SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Polres Jombang, Selasa (16/12), Sekretaris Lembaga Dakwah NU Kecamatan Jombang, Ustad Sandi Ferdy Yulianto, menjelaskan tanda diterimanya. ’’Tanda diterimanya amal yakni merasakan manisnya ibadah,’’ tuturnya.
Diterimanya amal merupakan kunci keselamatan dan penentu kebahagiaan abadi di akhirat. Harapan ini merupakan fitrah iman yang tertanam dalam hati setiap orang beriman. Allah Ta‘ala berfirman di QS Al-Ma’idah 27. Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.
Diterimanya amal dapat dikenali melalui tanda-tanda tertentu ketika seorang masih hidup di dunia. Seperti disampaikan Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari dalam kitab al-Hikam; Barang siapa menemukan buah amalnya di dunia, maka hal itu menjadi petunjuk akan diterimanya amal tersebut di akhirat.
Buah amal yakni kenikmatan batin, ketenteraman hati, dan rasa lezat dalam beribadah. Ketika seorang hamba merasa ringan melakukan ketaatan, rindu kepada ibadah, dan tenang saat bermunajat, maka itulah isyarat penerimaan amal dari Allah Ta’ala.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Telah merasakan manisnya iman orang yang rida Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Rasulnya.
Sayidina ‘Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu berkata: Pahala suatu amal tergantung pada keikhlasan niatnya.
Sementara tabi‘in, Hasan Al-Bashri rahimahullah, mengatakan: Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan menjadikan ketaatan terasa manis baginya.
Orang yang ikhlas akan merasakan manisnya amal sebelum ia melakukannya. Dan jika ia benar-benar jujur, manis itu akan terus menyertainya saat amal itu dikerjakan.
Keikhlasan adalah sumber kenikmatan spiritual yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.
Syekh Abdullah Asy-Syarqawi mengingatkan agar seorang hamba tidak terjebak oleh rasa manis tersebut. Merasa puas, bangga, atau menggantungkan ibadah pada kenikmatan justru dapat merusak keikhlasan. Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata: ’’Termasuk tanda amal tertolak adalah ketika seseorang sibuk menikmati amalnya, bukan menghadirkan Allah dalam amalnya.’’
Diceritakan bahwa seorang ahli ibadah mengadu kepada gurunya karena ibadahnya terasa kering. Sang guru menjawab, ’’Dulu engkau beribadah untuk mencari rasa manis, sekarang Allah mengajarimu beribadah demi Dia semata.’’
Sejak itu, sang murid beribadah tanpa menuntut rasa, namun justru Allah kembalikan ketenteraman yang lebih dalam.
Manisnya ibadah memang bisa menjadi tanda diterimanya amal. Tetapi kerendahan hati, kewaspadaan batin, dan keikhlasan yang terus dijaga, merupakan kunci agar amal tersebut benar-benar bernilai di sisi Allah Ta’ala.
Pada akhirnya, hanya kepada Allah Ta’ala kita menyerahkan penilaian amal. Seraya memohon agar amal yang sedikit diterima dengan rahmat-Nya yang luas. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto