Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Dari Lapar ke Luhur, Ramadan dan Internalisasi Nilai Kejujuran  

Rojiful Mamduh • Sabtu, 7 Maret 2026 | 09:31 WIB

 

Photo
Photo

Oleh: Ahmad Khotim SHI MSy (Guru Hadis SMP A Wahid Hasyim Tebuireng)

 

Puasa ibadah yang sangat personal. Tidak ada yang benar-benar tahu seseorang berpuasa atau tidak, kecuali dirinya dan Allah Ta’ala. Di situlah letak pendidikan kejujuran yang paling autentik.

Tujuan puasa untuk mencetak pribadi bertakwa. Takwa tidak mungkin lahir tanpa kejujuran. Takwa merupakan kesadaran batin bahwa Allah Maha Melihat, bahkan ketika manusia tidak melihat. Inilah inti integritas. Bagi para siswa dan siswi di bangku sekolah pertama, Ramadan bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan. Ia madrasah karakter.

Usia remaja awal fase pencarian jati diri. Nilai kejujuran menjadi fondasi penting. Tanpa kejujuran, kecerdasan bisa melahirkan manipulasi. Tanpa integritas, prestasi hanya menjadi angka-angka kosong.

Puasa mengajarkan bahwa pengawasan tertinggi bukanlah guru, orang tua, atau kamera pengawas. Melainkan kesadaran diri (self-control). Seorang siswa atau siswi bisa saja minum diam-diam ketika tidak ada yang melihat. Tetapi ketika ia memilih tetap berpuasa, itulah latihan integritas yang sesungguhnya. Dari lapar yang ditahan, lahirlah keluhuran akhlak. Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya) (HR. Bukhari).

Ini menjadi pengingat keras bahwa puasa tanpa kejujuran adalah kehilangan rohnya. Spirit Ramadan harus terhubung dengan perilaku nyata, termasuk dalam dunia pendidikan.

Di lingkungan sekolah, nilai ini menjadi sangat relevan. Tantangan kejujuran siswa atau siswi hari ini tidak sederhana. Godaan mencontek saat ujian, memanipulasi tugas berbasis internet, hingga budaya ’’asal jadi” dalam mengerjakan pekerjaan rumah merupakan realitas yang tak bisa dipungkiri. Di era digital, akses informasi begitu mudah. Tetapi kemudahan itu sering kali menggerus batas antara belajar dan menyalin.

 

 QS At-Taubah 119 mengingatkan dengan tegas: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.

Ini bukan sekadar ajakan moral, tetapi perintah identitas jadilah bagian dari komunitas orang jujur. Di sinilah pentingnya budaya sekolah. Kejujuran bukan hanya urusan individu, tetapi atmosfer kolektif yang harus dibangun bersama-sama.

Pesantren Tebuireng memiliki modal spiritual dan historis yang kuat. Warisan moral para kiai menjadi fondasi pendidikan karakter. Hadratus Syekh KH M Hasyim Asy'ari dalam kitabnya Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim menekankan pentingnya keikhlasan dan kejujuran dalam menuntut ilmu. Beliau mengingatkan bahwa ilmu tidak akan membawa keberkahan jika dicari dengan niat yang tidak lurus atau cara yang tidak benar. Pelajar harus menjauhi dusta dan tipu daya. Karena kebohongan akan memadamkan cahaya ilmu dalam hati. Pesan ini sangat kontekstual bagi siswa masa kini. Mencontek mungkin memberi nilai tinggi sesaat, tetapi menghilangkan keberkahan jangka panjang.

Nabi juga menegaskan; Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga. (HR Bukhari dan Muslim).

Kejujuran bukan hanya soal etika sosial, tetapi jalan keselamatan. Dalam konteks sekolah, ia adalah jalan menuju kemuliaan karakter. Karena itu, Ramadan dapat menjadi gerakan moral yang terstruktur. Misalnya, program ’’Ujian Jujur Tanpa Pengawas Ketat’’ sebagai latihan integritas. Guru memberi kepercayaan, siswa membalas dengan tanggung jawab. Kepercayaan adalah pendidikan yang paling dewasa.

Kegiatan Ramadan seperti tadarus, kajian kitab, muhasabah malam dapat diarahkan pada tema kejujuran akademik dan sosial. Siswa diajak merefleksikan: Apakah puasanya sudah membentuk kejujuran dalam tugas? Apakah lisannya sudah bersih dari dusta? Apakah ia sudah berani berkata benar meski berisiko? Kejujuran juga dimulai dari hal kecil: Datang tepat waktu, mengakui kesalahan, tidak membuat alasan palsu. Dari kebiasaan kecil lahir karakter besar. Ramadan menyediakan 30 hari pelatihan intensif. Jika konsisten, ia akan menjadi kebiasaan yang mengakar.

Internalisasi nilai tidak cukup dengan ceramah. Ia memerlukan keteladanan. Guru adalah cermin. Transparansi dalam penilaian dan keadilan dalam perlakuan adalah contoh nyata pendidikan karakter. Dalam tradisi Islam, keteladanan (uswah hasanah) lebih kuat dan efektif  daripada sekadar instruksi. Ramadan juga melatih empati. Lapar membuat siswa memahami penderitaan orang lain. Dari empati lahir kesadaran untuk tidak mengambil hak orang lain. Tidak berbuat curang, dan tidak menyakiti sesama. Kejujuran menjadi bagian dari solidaritas sosial. Di tengah budaya instan dan pragmatis, pendidikan kejujuran adalah investasi jangka panjang. Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang dirindukan adalah generasi berintegritas. Jika sejak usia sekolah nilai ini telah tertanam, kelak mereka akan menjadi pemimpin amanah dan profesional yang dipercaya.

Ramadan memberi peluang emas. Ia datang setahun sekali, tetapi dampaknya bisa abadi. Dari lapar menuju luhur. Dari sekadar ritual menuju karakter. Sebab pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan hanya meluluskan siswa atau siswi dengan nilai tinggi, tetapi melahirkan manusia yang jujur. Dan kejujuran itulah yang menjaga ilmu tetap bercahaya. Sebagaimana pesan Hadrotus Syekh, ilmu harus dijaga dengan adab. Dan adab yang paling mendasar adalah kejujuran. Tanpa itu, ilmu kehilangan rohnya.

Dari lapar yang sederhana, lahirlah keluhuran yang agung. Dari Ramadan yang dijalani dengan kesadaran, tumbuh generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga jujur dalam niat. Jujur dalam ucapan, jujur dalam tindakan. Itulah harapan bagi pendidikan kita, dan bagi masa depan bangsa.

 

 

Editor : Anggi Fridianto
#ibadah #Jombang #Puasa