’’Fa ummuh hawiyah.’’ Orang yang timbangan amal buruknya lebih berat, kelak akan disiksa di neraka Hawiyah.
Dalam surah ini, redaksinya bukan disiksa, melainkan ’’ummuh’’ ibunya adalah Hawiyah.
Lantas tergambar, bahwa saking terkurungnya, hingga dia seperti ada di dalam perut ibunya ketika menjadi bayi dan ibunya itu neraka Hawiyah.
Bayi yang ada di dalam perut ibu dalam kondisi sangat lemah.
Makan saja harus ada asupan. Jika tidak ada, maka dia akan mati.
Orang durhaka tersebut kelak tidak bisa keluar dari neraka seperti bayi yang ada dalam rahim ibunya.
Bahkan, seperti bayi yang ada dalam ayunan sang ibu. Dia tidak berdaya apa-apa.
Terserah siapa yang menggendong, mau dilempar, dibanting, maka si bayi hanya pasrah saja.
’’Fa ummuh hawiyah’’ adalah bahasa tamsilan yang sangat mendalam (baligh).
Bahasa sindir yang mengandung arti sangat menyeramkan, di mana kedekatan dia dengan neraka Hawiyah seperti kedekatan bayi dengan ibunya.
Dengan paparan model ini, arahnya agar manusia makin berhati-hati dalam berbuat sesuatu.
Baca Juga: Kiamat (7)
’’Wa ma adrak ma hiyah.’’ Ketika manusia tidak mengerti tentang apa itu ’’hawiyah’’, maka Tuhan sendiri yang menjelaskan.
Bahwa Hawiyah adalah ’’nar hamiyah’’ neraka yang panasnya terus menerus meningkat dan tidak bisa dipadamkan.
Tidak ada yang bisa mengukur derajat panasnya.
Hawiyah itu membinasakan apa saja yang bersentuhan dengannya.
Ada redaksi yang berbeda, ketika Tuhan menggambarkan balasan baik dan balasan buruk.
Orang-orang yang amal kebajikannya banyak, dikatakana sebagai ’’Fa wuw fi ‘isyah radliyah.’’
Sedangkan orang yang amal buruknya banyak, dikatakan sebagai: ’’Fa ummuh Hawiyah.’’
’’Fi ‘isyah radliyah’’ adalah suasana manusia dalam servis nyaman, kondisi enak, dalam suasana sangat memuaskan.
’’Fi ‘isyah’’ menggambarkan betapa manusia di surga itu serba lega, leluasa dan terus menerus.
Mau berbuat apa saja dipersilahkan dan mau menghendaki apa saja, juga dipersilahkan.
Semua telah tersedia sesuai kata hati dan keinginannya.
Tidak sama dengan bahasa bagi pendurhaka yang dibenamkan di neraka Hawiyah.
Baca Juga: Kiamat (4)
Yakni ’’fa umummuh Hawiyah.’’ Sejak jauh hari sudah dipersiapkan, dia sudah punya ibu di akhirat nanti, yakni neraka Hawiyah.
Maka seperti lazimnya seorang anak, pastilah akan mencari ibunya, akan ikut ibunya dan ibunya kini sangat menyengsarakan.
Artinya, kepastian orang-orang durhaka masuk neraka itu lebih definitif.
Andai saja di akhirat tersebut dia sudah mengerti akan masuk neraka kelak, lalu dia lari dan menjauh, maka akan dijemput oleh ibunya sendiri, yaitu neraka Hawiyah dan pasti dengan mudah bisa ditangkap. (bersambung, in sya’ Allah).
Editor : Achmad RW