syi’ar dan kebaiakan justru sebagai senjata memecah belah dan mencaci.
Serta masih banyak kezaliman yang lain. Bahkan kurangnya empati dan kepedulian terhadap sesama muslim apalagi orang lain.
Ada jarak yang begitu jauh antara kesalehan ritual dengan kesalehan sosial. Kesalehan sosial harunya melahirkan kebaikan sosial, justru membuat orang egois pada ibadahnya terkadang membuat orang merasa suci dan menganggap sebagian yang lain buruk dan diabaikan.
Padahal puasa memiliki aspek sosial yang kuat. Menahan lapar dan dahaga adalah agar kita bisa merasakan dan memahami kesusahan orang lain yang tidak setiap hari bisa makan cukup dan layak. Masih banyak orang yang hidup serba kekurangan.
Lalu sedekah di bulan puasa dijadikan oleh Allah lebih utama dan dilipatgandakan pahalanya dibanding bulan lain. Ini agar kita belajar dan semangat dalam berbagi. Serta memberikan harapan dan kebahagian kepada orang lain terlebih orang miskin untuk bisa minikmati hidangan yang enak.
Menjelang Hari Raya ada ibadah wajib di bulan Ramadan yaitu zakat fitrah. Sebagian mengeluarkan zakat hanya sebagai rutinan ibadah tahunan.
Atau bahkan ia berzakat untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa ia termauk orang yang mampu.
Padahal maqashid syariah (tujuan disyariatkannya) zakat fitrah bukan sekedar mensucikan jiwa orang yang berpuasa. Tetapi juga pembelajaran untuk menanamkan rasa empati dan kepedulian orang miskin. Mencukupi kebutuhan pangan fakir miskin saat hari kemenangan Idul Fitri.
Zakat membantu sosial-ekonomi masyarakat, mewujudkan kemaslahatan (kebaikan) umat dengan memelihara jiwa (hifzh al-nafs) dan harta (hifzh al-māl).
Memastikan kebahagiaan bersama saat merayakan kemenangan di Hari Raya Idul Fitri.
Ramadan tidak boleh hanya jadi momentum tahunan sebagai ritual perayaan singkat yang berlalu begitu saja.
Tetapi harus menjadi pemantik semangat kebersamaan meraih kemulian dan kepedulian sosial yang akan terus berlanjut setelah Ramadan. Sehingga memperoleh inti dari ibadah puasa. Namun, jika Ramadhan hanya sekedar perubahan jadwal makan dan tidur serta sebagai bentuk keegoisan dalam beribadah dan memandang rendah orang lain, maka ada pembelajaran yang belum tuntas.
Editor : Anggi Fridianto