Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Renungan Minggu 280, Damai Sejahtera yang Menjaga Hati dan Pikiran

Rojiful Mamduh • Minggu, 25 Januari 2026 | 07:45 WIB

 

Pdt Petrus Harianto, Sth, Pendeta GPdI House Of Prayer Sawahan
Pdt Petrus Harianto, Sth, Pendeta GPdI House Of Prayer Sawahan
 

Pendeta GPdI House Of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik, kemarin. Terutama tentang pentingnya damai sejahtera yang menjaga hati dan pikiran.

Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari pergumulan. Setiap hari kita diperhadapkan dengan berbagai tuntutan, tekanan, dan ketidakpastian. Tidak jarang, semua itu membuat hati menjadi gelisah, pikiran dipenuhi kekhawatiran, dan jiwa kehilangan ketenangan. Banyak orang tampak kuat di luar, tetapi sebenarnya sedang berperang di dalam hati.

Di tengah kondisi seperti ini, Firman Tuhan mengingatkan bahwa damai sejahtera sejati tidak datang dari dunia, melainkan dari Allah sendiri. Itu tertulis dalam Surat Filipi 4:6-7: ’’Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Maka damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Damai sejahtera yang Tuhan berikan berbeda dengan damai yang ditawarkan dunia. Dunia memberi damai yang bersifat sementara. Selama keadaan baik, selama tidak ada masalah, selama segala sesuatu berjalan sesuai rencana. Namun ketika masalah datang, damai itu pun menghilang.

Sebaliknya, damai sejahtera dari Tuhan adalah damai yang melampaui segala akal. Artinya, damai ini tidak selalu bisa dijelaskan secara logis. Secara manusia, kita seharusnya takut, cemas, atau putus asa. Namun karena kita hidup di dalam Kristus dan percaya, maka hati kita dijaga oleh damai sejahtera-Nya.

Beberapa bulan yang lalu istri saya harus menjalani operasi empedu dan ini baru pertama kalinya. Bisa dibayangkan betapa takut dan khawatirnya, hingga ketika saya menghibur, menguatkan dan menyemangati tidak sedikitpun mengurangi rasa takutnya . Namun ketika istri saya ambil keputusan untuk berdoa, memuji Tuhan dan berserah pada Tuhan, serta yakin penyertaan Tuhan, tiba-tiba dia mendapatkan kekuatan ekstra. Hatinya dipenuhi damai sejahtera dan mampu menjalani semua proses tanpa ragu dan takut. Puji Tuhan semua berjalan dengan lancar.

Rasul Paulus ketika menulis suratnya tentang damai sejatera kepada jemaat Filipi, dia sedang berada di dalam penjara. Keadaan yang tidak nyaman. Dibatasi kebebasannya, dan tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidupnya. Ini menunjukkan bahwa damai sejahtera tidak ditentukan oleh situasi luar, melainkan oleh hubungan yang intim dengan Tuhan.

Kunci untuk mengalami damai sejahtera itu adalah membawa segala kekhawatiran kepada Tuhan dalam doa. Ketika kita memilih berdoa, kita sedang mengakui bahwa kita tidak sanggup mengendalikan segalanya dan bahwa Tuhanlah yang berdaulat.

’’Doa mengalihkan fokus kita dari masalah kepada Allah yang sanggup menolong. Tuhan Yesus memberkati,’’ tegasnya. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#Renungan #gpdi house of prayer #Jombang