SUHU udara sekarang, akibat El Nino terasa panas. Kekeringan terjadi di mana-mana sehingga musim panen tertunda dan musibah kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) menjadi berita tiap hari.
Bersamaan dengan panasnya udara, saya merasakan juga panasnya suhu konstelasi politik nasional yang kian meningkat menyongsong hari kasih sayang, Valentine’s Day, 14 Februari 2024.
Hari kasih sayang kok malah makin panas..? Ya, karena pada tanggal tersebut bertepatan dengan hari Pemilu DPR dan Presiden.
Maka jika Anda aktif mengikuti media sosial, Anda akan merasakan betapa ucapan dan narasi yang berseliweran di dunia maya saat ini, sangat memanaskan hati satu sama lain di antara para pendukung kontestan.
Kata yang terucap dan tertulis, jauh dari kata santun, apalagi kelembutan. Padahal menurut Rumi : “Cinta dan kelembutan adalah sifat manusia sejati, sedang amarah dan gairah nafsu adalah sifat hewani”.
Tampaknya, ketika kita begitu bergairah dengan syahwat politik yang dominan, sadar atau tidak, kita sedang mengalami metamorfosis dari manusia menjadi mahluk yang lebih rendah.
Coba lihat di media, ketika ada tokoh nasional ( capres ) yang silaturrahim atau sowan ke seorang ulama/kiai, maka para pengamat -apalagi pembecinya (haters)- akan komentar negatif semua, meski silaturrahim itu aktivitas yang dianjurkan Rasulullah.
Mengapa negatif? Karena momentumnya yang kurang pas untuk silaturrahim yang bersih dari pretensi kepentingan politik.
Andai saja kunjungan mereka dilakukan tiga atau dua tahun lalu, pasti akan berbeda nuansanya.
Anggapan bahwa sowan mereka sarat muatan politik, memang sulit dielakkan.
Karena dengan dibungkus kalimat “mohon doa restu” untuk “nyapres atau nyaleg”, itu sudah otomatis niat utama silaturrahimnya bukan karena memenuhi anjuran Nabi, tapi untuk mendulang suara demi mengangkat elektabilitasnya.
Baca Juga: Kolom Gus Zuem: Merdeka & Wisuda
Maka biasanya sasaran sowan mereka lebih mempriotaskan pada ulama / kiai yang senior dan berpengaruh dengan jumlah pengikut / jamaah yang besar.
Namun, sesuai pengamatan saya pada pilihan bupati, gubernur, dan presiden selama reformasi ini, saya melihat bahwa preferensi pilihan politik santri / jamaah sangatlah cair.
Kiai bisa saja meng-endorse tokoh X tapi santri / jamaahnya sangat mungkin justru pilih tokoh selain X.
Hal itu terjadi karena sekarang komunitas santri memandang pilihan politik sebagai sesuatu yang sangat profan tidak sesakral zaman Orde Baru (Orba) yang melihat partai politik sebagai representasi pilihan surga-neraka / halal-haram.
Oleh karena itu, ulama / kiai sekarang pun lebih membuka diri untuk menerima capres atau caleg dari partai mana pun yang sowan.
Sebagaimana ketika almarhum KH Maimun Zubair yang menerima kunjungan Pak Jokowi dan Pak Prabowo ketika mereka berkompetisi pada tahun 2019 lalu.
Maka dari itu, sowan tokoh politik ke ulama / kiai saat ini, lebih saya lihat sebagai upaya mendapat legitimasi moral agar dia dipersepsikan masyarakat pemilih sebagai tokoh yang diterima ummat Islam, sehingga terhindar dari stigma anti-Islam yang berakibat pada resistensi mayoritas pemilih Indonesia.
Kesadaran itulah yang dulu mendorong ketua partai non-muslim, blusukan ke pesantren-pesantren di Madura berpeci dan berbaju koko, seperti ustad yang hendak shalat.
Salahkah yang mereka lakukan..? Tentu tidak, untuk silaturahminya.
Tapi ketika dia merasa bahwa hanya dia yang didukung kiai A sementara lawannya tidak, itu asumsi yang salah.
Karena, semakin senior seorang kiai semakin menempatkan dirinya sebagai pengayom semua pihak.
Siapa pun yang datang dan meminta doa restunya, pasti akan didoakannya. Toh otoritas untuk terkabulnya doa itu merupakan hak prerogatif Allah SWT.
Baca Juga: Kolom Gus Zuem: Sabar dan Dimensinya
Dan jangan lupa, Allah-lah yang mengangkat atau menurunkan kedudukan manusia.
Sementara kita sebagai pemilih, hanyalah “instrumen” pengiring massal yang mengihtiarkan sebuah alunan orkestrasi agar terdengar nyaman di telinga, sesuai partitur atas arahan sang Maha Konduktor.
Maka apa pun irama lagu yang terdengar nanti, itulah lagu hasil kita sendiri yang harus kita nikmati bersama. Jangan marah bila yang terdengar ternyata tidak sesuai “selera” kita.
Asyikin saja lagunya, mari kita nikmati bersama, seperti saat ini, ketika kita menikmati lagu : Nemu.
Salam sehat penuh rahmat. (*)
Editor : Achmad RW