Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kolom Gus Zu'em: "Gaess, Aku di IKN"

Achmad RW • Senin, 7 Oktober 2024 | 12:59 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

MALAM itu MTQ Nasional ke 30 di Samarinda akan ditutup. Semula, saya berencana hadiri acara tersebut. Tapi batal.

Karena pukul 17.30, posisi saya masih di Tenggarong bersama para muhibbin Darul’Ulum. City tour di ibu kota Kutai Kartanegara yang lengang (untuk ukuran Jawa).

Kami juga singgah menikmati senja di Kedai Pandan. Rumah makan yang unik. Berada di permukaan air sungai Mahakam.

Di atas bekas kapal ponton yang dulu dimanfaatkan untuk menyeberangkan kendaraan, ketika jembatan Kartanegara ambruk pada tahun 2011.

Konsepnya mirip The Folly Restourant yang “mengunggulkan” pemandangan Sungai Thames Inggris.

Tapi kedai di jalan tepian pandan ini lebih sensasional, karena kita bisa merasakan goyangan ombak sungai yang mengayun pelan.

Selain itu, kita bisa mendapat angle yang cantik bila kita mengambil gambar dengan background  jembatan Kartanegara yang terpanjang di Kalimantan itu (710 m).  

Menunya didominasi ikan-ikan sungai. Saya pilih yang belum pernah saya makan : sate payau (daging rusa).

Saya yakin para pembaca juga banyak yang belum merasakannya. Dagingnya empuk, teksturnya halus dan aromanya khas. Sedaplah pokoknya.

Kapan-kapan saya traktir di sana. Pascapilgub. Jika adik saya terpilih..Hehe..

Jelang maghrib, kami kembali ke Samarinda. Singgah sebentar di masjid Kampung Pinang untuk maghriban

Jamaahnya sangat ramai. Tapi rata-rata naik mobil atau sepeda motor. Pejalan kakinya sedikit, padahal di tengah perkampungan.

Karena di kawasan seputar masjid As Syuhada itu, dulunya  merupakan lokasi transmigran dari Bali yang ibadahnya tidak di masjid.

Setiba di hotel, saya langsung istirahat untuk melepas lelah.

Ini penting, karena besok saya akan melakukan perjalanan panjang melalui rute yang pertama kali saya tempuh : mengunjungi kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang sedang berproses.  

Sesuai rencana, 16 September pukul 09.00, kami berangkat ke Sepaku, Penajam Paser Utara menuju lokasi IKN.

Alhamdulillah, ibu Kepala Dinas Pariwisata Kaltim telah mengajukan izin ke PUPR dan otorita IKN untuk 10 orang.

Sehingga kami bisa berombongan dalam dua mobil. Saya semobil dengan Kadispar bersama staf, sementara mobil satunya diisi alumni. 

Jarak yang kami tempuh 125 km, seperti Jombang-Malang lewat Mojosari.

Dari jarak tersebut, yang 65 km via jalan tol Samarinda-Balikpapan, turun di gerbang Samboja.

Bila melewati tol Jatim, saya biasanya menyempatkan diri untuk istirahat. Karena jalannya halus dan rata sehingga laju mobil bisa lebih nyaman.

Tapi di tol sana, saya sulit tidur. Jalannya memang halus, numun karena contur tanahnya yang bergerak, menjadikan permukaan aspal tidak rata, bergelombang.

Seperti melewati jalan perumahan yang banyak polisi tidurnya. Sementara para driver dan penumpang di Kaltim, tampaknya sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu.

Akibatnya, meski jalan bergelombang, tetap saja melaju di atas 100 km/jam.

Begitu pulalah driver Pajero nopol KT-36 yang saya tumpangi. Maka tidak ada pilihan lain, kecuali saya harus menikmatinya dengan suka cita.

Sekira jam 11.40, kami sampai di rest area IKN yang terletak di seberang Titik Nol yang sudah dibongkar.

Di situlah semua mobil pengunjung harus diparkir untuk kemudian penumpangnya diangkut bus ulang-alik menuju kawasan istana presiden.

Kami berhenti sebentar. Menunggu pengawalan dari satgas IKN.

Karena hanya mobil pengunjung yang berizin yang boleh masuk. Kebetulan saat itu merupakan hari pertama dibukanya IKN untuk umum.

Dalam kawalan seorang tamtama mengendarai trail, kami memasuki lokasi IKN yang jalannya berkelok-kelok dan naik turun mengikuti contur tanah pegunungan.

Jarak yang kami tempuh dari rest area ke istana sekira 3 km. Di kiri-kanan jalan dengan 6 lajur kendaraan itu, terdapat kawasan hijau dan lahan yang siap bangun serta gedung-gedung dalam proses penyelesaian.

Saya tak membayangkan seluas itu areanya. Karena selama ini, yang terlihat di medsos hanya fokus pada istana dengan ornamen garudanya yang menunduk.

Sehingga ada yang bilang : garuda itu harusnya berdiri tegak. Masak menunduk seperti kelelawar gitu.  

Padahal kalau dilihat dari dekat, yang tampak adalah seekor burung garuda dengan sikap melindungi istana negara di dada dengan kepala dan sayapnya seperti sedang memberi rasa aman pada yang dilindunginya.  

Dari depan istana, saya melanjutkan pendakian ke Taman Kusuma Bangsa yang berjarak kira-kira 500 m.

Taman dengan 2 patung proklamator yang masing-masing dilatarbelakangi sayap terpisah.

Di antara kedua sayap itulah nun jauh disana tampak istana garuda yang diantarai 3 plasa : Seremoni, Sipil dan Bhinneka. Ketiganya tercakup dalam area  Sumbu Kebangsaan.

Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Selamat Datang di Jombang

Di taman tersebut saya bertemu rombongan kafilah MTQ dari Sulawesi. Mereka sibuk berfoto bergantian.

Ada seorang perempuan (sepertinya peserta dewasa) yang bikin vlog sambil bilang : “Gaeess.. aku di IKN... subhanallaah.. indah sekali calon ibu kota kita ini... baru calon saja sudah indah, apalagi kalau sudah jadiann... heheh.. iyah, kayak aku ma kamuhh..”

Saya di dekatnya hanya bisa membatin : “Beruntung sekali calon suaminya.. andai saja....”

Wallahu-a’lam bishshsawab. (*)

 

Editor : Achmad RW
#Kalimantan #Kolom Gus Zuem #IKN