Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Akhlak, HP & Phubbing

Achmad RW • Senin, 15 Mei 2023 | 13:10 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
KETIKA saya bersama Anda duduk berdua di kafe, kemudian Anda bercerita tentang rencana pernikahan Anda dan masalah yang Anda hadapi di kantor, tapi tangan dan mata saya justru fokus ke HP, bagaimana perasaan Anda? Pastilah tidak nyaman.

Anda akan merasa tidak saya dengar, tidak saya “orangkan” dan tidak saya anggap ada.

Perilaku saya ber-HP di hadapan Anda itu disebut phubbing.

Istilah “Phubbing” yang merupakan gabungan dari kata phone ( handphone) dan snubbing (hinaan), pertama kali dipopulerkan tahun 2012 di Australia. Istilah yang merupakan refleksi dari realitas saat itu, ketika penggunaan “benda” yang berupa HP ternyata bisa membuat orang merasa direndahkan atau dihina.

Bila di Australia yang masyarakatnya mewajarkan perilaku “egalitarian" saja, merasa tidak nyaman jika berhadapan dengan orang ber-HP semena-mena, apalagi di masyarakat kita yang serba ber-tatakrama ini. Pasti lebih tidak nyaman lagi. Oleh karena itu, mari kita introspeksi cara ber-HP kita, jangan sampai kita termasuk pelaku phubbing.

Ada kajian menarik tentang perilaku “Phubbing” ini. Secara psikologis, pelakunya ditengarai memiliki gangguan mental yang sulit melepaskan diri dari ketergantungan pada gadget / gawai.

Akibatnya, dia akan kehilangan fokus, empati, kehangatan komunikasi dan rasa hormat pada orang-orang di sekitarnya. Lambat laun, dia akan tercerabut dari kehidupan dunia nyata untuk bermigrasi ke dunia maya yang makin lama makin tidak nyaman bertemu dan bertatap muka dengan sesama, sehingga dia tidak peduli lagi tentang perasaan orang lain atas sikapnya itu.  Kalau pun dia bertemu orang, sedang tahlilan bahkan memimpin rapat, orang seperti ini akan tetap “bermesraan” dengan gawainya.

Sepengamatan saya, perilaku phubbing ini sudah sangat meresahkan, karena bisa lenyapkan nilai “rasa” dalam bermuamalah (sesrawungan) dengan sesama. Padahal Allah hanya menganugerahkan “rasa” itu pada manusia. Sayang sekali bukan, kalau kita kehilangan anugerah itu, karena akan membuat kita kehilangan predikat sebagai “ahsani taqwim” ( ciptaan terbaik ).

Oleh karena itu, agar kebersamaan kita di dunia nyata tetap dipenuhi rasa saling hormat dengan penuh kasih, mari simpan gawai kita sejenak ketika berjumpa. Agar kita bisa saling menatap, mendengar dan merespons ungkapan hati / pikiran satu sama lain sehingga dari perjumpaan itu tumbuhlah rasa kehangatan yang mampu menumbuhkan rasa rindu nan terbarukan.

Bagaimana jika kita dalam pertemuan ternyata kita tidak bisa simpan HP sepenuhnya karena kita gunakan untuk mencatat atau ada urusan urgent yang membutuhkan respons kita..?

Begini adabnya, untuk menunjukkan rasa hormat pada orang atau mereka yang kita temui, seyogyanya kita memberitahu.

Misalnya : “Mohon maaf bapak-ibu, saya pakai HP ini untuk mencatat masukan dari peserta rapat”. Atau : “Maaf dek, saya mengaktifkan HP, karena orang tua saya akan telepon..”.  Bisa juga:  “Sory ya, HP kuhidupkan, soalnya aku lagi mantau perjalanan anakku..”.

Begitu juga ketika kita akan mengangkat telepon masuk atau menjawab chatting-an, selayaknya “izin” pada orang di depan kita. Misalnya: “Maaf, pimpinan/istri saya nelepon nih, saya angkat dulu ya..”. Nah, bila si penelepon itu satu tim atau satu “circle” dengan orang di hadapan Anda dan topik pembicaraannya tidak rahasia, silakan Anda tetap berada di tempat, bahkan bisa me-loudspeaker percakannya setelah diizinkan penelepon.

Namun bila si penelepon tidak ada korelasi apa pun dengan orang di hadapan Anda apalagi jika pembicaraannya bersifat pribadi, maka sebaiknya tinggalkan tempat beberapa saat untuk menjawab teleponnya. Lebih cepat kembali lebih baik.

Memang yang saya sampaikan di atas sama sekali tidak ada “dalilnya” tapi saya yakin ada “sesuatu” yang bisa dipetik, karena narasi saya berdasarkan pengalaman bergaul dengan orang-orang yang berstatus sosial beragam, hingga saya sampai pada kesimpulan bahwa ber-HP di ranah publik maupun privat WAJIB-lah beradab. Karena dengan keberadaban, kita menyadari bahwa dalam bergaul dengan sesama ada “rasa” yang harus dijaga. Dan, ketika kita saling menjaga itulah bukti nyata kehadiran akhlak mulia di antara kita. (*) Editor : Achmad RW
#opini #Kolom Gus Zuem #KH Zaimudin As'ad #tulisan lepas #Masalah Sosial #Jombang #Analisa