Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Ramadan dan Reaktualisasi Budaya Literasi  

Wenny Rosalina • Rabu, 25 Februari 2026 | 08:09 WIB

 

Photo
Photo

Oleh: Nanik Chafidloh SPdI (Guru MIN 1 Jombang)

 

Dalam diskursus keagamaan kontemporer, Ramadan kerap dipotret secara dominan sebagai bulan ritualistik: Fase menahan lapar dan dahaga, salat tarawih. Serta peningkatan eskalasi amal filantropi (tindakan berbagi atau kedermawanan, zakat, infak, sedekah). Seluruh ekspresi tersebut tentu bernilai positif dan menjadi indikator meningkatnya kesalehan sosial. Namun, terdapat dimensi lain yang sering luput dari pengamatan mendalam, yakni dimensi intelektualitas. Jika dicermati secara sosiologis dan teologis, Ramadan sejatinya momentum penguatan literasi nasional yang paling organik.

Ramadan bukan sekadar periode transisi pola makan. Melainkan sebuah ’’festival literasi’’ tahunan yang berlangsung serempak. Hubungan ontologis antara bulan suci dengan aktivitas membaca ditegaskan dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 185: Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).

Penegasan Alquran diturunkan pada bulan Ramadan sebagai hudan (petunjuk) dan furqan (pembeda) mengindikasikan bahwa fungsi utama bulan ini pencerahan akal budi. Artinya, Ramadan memuat mandat epistemologis: Membangun kesadaran kritis dan memperkuat fondasi pengetahuan umat.

Tradisi tadarus yang menggema di masjid, musala, hingga ruang-ruang virtual bukan sekadar aktivitas auditif (mendengarkan suaranya saja atau melafalkannya tanpa pikiran yang hadir). Ia merupakan latihan ketekunan kognitif dalam berinteraksi dengan teks otoritatif. Di tengah rendahnya indeks literasi bangsa yang kerap menjadi sorotan, Ramadan justru menghadirkan fenomena unik: Jutaan orang membaca teks suci secara konsisten setiap hari. Ini adalah energi sosial yang sangat besar, yang jika dikelola secara visioner dapat bertransformasi menjadi gerakan literasi yang berkelanjutan.

Namun, literasi dalam Islam tidak berhenti pada tataran teknis membaca (resitasi). Ramadan mendorong transformasi dari sekadar mengeja huruf menuju pemahaman substansi. Melalui berbagai forum kajian—mulai dari kultum singkat hingga diskusi teologis yang lebih mendalam—umat diajak melakukan tadabbur. Allah Ta’ala berfirman di QS An-Nisa ayat 82: Maka tidakkah mereka mentadabburi Alquran?

 Baca Juga: Nyalagames: Inovasi Berbasis Kearifan Lokal Kalimantan Tengah

Ini merupakan kritik terhadap keberagamaan yang mekanis dan tanpa refleksi. Dalam konteks kekinian, Ramadan menjadi jeda dari hiruk-pikuk informasi dangkal, sekaligus ruang untuk mengaktifkan kembali nalar kritis dan kedalaman batin.

Secara historis, fondasi peradaban Islam diletakkan pada bulan Ramadan melalui wahyu pertama: ’’Iqra’ bismi rabbikalladzī khalaq” (QS Al-‘Alaq 1).

Perintah ’’Iqra’’ adalah mandat intelektual yang menempatkan membaca sebagai titik awal transformasi peradaban. Simbolisme ini mempertegas bahwa Ramadan bukan hanya momentum spiritual, tetapi juga kebangkitan intelektual. Membaca dalam makna luas—membaca teks, membaca realitas, membaca diri sendiri—merupakan fondasi kemajuan umat.

Manifestasi literasi Ramadan juga merambah ke ranah tulisan. Banyak akademisi, pendidik, hingga dai memanfaatkan bulan ini untuk menulis refleksi, esai, atau catatan pencerahan. Menulis adalah proses konsolidasi gagasan; Ia mengubah pengetahuan menjadi kesadaran yang lebih mapan. Program edukatif seperti pesantren kilat dan kajian intensif bagi generasi muda turut menjadi persemaian habitus literasi yang sehat.

Refleksi akhirnya terletak pada keberlanjutan. Sangat disayangkan apabila gairah intelektual Ramadan bersifat musiman—menggema di bulan suci, lalu meredup selepas Idul Fitri. Ramadan seharusnya dipandang sebagai laboratorium kedisiplinan intelektual.

Jika semangat membaca, memahami, dan menulis dapat diinternalisasi menjadi karakter kolektif sepanjang tahun, maka Ramadan telah menjalankan fungsinya sebagai katalisator kemajuan bangsa. Pada akhirnya, kedekatan manusia dengan Tuhannya tidak hanya diukur dari panjangnya doa, tetapi juga dari ketajaman akal yang terus diasah demi kemaslahatan bersama.

 

 

Editor : Anggi Fridianto
#budaya literasi #Ramadan #Jombang #reaktualisasi