Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kolom Gus Zuem: Merdeka & Wisuda

Achmad RW • Senin, 21 Agustus 2023 | 12:49 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

Belakangan ini muncul protes masyarakat yang menyuarakan agar seremoni wisuda dikembalikan zaman dulu lagi, yaitu hanya untuk mahasiswa. Bukan sebagaimana yang kita lihat sekarang.

Anak lulus TK/RA saja sudah ada prosesi wisuda. Akibatnya orang tua harus terbebani biaya wisuda yang sebenarnya sudah dianggarkan untuk biaya mendaftar ke sekolah tingkat selanjutnya.  Saya pikir-pikir ada benarnya juga.

Karena, melihat anak TK, SD, SLTP, SLTA mengenakan toga, seperti melihat mereka sedang berkanaval Agustusan-an saja. Lebih sebagai tontonan daripada pemaknaan atas kesiapan peserta didik untuk mengamalkan ilmunya di masyarakat sebagaimana simbolisasi wisuda sarjana.

Oleh karena itu, dalam momentum HUT ke-78 RI ini, saya hendak mengorelasikan wisuda perguruan tinggi dengan proklamasi kemerdekaan kita. Di mana wisuda hanya akhir sebuah proses jenjang pendidikan formal, bukan sebuah akhir pembelajaran.

Begitu juga proklamasi kemerdekaan, hanya akhir dari perlawanan terhadap penjajah yang “nyata”, bukan akhir sebuah perjuangan.

Maka dari itu, bila saat ini ada yang agak sinis bertanya: sudah merdekakah kita, jawabnya bisa sudah dan belum. Sudah merdeka dari penjajah Belanda dan Jepang tapi belum merdeka dari penjajah yang tidak tampak: kesombongan dan kedengkian.

Kesombonganlah penjajah yang sering menguasai diri kita, bukan kebodohan. Akibatnya kita tak bisa berfikir dan bertindak merdeka. 

Betapa kesombongan itu membentuk pribadi manusia yang sulit menerima kebenaran dari sumber di luar dirinya. Padahal kebenaran manusia ini sangat relatif karena kita semua memiliki keterbatasan dan tempatnya kesalahan.

Sehingga ulama besar bernama Muhammad bin Idris atau  Imam Syafi’i ( salah satu imam dari 4 mazhab ) yang sangat luhur akhlaknya itu mengatakan bahwa “Pendapatku boleh jadi benar tetapi berpeluang salah, sedangkan pendapat orang lain bisa jadi salah namun berpeluang benar”.

Bila ulama se’alim beliau yang pendapat dan ijtihadnya diikuti para ulama di kemudian hari saja berkata begitu, maka hanya orang yang bersimbah kesombongan lah yang mengklaim kebenaran hanya darinya dan selalu menganggap salah pendapat orang lain sambil mendungu-dungukannya.

Tentang klaim kebenaran oleh manusia ini, ada analogi menarik dari Jalaludin Rumi yang menggambarkan bahwa kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan yang dijatuhkan dan pecah berkeping-keping terserak di bumi.

Kemudian orang-orang yang mengambil kepingan itu memperhatikannya, lalu masing-masing beranggapan bahwa dia telah mendapatkan kebenaran seutuhnya.

Anggapan itulah yang memicu saling klaim kebenaran berdasarkan sekeping “cermin” yang dimilikinya. Semakin kesombongan itu menghinggapi seseorang semakin kuat klaimnya atas kebenaran yang dimilikinya hingga dia mengambil alih kebenaran Tuhan untuk menghakimi orang lain untuk masuk surga atau neraka. 

Sementara penjajah yang lain adalah kedengkian. Dengki ini di atas kebencian. Orang benci masih bisa berpura-pura suka dan hanya ditujukan pada orang yang bersangkutan saja.

Tapi orang dengki hatinya betul-betul tidak mau melihat orang yang didengki itu hidup tenang apalagi senang. Selain itu, teman atau orang dekatnya juga kena getah kedengkiannya.

Bahkan dia tidak puas mendengki sendiri karena akan ajak orang lain untuk mendengki obyeknya, dengan cara apa pun. Pribadi yang terjajah dengan kedengkian, di otaknya hanya ada hasrat untuk “membunuh” si obyek agar lenyap dari pergaulan.

Bila orang itu tidak beriman, maka teluh atau santet-lah yang akan digunakan solusi pelampiasannya. Tapi bila masih sedikit-sedikit ada iman, dia akan melampiaskan dengan membunuh karakter melalui penebaran fitnah, makian, dan hinaan yang di luar batas akal sehat.

Bagaimana kalau kita jadi korban kedengkian sehingga dia dengan ringan memfitnah atau menghina kita..? Kita ikuti saja Imam Syafi’i ketika hadapi hinaan pendengkinya, yaitu dengan diam, seperti tulisan beliau untuk penghinanya: 

“Berkatalah sesukamu untuk menghina kehormatanku. Diamku dari orang hina adalah suatu jawaban. Bukan berarti saya tidak memiliki jawaban, tetapi tidak pantas singa meladeni anjing.”

Jadi, sudah merdekakah kita..? Mari kita jawab dengan merasai diri ini, sudah taklukkah kesombongan dan kedengkian di hati kita. Semoga sudah, sehingga kita bisa diwisuda sebagai hamba yang merdeka dari kesombongan dan kedengkian. Salam sehat penuh rahmat. (*)

 

Editor : Achmad RW
#Kolom Gus Zuem #wisuda #mahasiswa