Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Mentradisikan Literasi Pasca Bulan Suci

Achmad RW • Jumat, 5 April 2024 | 14:50 WIB
Mukani, Guru SMAN 1 Jombang dan Kepala Literacy Center LTN PWNU Jawa Timur
Mukani, Guru SMAN 1 Jombang dan Kepala Literacy Center LTN PWNU Jawa Timur

RadarJombang.id - 10 hari terakhir di bulan suci Ramadan menjadi tantangan tersendiri.

Karena godaan berpaling darinya dipastikan makin berat. Meski ada iming-iming bebas dari api neraka (‘itqun min nar) bagi yang berhasil melewati.

Namun itu bukan pekerjaan mudah. Tidak segampang membalikkan telapak tangan.

Dibutuhkan komitmen mewujudkannya. Dan, secara konsisten melaksanakan sebagai sebuah tradisi. 

Terlebih setelah bulan suci pergi. Lebaran sudah menyapa. Maka seperti biasa.

Tidak ada lagi masjid dan musala penuh jamaah melaksanakan ibadah salat tarawih.

Tidak ada lagi speaker yang mengumandangkan khatmil Quran. Baik siang maupun malam.

Kegiatan pengajian jelang Magrib pun dipastikan akan sirna. Salat jamaah Subuh di masjid dan musala akan menurun drastis.

Tidak sebagaimana dijumpai dengan mudah saat Ramadan masih ada.

Motivasi Literasi

Kegiatan membaca Alquran biasanya dilakukan dimana-mana. Terutama saat awal dan pertengan bulan suci Ramadan.

Tidak sekedar orang tua. Bahkan anak-anak juga giat melaksanakannya.

Aktivitas membaca adalah literasi dasar. Ini sebagaimana definisi dari Kemendikbud RI.

Di samping aktivitas menulis tentunya. Keduanya dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Membaca dibedakan menjadi dua kategori. Baik yang tekstual maupun kontekstual.

Pembacaan Alquran menjadi contoh konkret dari tekstualitas membaca.

Bahwa wahyu dari Allah SWT kemudian ditulis menjadi kumpulan teks-teks. Orang sering menyebutkan sebagai mushaf.

Secara normatif, membaca Alquran memberikan pahala banyak. Terlebih mampu mengkaji isinya.

Pada sesi ujung, membaca Alquran diharapkan juga mampu mengamalkan kandungan ajaran di dalamnya. 

Orang muslim kadangkala perlu merenung sebentar. Alangkah kacau keadaan umat jika para sahabat dulu tidak menulis ayat-ayat Alquran ke dalam mushaf.

Meski pada zaman Nabi Muhammad SAW kegiatan menulis Alquran belum pernah dilakukan.

Mengingat saat itu para sahabat mampu menghafalkan 30 juz Alquran dengan baik.

Proses penulisan Alquran dikomandoi Zaid bin Tsabit dimulai pada zaman khalifah Umar bin Khattab.

Kemudian digandakan menjadi beberapa mushaf pada periode khalifah Utsman bin Affan.

Baca Juga: Moderasi dan Kecerdasan

Kebijakan sahabat ini jadi bukti nyata umat Islam berusaha membangun tradisi literasi dengan menuliskan ayat-ayat Alquran.

Meski periode sebelumnya belum pernah dilakukan. Namun dampaknya luar biasa bagi para generasi selanjutnya.

Ini menjadi sebuah ijtihad cerdas dari para sahabat dalam mewariskan ajaran Alquran kepada generasi selanjutnya.

Tentu, kita tidak bisa membayangkan kondisi umat Islam jika Alquran ketika itu tidak ditulis.

Membaca kedua, upaya untuk memahami fenomena alam sebagai sebuah laboratorium luas bernama semesta.

Ini membutuhkan kemampuan akal yang tidak mudah. Di samping penguasaan konsep secara baik dari referensi-referensi yang memadai.

Kedua kategori membaca di atas membutuhkan proses penalaran. Kemudian informasi yang sudah diperoleh dikomunikasikan dengan fakta-fakta lain.

Sehingga pada akhirnya mampu diambil kebajikan yang bijak.

Perlu Kontinyu

Ayat pertama Alquran yang diturunkan sebenarnya sudah menegaskan ini.

Proses pemahaman kepada apa yang ada di sekitar manusia sangat ditekankan.

Jika mampu memahami QS. al-‘Alaq ayat 1-5, maka kedua kategori membaca di atas dipahami sudah masuk di dalamnya.

Baca Juga: Takjil di Masa Gen Z

Ini karena tradisi ilmiah suatu bangsa bertumpu kepada dua hal.

Pertama, kekuatan budaya membaca teks. Kedua, tradisi menulis yang tinggi di kalangan rakyatnya.

Termasuk kemudian dipublikasikan ke publik. Keduanya terkait erat dengan kemajuan peradaban bangsa.

Dalam pemahaman ini, kegiatan baca tulis bisa dikategorikan sebagai amal baik.

Tradisi ini harus tetap dirawat dan dilestarikan bagi para generasi selanjutnya.

Di samping memang keduanya juga perintah agama. Tidak sekedar di dalam bulan Ramadan.

Pada akhirnya nanti, orang akan mudah menulis kebenaran dan menyebarkan. Termasuk mampu mencerna validitas berita dengan baik.

Tidak sekedar percaya share bombastis yang ternyata hoax. Terlebih mengandung hate speech.

Tentu itu bukan akhlak yang baik. Terlebih di bulan Ramadan ini.

Sudah saatnya umat Islam terdepan dalam mentradisikan literasi. Apalagi itu dilaksanakan secara kontinyu setelah bulan suci berlalu. (*)

Penulis:
Mukani
Guru SMAN 1 Jombang
Kepala Literacy Center LTN PWNU Jawa Timur

 

Editor : Achmad RW
#Alquran #Ramadan #Literasi