Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kolom Gus Zuem: Suara Perempuan, Suara Kasihan

Anggi Fridianto • Senin, 5 Februari 2024 | 14:03 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

Radarjombang.id - Di Ruang tunggu Concordia bandara Juanda, tetiba duduklah di dekat saya seorang pria sambil bertelepon. Sepertinya dia sedang memastikan bahwa anak buahnya telah melaksanakan tugas-tugas yang telah didelegasikannya.

Setelah dia nelpon dan menyeruput air lemon di gelas yang dibawanya, kami pun berkenalan. Ternyata dia seorang pengusaha yang mau balik ke Jakarta.

Kami kemudian bicara ngalor-ngidul karena kebetulan schedule flight kami sama, sejam lagi boarding. Setelah saya merasa nyambung dengan materi obrolan ringan, saya kemudian membawa ke materi yang nyrempet politik.

Hehehe... dia tampaknya tidak begitu suka dengan pemilu. ”Pilpres ini bikin para pengusaha canggung dalam bersikap, mau begini gaenak sama yang sini, mau begitu gaenak sama yang situ, akibatnya kami harus berkaki lebih dari satu.. hehehe... itu butuh extra cost, pak.." keluhnya sambil mengupas kacang rebus.. "Lha kalau bapak sendiri sebenarnya mau pilih nomor berapa.. barangkali pilihan bapak bisa saya jadikan preferensi, karena saya belum punya pilihan yang pasti...hehehe.." pancing saya.

"Wah, sama dong kita... saya juga belum punya jago, pak.... soalnya mau pilih 01, saya tak  suka dengan janji-janji tak rasionalnya. Mau pilih 02, saya tidak suka dengan karakter emosionalnya. Mau pilih 03 saya tidak suka dengan partai pengusungnya... jadi sampe sekarang saya belum ada rencana pilih siapa pun... namanya orang gak suka, gimana lagi.." jelasnya dengan nada agak berbisik.

"Berarti ada kemungkinan Anda golput ya, pak...?"

"Enggaklaaah... saya tidak akan golput, saya akan ikuti saran istri saya.. siapa pun yang dia pilih, akan saya coblos... hehehe... untuk hal-hal penting terkait bisnis saya, sayalah decision-maker-nya, tapi untuk pilpres-pilpres selama ini, saya pasrahkan istri saya saja, seperti kalau saya pilih lagu untuk karaokean...suka-suka dia saja.. hehehe... supaya kalo suara saya fales, dia tak nyalahkan saya.. " terangnya dengan santai..

Dari pertemuan itu, saya mendapat dua pelajaran yang bisa saya petik.

Pertama, tidak semua orang menganggap pemilu / pilpres sesuatu yang serius hingga harus diperjuangkan mati-matian sampai mengorbankan persaudaraan segala. Mengumbar caci-maki bahkan saling hujat.

Buktinya orang di atas, ingin sekali kegaduhan pemilu segera berlalu. Agar kehidupan sosial berlangsung kondusif supaya masyarakat bisa beraktivitas atau bekerja dan berpenghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ekonomi berputar. Sesederhana itu. Pandangan tersebut sangat selaras dengan harapan masyarakat awam di pedesaan yang berkutat dengan beratnya beban hidup.

Maka jangan salahkan mereka, bila cukup dengan selembar uang merah, kita bisa mendapatkan suaranya untuk kekuasaan eksekutif dan legislatif selama 5 tahun. Karena mereka berfikir, siapa pun presiden dan DPR-nya tidak berpengaruh apa pun pada kehidupannya.

Maka, meski Bawaslu dan Panwaslu sosialisasi berbusa-busa agar masyarakat melawan money politic , mereka hanya manggut-manggut saja dan tidak akan datang lagi kalau usai sosialisasi itu tidak ada berkat amplopnya. Memrihatinkan memang. Tapi itulah realitas senyatanya di masyarakat yang jauh dari idealisasi para penyuara petisi yang hidupnya sudah mapan.

Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Satu Putaran, lebih Mudah Merukunkan

Pelajaran kedua, pengaruh suara istri / perempuan sangat signifikan untuk mengarahkan pilihan keluarga, minimal suaminya. Sebatas amatan saya, hal itu terbukti di Jatim. Barang siapa mendapat dukungan penuh ibu-ibu Muslimat & Fatayat, maka dia akan memiliki peluang besar untuk mendapatkan suara mayoritas.

Itu bisa terjadi pada tingkatan kota, kabupaten maupun provinsi bahkan nasional. Namun seiring perjalanan waktu, ketika aspirasi politik jajaran pimpinannya beragam, sementara katalisator untuk memunculkan keragaman tidak terbangun baik, maka pelembagaan dukungan politik ormas perempuan itu  berbuah pahit. Yakni, bermunculannya organisasi perempuan “alternative” dari para Nahdliyah.

Hal ini pernah disesalkan Gus Yahya. Namun di balik penyesalan tadi, ketua PBNU tersebut menyadari masih adanya kendala regenerasi dalam kepemimpinan organisasi perempuan dalam naungannya itu.

Terkait fenomena kekuatan suara perempuan, secara sederhana bisa kita lihat dari grup media sosial kita. Kebanyakan kaum perempuanlah yang senang memosting video-video pendek bombastis.

Mereka enggan menggunakan akal sehatnya untuk mengetahui terlebih dulu : kebenaran, waktu dan konteks video peristiwa itu terjadi. Yang penting, bila “dirasakan” bisa menjatuhkan tokoh lawan dari calon yang didukungnya, maka disebarlah video itu. Mereka lebih mendahulukan rasa daripada akal sehat. Sehingga ketika saya coba menanyakan alasannya memosting video yang menjatuhkan si Fulan, dia menjawab karena  “kasihan” pada si Dadap, jagoannya.

Ini berarti, kaum ibu atau isteri-isteri kita cenderung mendasarkan pilihannya pada rasa iba atau kasihan. Maka tidak mengherankan bila paslon yang banyak di-bully dan direndahkan, akan lebih menarik hati perempuan untuk memilihnya.

Anda tidak percaya..? Mari kita buktikan bersama, betapa suara perempuan atau isteri itu mampu mengguncangkan kekuasaan negara. Apalagi kalau sekadar menggetarkan suami. Maka saya salut kepada Anda yang memiliki lebih dari satu.  Salam sehat penuh rahmat. (*)  

Editor : Anggi Fridianto
#Kolom Gus Zuem #Radar Jombang #JAwa Pos