Oleh Najwa Arifah (Santriwati PP Al-Madienah, Denanyar)
Kala ngaji kitab Asrarus Soum qobla sahur di Pondok Pesantren Al-Madienah, Denanyar, Jombang, Kamis (26/2/2026), KH Muhammad Najib Muhammad, selaku pengasuh menjelaskan inti puasa.’’Nak, ruh e poso iku dudu mung nahan mangan lan ngelak, tapi ngelemesno kekuatan hawa nafsu sing dadi dalane setan mlebu,’’ tuturnya.
Kekuatan hawa nafsu berawal dari makan yang berlebihan. ’’Kowe ojok akeh-akeh mangan, mundak kedoman gak enak e,’’ lanjutnya dengan senyuman kecil. Maksudnya, hal yang enak jika berlebihan nantinya akan menjadi tidak enak dan tidak baik.
Penjelasan tersebut diperkuat dengan pandangan ulama terdahulu. Seperti Hasan al-Basri yang menyatakan bahwa kenikmatan makan yang sejati dirasakan saat seseorang itu benar-benar dalam keadaan lapar.
Abah Najib menambahkan, ’’Enake mangan kuwi nek kowe lagi butuh, dudu nek kowe mung nuruti kepingin. Nek wis wareg kok isih nambah, iku dudu nikmat, tapi wiwitan penyakit.”
Pesan tersebut mengaitkan aspek spiritual dan kesehatan sekaligus. Secara medis, makan berlebihan dapat memicu kolesterol, gangguan metabolisme, dan berbagai penyakit lainnya. Secara rohani, perut yang terlalu kenyang dapat mengeraskan hati dan melemahkan kepekaan jiwa.
Beliau lalu mengutip hadis Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim, tentang larangan berlebih-lebihan. Rasulullah bersabda; ’’Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan,” diulang hingga tiga kali sebagai bentuk penegasan.
Setelah membacakan hadis tersebut, beliau berkomentar. ’’Nabi nganti ngendiko ping telu kuwi tandane serius. Wong sing ngluwihi batas kuwi mesti rugi, entah rugi kesehatan, rugi akhlak, utawa rugi akhirate.’’
Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa sikap melampaui batas selalu membawa konsekuensi.
Pembahasan kemudian meluas tentang watak dunia yang terbatas. Dunia yang hadir dalam kenikmatan yang bercampur dengan ketidaknikmatan.
’’Ojo gumun karo dunyo,’’ ujar beliau. ’’Seneng e dunyo mesti dicampuri ora seneng e. Omah siji karo liyane ana watese, provinsi siji karo liyane ana watese, nganti negarone kaya Indonesia sing saka Sabang tekan Merauke yo ana watese. Kabeh ana batas e,’’ tambahnya.
Begitu pula dengan makan. Tubuh manusia memiliki kapasitas yang terbatas. Ketika batas itu dilampaui, dampaknya justru merugikan diri sendiri.
Dalam hadis yang diriwayatkan Sunan al-Tirmidzi dan Sunan Ibnu Majah disebutkan, tidak ada wadah yang lebih buruk yang dipenuhi oleh manusia selain perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang menegakkan tulang punggungnya. Jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara. Pembagian ini menunjukkan keseimbangan yang luar biasa antara kebutuhan fisik dan ruang bagi tubuh untuk berfungsi dengan baik.
Dari majelis sederhana menjelang sahur itu, para santri tidak hanya memperoleh ilmu, tetapi juga kesadaran tentang arti batas dalam kehidupan. Puasa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada banyaknya yang dimiliki, melainkan pada kemampuan menahan dan mengendalikan diri.
Dunia dengan segala kenikmatannya hanyalah sementara dan selalu memiliki sisi yang tak sempurna. Karena itu, sikap secukupnya menjadi kunci keselamatan lahir dan batin. Dengan menjaga perut, hati pun ikut terjaga. Dengan membatasi diri, jiwa menjadi lebih merdeka. Ramadan menjadi ruang latihan untuk menata nafsu, agar manusia hidup lebih seimbang, sehat, dan penuh keberkahan.
Editor : Anggi Fridianto