Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Manajemen Risiko di Lapas: Antara Kemanusiaan dan Keamanan

Achmad RW • Kamis, 16 Mei 2024 | 14:16 WIB

Opini di Jawa Pos Radar Jombang
Opini di Jawa Pos Radar Jombang
 

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) merupakan lembaga pemerintahan yang menaungi permasalahan pembinaan dan pembimbingan terhadap narapidana yang sudah terbukti bersalah di pengadilan.

Sehingga di dalam lapas, narapidana mendapatkan pembinaan dan pembimbingan oleh petugas pemasyarakatan seperti pelatihan kerja, kegiatan rohani dan konseling.

Tujuannya, agar narapidana dapat memperbaiki kesalahan yang telah dilakukannya.

Serta dapat menyadari kesalahannya sehingga dalam dirinya tertanam, bahwa pentingnya perubahan menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Tentunya di dalam lapas tidak semua hal berjalan dengan mulus.

Contohnya saja antara keamanan dan kemanusiaan.

Tentunya di balik jeruji besi terdapat berbagai risiko yang mengancam keamanan dan stabilitas di dalam lapas hal ini tidak dapat dihindarkan.

Oleh karena itu, diperlukan manajemen risiko di setiap lapas.

Karena dengan adanya manajemen risiko memiliki peran yang sistematis.

Untuk mengidentifikasi, menganalisis dan menanggulangi potensi bahaya yang dapat mengganggu kelancaran operasional dan membahayakan keselamatan.

Pentingnya manajemen risiko di lapas bukan hanya formalitas saja melainkan kebutuhan yang harus diwujudkan di lingkungan tersebut agar aman dan terkendali.

Baca Juga: Kembali ke Masyarakat: Tantangan dan Harapan Mantan Narapidana

Risiko seperti peredaran narkoba, pelarian, dan kerusuhan ini tidak bisa dihindarkan di dalam lapas.

Oleh karena itu, manajemen risiko sangat penting untuk menghadapi masalah tersebut.

Adapun pencegahan agar masalah tersebut bisa diredam yaitu:

  1. Pencegahan terhadap peredaran narkoba di lapas.
  2. Adanya sistem pendeteksi dini seperti penggeledahan rutin terhadap narapidana dan CCTV di setiap sudut di lapas agar petugas mudah untuk memantau aktivitas narapidana.
  3. Adanya pengawasan yang ketat terhadap keluar masuknya barang yang dibawa oleh pengunjung.
  4. Adanya kerja sama oleh pihak lapas dengan aparat penegak hukum lainnya guna untuk memutus rantai jaringan peredaran narkoba.
  5. Pencegahan terhadap pelarian narapidana di lapas.
  6. Meningkatkan kualitas pembinaan terhadap narapidana di dalam lapas.
  7. Memberikan sanksi yang tegas, sehingga narapidana tidak berani melakukan hal tersebut.
  8. Membuat sistem keamanan bersama dengan masyarakat yang berada di sekitar lapas.
  9. Pencegahan terhadap kerusuhan yang terjadi di lapas.
  10. Memberikan hak-hak dasar narapidana di dalam lapas dengan sepenuhnya.
  11. Melakukan penguatan sistem keamanan di dalam lapas.
  12. Melakukan pendekatan komunikasi yang baik antara petugas dan narapidana agar terhindar dari kerusuhan di dalam lapas.

Dengan demikian, diperlukan penerapan manajemen risiko di lapas dan keseriusan dari semua pihak terkait.

Mulai dari kepemimpinan lapas, petugas pemasyarakatan, hingga instansi terkait lainnya.

Kolaborasi dan kerja sama menjadi elemen krusial untuk menggabungkan sumber daya dan keahlian yang ada.

Dengan begitu, terciptanya keamanan yang kondusif, damai serta menghormati HAM di dalam lapas membutuhkan keterlibatan berbagai elemen.

Seperti masyarakat, petugas pemasyarakatan dan narapidana itu sendiri.

Sehingga hal-hal yang tidak diinginkan yang mungkin terjadi di dalam lapas dapat dihindarkan.

Kemudian lapas bisa melakukan yang terbaik dalam pembinaan dan pembimbingan terhadap narapidana.

Agar narapidana dapat diterima kembali oleh masyarakat dengan sepenuhnya dan bisa memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Penulis:
Dicky Arief Endriansah 
Taruna Politeknik Ilmu Pemasyarakatan

Editor : Achmad RW
#lapas #Manajemen Risiko #Narapidana