Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Menggapai Seribu Bulan dalam Satu Malam

Achmad RW • Minggu, 1 Maret 2026 | 05:12 WIB

Zelvira Wulandari Subekhti, Santriwati PP Al-Madienah Denanyar
Zelvira Wulandari Subekhti, Santriwati PP Al-Madienah Denanyar

Kala ngaji qabla sahur di Pondok Pesantren AL-Madienah, Denayar, Jombang, Selasa (24/2/2026), KH Muhammad Najib Muhammad selaku pengasuh menerangkan tentang iktikaf dan keutamaan 10 malam terakhir Ramadan.

Iktikaf merupakan ibadah yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan cara berdiam diri di masjid disertai niat yang ikhlas.

Selama iktikaf bisa memperbanyak ibadah seperti salat sunah, membaca Alquran, berzikir, berdoa, serta melakukan muhasabah (introspeksi diri).

Iktikaf melatih kesungguhan hati, kesabaran, serta menjauhkan diri dari kesibukan duniawi agar lebih fokus beribadah.

QS Al-Baqarah ayat 187 menjelaskan tentang orang-orang yang beriktikaf di masjid.

Aisyah radiyallahu anha meriwayatkan, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam senantiasa melaksanakan iktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

Setelah wafatnya Rasulullah, para istri beliau pun melanjutkan amalan tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa iktikaf adalah ibadah yang sangat dianjurkan (sunah muakkadah), khususnya pada akhir Ramadan.

Sepuluh hari terakhir Ramadan memiliki keutamaan yang sangat besar karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar.

Rasulullah bersabda; Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.

Hadis ini mendorong umat Islam untuk meningkatkan ibadah pada malam-malam tersebut.

’’Pokok rajin salat Isya dan Subuh setahun penuh pasti oleh Lailatul Qodar,’’ kata Abah Najib.

Sebagaimana disebutkan di QS Al-Qadr, malam Lailatul Qadar nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Ibadah yang dilakukan pada malam itu nilainya lebih utama daripada ibadah selama lebih dari 83 tahun.

Pada malam itu, Alquran pertama kali diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia.

Malaikat-malaikat turun ke bumi membawa keberkahan dan kedamaian hingga terbit fajar.

Allah Ta’ala juga memuliakan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Rasulullah bersabda; Tidak ada hari-hari dimana amal saleh lebih dicintai Allah melebihi sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

Di dalamnya terdapat Hari Arafah (9 Dzulhijjah) yang memiliki keutamaan besar.

Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang bagi yang tidak berhaji.

Pada bulan Muharam, terdapat hari Asyura (10 Muharam) yang juga memiliki nilai istimewa.

Rasulullah bersabda; Puasa pada hari Asyura dapat menghapus dosa setahun yang telah lalu.

Hal ini menunjukkan bahwa Allah memberikan kesempatan di waktu-waktu tertentu agar manusia memperbanyak amal dan meraih ampunan-Nya.

Rasulullah juga memberikan teladan kepedulian sosial, terutama di bulan Ramadan.

Rasulullah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat di bulan Ramadan.

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari disebutkan, Rasulullah lebih dermawan daripada angin yang berembus.

Hal ini menunjukkan bahwa selain meningkatkan ibadah pribadi seperti iktikaf, seorang muslim juga dianjurkan untuk memperbanyak sedekah dan membantu sesama.

Suatu hari, ada anak kecil menangis karena tak punya ayah dan baju baru Lebaran.

Nabi lalu mengangkatnya sebagai anak dan membelikan baju baru. Ini  mengajarkan pentingnya kepedulian sosial.

Rasulullah sosok yang sangat lembut terhadap anak-anak dan kaum yang lemah. Beliau bersabda; Orang-orang yang menyayangi akan disayangi oleh Allah Ta’ala.

Ramadan menjadi momen yang tepat untuk menumbuhkan rasa empati, mempererat ukhuwah, serta berbagi kebahagiaan kepada mereka yang membutuhkan.

Dengan memahami keutamaan iktikaf, Lailatul Qadar, sepuluh hari pertama Dzulhijjah, serta hari Asyura di bulan Muharam, kita diajak untuk lebih bijak memanfaatkan waktu.

Waktu-waktu istimewa tersebut adalah kesempatan emas untuk meningkatkan ketakwaan.

Memperbanyak amal saleh. Serta memperbaiki hubungan dengan Allah maupun sesama manusia.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menghidupkan malam-malam istimewa dengan ibadah yang penuh keikhlasan dan mendapatkan rida Allah Ta’ala. (*)

Penulis:
Zelvira Wulandari Subekhti
Santriwati PP Al-Madienah Denanyar

Editor : Achmad RW
#Lailatul Qadar #Ramadan #ibadah #seribu bulan