Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Spirit Karate 89, Memegang Kebenaran dalam Semua Kondisi

Achmad RW • Sabtu, 19 November 2022 | 15:41 WIB
Kwat Prayitno bersama Ketua Umum  Forki Jombang Widjono Soeparno serta pengurus PMI Jombang (17/11).
Kwat Prayitno bersama Ketua Umum Forki Jombang Widjono Soeparno serta pengurus PMI Jombang (17/11).
JOMBANG -  Tak ada yang bisa mengalihkan karateka dari kebenaran. Karateka selalu memegang kebenaran.

’’Keadaan seperti apapun tidak bisa merubah kebenaran. Kebenaranlah yang bisa mengubah segala keadaan,’’ kata Kwat Prayitno, ketua harian Federasi Karate-Do Indonesia (Forki) Jombang, kemarin.

Anggota dewan guru Inkanas nasional ini menjelaskan, karateka harus selalu berpegang pada kebenaran. Sebagamana sumpah karate yang selalu diucapkan sebelum dan sesudah latihan. Ada lima poin dojokun atau sumpah karate.

Pertama, sanggup memelihara kepribadian. Kedua, sanggup patuh pada kejujuran. Ketiga, sanggup mempertinggi prestasi. Keempat, sanggup menjaga sopan santun. Kelima, sanggup menguasai diri. ’’Termasuk kepribadian karate adalah berdiri diatas kebenaran,’’ tegas pemegang sabuk hitam karate Dan VII ini.

Hal itu juga tertuang dalam niju kun atau 20 ajaran hidup karate. Pada poin ketiga dinyatakan; Karate adalah sebuah pertolongan kepada keadilan. ’’Kebenaran itu termasuk keadilan,’’ tegas alumnus S2 Universitas Brawijaya Malang yang kini dosen STKIP PGRI Jombang.

Perilaku curang, culas dan merugikan orang, tidak termasuk kepribadian karate. ’’Untuk menanamkan kepribadian berpegang pada kebenaran ini butuh proses,’’  tambah pengurus PMI Jombang yang telah donor 125 kali ini.

Salah satunya melalui kompetisi yang rutin diikuti. Setiap ikut kompetisi, karateka diminta agar jujur dan tidak berlaku curang. ’’Walaupun dicurangi, kita tak boleh ikut curang,’’ pesan tokoh kelahiran Jombang 28 Agustus 1960 ini.

Ketika dicurangi, kita boleh melapor kepada wasit juri atau pemimpin pertandingan sesuai prosedur. Tapi tidak boleh ikut melakukan kecurangan. ’’Sebab gol kita bukan semata juara. Gol utama kita adalah kepribadian,’’ tegasnya.

Ketika ujian sekolah, tak boleh menyontek. ’’Karena tujuan sekolah itu agar mau belajar dan menguasai pelajaran. Bukan semata dapat nilai bagus hasil menyontek, sehingga tetap bodoh,’’ urainya.

Dalam semua lini kehidupan, harus selalu benar. ’’Jangan sampai karena lapar kemudian mencuri. Tetaplah benar, jangan mencuri. Pasti Tuhan akan memberikan jalan rezeki yang baik,’’ tandasnya. (jif/naz/riz)

  Editor : Achmad RW
#Spirit Karate #Olahraga #Ketum Forki Jombang #kwat prayitno