JOMBANG — Panitia Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) memastikan proses verifikasi Daftar Pemilih Tetap (DPT) telah rampung.
Dari total 590 peserta yang terdata, sebanyak 557 PCNU, PWNU, dan PCINU dinyatakan memenuhi syarat sebagai pemilik hak suara.
Sementara itu, sekitar 3 persen atau 33 PCNU/PWNU/PCINU tidak dapat masuk dalam DPT karena tidak memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan.
Sekretaris Steering Committee Muktamar NU ke-35, Profesor Muhammad Nuh, menjelaskan peserta yang tidak masuk dalam DPT bukan disebabkan persoalan kuorum.
Baca Juga: Catat! 287 Sekolah di Jombang Diputuskan Belajar Daring Selama Muktamar NU, Ini Wilayahnya
Mereka tidak memenuhi syarat karena sejumlah faktor administrasi, di antaranya peserta yang meninggal dunia dan perubahan status kepengurusan, terutama pada Pengurus Cabang Istimewa (PCI).
"Sudah 100 persen. DPT sebanyak 557 yang meliputi PCNU, PWNU dan PCINU.
Kalau jumlah total ada 590. Jadi ada 3 persen yang tidak memenuhi syarat. Karena kan ada yang sudah mati, ada yang tidak memenuhi syarat," ujar Prof M Nuh saat mendampingi Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul meninjau Command Centre di PPBU (Pondok Pesantren Bahrul Ulum) Tambakberas Jombang, Selasa (25/8/2026).
Dengan jumlah pemilih yang telah ditetapkan tersebut, panitia memastikan kuorum Muktamar NU tetap terpenuhi.
"Iya, jadi itu sudah 97 persen. Jadi dari sisi kuorumnya aman," lanjutnya.
Baca Juga: H-2 Muktamar NU di Jombang, Panlok Sebut Venue Pembukaan di Tambakrejo Sudah 90 Persen Lebih
Panitia juga menegaskan peserta yang tidak memenuhi syarat sebagai pemilih tetap diberikan ruang untuk mengikuti Muktamar. Mereka dapat hadir dengan status sebagai peninjau.
Sementara itu, seluruh data kepengurusan PWNU, PCNU, dan PCINU yang menjadi dasar verifikasi peserta telah diperiksa dan dinyatakan selesai.
Terkait peserta PCINU yang berada di luar negeri, panitia memastikan tidak ada mekanisme pemungutan suara secara daring maupun hybrid.
Seluruh peserta yang memiliki hak suara diwajibkan hadir langsung dalam pelaksanaan Muktamar.
"Semuanya kan datang ke sini. Tidak ada hybrid. Ya, jadi Muktamar fisik kecuali yang dulu pada saat Covid, nah itu lain lagi. Ini kan normal. Tak yang hybrid. Gitu," (ang)
Editor : Anggi Fridianto