Oleh: Muhammad Adib Hazimul Fikri (Santri PP Al-Madienah, Denanyar)
Kala ngaji qobla sahur di Pondok Pesantren Al-Madienah, Denanyar, Jombang, Rabu (25/2/2026), KH Muhammad Najib Muhammad atau Abah Najib, selaku pengasuh menyampaikan kiat mendapatkan Lailatul Qadar. ’’Jika kamu sanggup menjaga salat Isya berjamaah dan dilanjutkan dengan salat Subuh berjamaah secara rutin, maka kamu sudah dianggap mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar,’’ tuturnya.
Abah Najib memberikan pesan penting kepada para santri untuk mulai bersiap menyongsong sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Beliau menjelaskan bahwa tanda-tanda atau kemungkinan hadirnya Lailatul Qadar tidak hanya terbatas pada bulan puasa saja. Terdapat kaitan yang unik dimana kehadiran malam mulia tersebut juga dapat ditandai melalui momentum sepuluh hari di bulan lainnya. Seperti pada tanggal 10 Dzulhijjah dan 10 Muharram.
Ijtihad ulama dan prediksi tanggal.
Meskipun Lailatul Qadar adalah rahasia Allah Ta’ala, Abah Najib memaparkan beberapa pendapat ulama sebagai motivasi bagi para santri agar lebih giat beribadah. Merujuk pada pendapat Imam Syafi'i, malam mulia ini diprediksi sering kali jatuh pada malam tanggal 21 atau 23 Ramadan. Selain itu, terdapat rumus menarik yang dikaitkan dengan hari pertama dimulainya puasa untuk membantu umat lebih waspada dalam beribadah:
Jika puasa dimulai pada hari Sabtu, Lailatul Qadar diprediksi jatuh pada malam ke-23. Jika dimulai pada hari Ahad atau Rabu, maka jatuh pada malam ke-29. Jika dimulai pada hari Senin, jatuh pada malam ke-21. Jika dimulai pada hari Selasa atau Jumat, jatuh pada malam ke-27. Jika dimulai pada hari Kamis, jatuh pada malam ke-25.
Kuncinya adalah istikamah.
Di balik berbagai perbedaan pendapat mengenai tanggal Lailatul Qadar, Abah Najib menekankan satu pesan yang sangat menenangkan agar para santri tidak perlu merasa khawatir atau bingung. Beliau memberikan resep sederhana namun luar biasa: ’’Jika kalian istiqamah beribadah di malam Ramadan pasti mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar,’’ tuturnya.
Ini mengajarkan bahwa kuncinya adalah keistikamahan dalam beribadah. Allah Ta’ala tidak menuntut kita untuk menebak tanggal secara akurat. Melainkan menuntut kehadiran hati dan fisik kita dalam ibadah yang konsisten. Dengan menjaga salat berjamaah Isya dan Subuh, kita telah membangun kesiapan spiritual yang cukup untuk menerima anugerah malam yang lebih baik dari seribu bulan tersebut.
Pengajian ini mengajak kita semua untuk mengubah fokus; dari sekadar mencari ”kapan” waktunya, menjadi memperbaiki ’’bagaimana’’ kualitas istikamah kita. Lailatul Qadar akan menghampiri mereka yang setia dalam sujudnya di setiap malam.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam memberi contoh paling sempurna dalam mengejar Lailatul Qadar. Di antaranya dengan menghidupkan 10 malam terakhir Ramadan.
Aisyah radiyallahu anha menyatakan; Apabila masuk sepuluh malam terakhir (Ramadan), Nabi mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.
Makna ’’mengencangkan sarung’’ ditafsirkan ulama sebagai bersungguh-sungguh dalam ibadah dan menjauhi urusan dunia.
Nabi selalu beriktikaf pada sepuluh malam terakhir untuk fokus ibadah dan mencari Lailatul Qadar.
Agar mendapat Lailatul Qadar, Nabi mengajarkan doa yang dibaca setiap malam Ramadan: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni. Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.
Editor : Anggi Fridianto