Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kolom Gus Zu'em: Istri yang Menyalehkan

Achmad RW • Senin, 4 Desember 2023 | 13:30 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

Alkisah, seorang pengusaha bernama Suto meraih kesuksesan luar biasa. Namun tidak membuatnya lupa diri karena ia rela berbagi dengan siapa saja yang membutuhkan.

Sehingga banyak organisasi yang memosisikannya sebagai bendahara. Baik itu ormas kepemudaan, keagamaan,  organisasi profesi bahkan partai politik.

Akibat kesibukannya berbisnis dan menjalankan tugas di berbagai organisasi, dia layak dikategorikan tipe suami  Jarum Super (jarang di rumah suka pergi).

Sampai-sampai lupa bahwa anak istrinya punya hak untuk mendapat kasih sayang dan perhatiannya sebagai sosok imam dalam keluarga.

Si istri yang cantik lagi sholihah, ingin mengingatkan kelalaian Suto atas kewajibannya itu, tapi tidak punya keberanian untuk mengatakan.

Karena suaminya selalu berdalih bahwa apa yang dilakukannya selama ini demi ummat atau rakyat yang membutuhkannya.

Si istri, sebut saja Siti, yang lulusan Darul’Ulum ini akhirnya menemukan cara cerdas untuk “berunjuk rasa” pada Suto dengan memasukkan sesendok garam dalam botol air mineral yang sengaja diserahkannya sendiri di suatu pagi kala Suto hendak pergi jauh.

”Ini air minumnya pa.. sebelum minum baca shalawat tiga kali ya, biar semuanya makin lancar..” pesan Siti yang dibalas Suto dengan kecupan di kening wanita yang mirip Ken Anne, presenter TV One  itu.

Sesampai di Krian, saat jalan sedikit macet (tol belum ada), ia sempatkan minum dengan terlebih dulu baca shalawat sebagaimana pesan istrinya.

Betapa kaget setelah ia meneguk air yang ternyata terasa  sangat asin.

Ia segera ambil HP untuk menelpon dan memarahi Siti, tapi sebelum semua nomor terpencet, ia ingat dengan bacaan shalawat yang baru dilafalkannya sehingga ia mulai mengendalikan emosi dan berfikir jernih tentang makna semua ini.

Sesampai di kawasan Sepanjang, ia berkata pada sopirnya: ”Kita ke Kiai Fulan dulu ya, ke Juandanya nanti saja”. 

Sesampai di kediaman kiai yang sufi itu, Suto sowan dengan membawa sebotol  air ukuran 600 ml persembahan si istri.

Dia pun mulai menceritakan lengkap kisah air tersebut yang diakhiri dengan pertanyaan  bagaimana ia harus menyikapi istrinya.

Kiai yang memiliki mushalla dengan bak air di depannya seluas 12 m persegi itu, tidak menjawab tapi malah masuk rumah dan keluar membawa sekantung garam ukuran setengah kilo.

“Ayo ikut saya ke bak air wudhu itu..” ajak kiai pada Suto yang masih diliputi tandatanya.

“Bungkusan garam ini lebih besar dari botol kamu, aku masukkan semuanya ke bak ini. Mari kita aduk sama-sama..” ajak kiai yang diikuti Suto dengan rasa penasaran.

“Sudah lima menit lebih kita aduk, sekarang cicipi airnya dan rasakan keasinannya..”

Suto berkali-kali pindah tempat untuk merasakan air itu yang ternyata lidahnya tidak mampu mendeteksi rasa garamnya.

“Begini maknanya..” Kiai Fulan mulai menjelaskan.. “Garam adalah lambang permasalahan yang kita hadapi.

Tak satupun manusia normal  terbebas dari masalah, karena masalah adalah bagian dari ujian Tuhan terhadap hambanya untuk menyeleksi mana hamba yang takwa dan yang tidak.

Kadar garam atau masalah bisa sama, satu sendok, tapi bagi orang yang punya air hanya sebotol maka ia akan kehilangan jati diri keasliannya, larut dalam masalah.

Namun bagi yang memiliki air sekolam, garam tersebut sama sekali tak berpengaruh. 

Maka perbanyaklah perbendaharaan airmu dengan hati yang selalu dzikir ingat pada  Allah, sehingga kamu benar-benar bisa merasakan apakah masalah ini buah dari kesalahan-kesalahan masa lalumu atau memang betul-betul ujian dari Tuhan.

Baca Juga: Kolom Gus Zuem: Kiai & Suhu Politik

Bila itu akibat kesalahanmu, maka bersyukurlah karena kamu diberi kesempatan lebih awal untuk memperbaikinya, sehingga tidak harus memepertanggung-jawabkannya di akhirat.

Namun bila itu ujian Tuhan, maka hadapilah dengan optimisme karena itu pertanda  Allah akan mengangkat derajatmu..”

“Maaf kiai.. bagaimana dengan air istri saya tadi.?” Sela Suto.

“Itu berarti buah kesalahan masa lalumu.. maka sekarang batalkan keberangkatanmu ke Jakarta, kembalilah pada istrimu karena dialah sesungguhnya yang akan memperbanyak air di hatimu sehingga akan membuatmu shaleh dan lebih kuat menghadapi masalah dari ujian Tuhan”. Tukas kiai Fulan sambil menepuk pundak Suto.

Satu jam kemudian, betapa kagetnya Siti melihat kedatangan suaminya yang tergesa-gesa masuk rumah.

“Apa ada yang ketinggalan pa..?” sapa Siti. “Dulu memang ada yang ketinggalan ma, tapi sekarang tidak akan lagi.. karena aku akan membawa diri dan hatimu bersamaku selalu…. “  kata Suto sambil memeluk erat istrinya yang mulai menitikkan air mata bahagia.

Untuk itu,  pembaca yang budiman, jangan pernah melupakan dukungan pasangan dalam meraih kesuksesan.

Apalah arti sukses di luar rumah bila di rumah sendiri tidak terbangun suasana “baity jannaty”, rumahku adalah surgaku. Salam sukses penuh berkah. (*)

 

Editor : Achmad RW
#Kolom Gus Zuem #rumah #suami #istri