RadarJombang.id - Film animasi terbaru bertajuk Merah Putih One For All yang mulai tayang di Bioskop mulai 14 Agustus 2025 dibantai reviewer film.
Salah satunya akun En Qi yang mengunggah kritikan pedas melalui unggahannya di facebook.
Melalui akun Facebook pribadinya, En Qi mengunggah review panjang yang disebutnya sebagai “essay komprehensif” tentang film ini.
Ia bahkan mengingatkan sejak awal bahwa penonton sebaiknya tidak membuang uang untuk menontonnya di bioskop.
“Cukup saya saja yang menderita. Kalau penasaran, lihat klip yang saya unggah,” tulisnya.
Dalam ulasannya, En Qi memaparkan betapa film berdurasi satu jam lebih itu terasa berjalan di tempat.
Alur utama disebut hanya menyoroti perjalanan delapan anak kecil—yang disebut “tim merdeka”—keliling hutan untuk mencari bendera Merah Putih yang hilang.
“Selama 45 menit hanya muter-muter di hutan, ketemu monyet, kabur dari ular, makan buah liar, sakit perut, lalu bersatu lagi tiap kali berantem. Akhirnya? Nothing happened,” ungkapnya.
Yang membuatnya semakin heran adalah bagaimana film ini menempatkan bendera Merah Putih sebagai objek sandera dengan tebusan Rp100 juta oleh sekelompok villain bocah yang menjadi pemburu burung eksotis.
“Kenapa bendera bisa jadi barang tebusan? Kenapa nggak lapor ke pak lurah? Plot point-nya nggak masuk akal sama sekali,” tambahnya.
Kritikan paling keras muncul ketika En Qi mengungkap keberadaan adegan buang air besar lengkap dengan suara kentut yang diputar selama hampir 45 detik di layar bioskop. Adegan itu muncul setelah para tokoh bocah makan buah liar di hutan.
“Bagian ini beneran nggak perlu. Kalau tujuan edukasi, logikanya pun nggak nyambung. Malah bikin satu studio ketawa karena bingung dan jijik. Entah bagaimana adegan ini bisa lolos sensor,” tegasnya.
Selain itu, ada juga momen yang membuat penonton tergelak karena absurd: villain dilempari batu bersama monyet, lalu diakhiri dengan serbuan seekor domba ngamuk.
“Rasanya lebih kayak nonton komedi ketimbang film perjuangan. Accidental comedy banget,” tulisnya.
Tak hanya plot, En Qi juga menyoroti aspek teknis film yang disebutnya jauh dari standar.
Dari sisi penulisan, ia menganggap dialog terlalu sederhana, berulang-ulang, dan tanpa kedalaman.
“Isinya kayak buku Bahasa Indonesia SD. Kalimatnya hanya ‘gimana nih’, ‘iya gimana nih’, ‘kita harus diskusi dulu’. Sama sekali nggak ada substansi,” katanya.
Di bagian audio, masalah semakin terasa. Menurut En Qi, sound mixing film ini kacau.
Musik latar dan efek suara terlalu keras sehingga menutup dialog karakter. Lebih buruk lagi, lagu yang sama diputar lebih dari sepuluh kali dalam bentuk montase perjalanan di hutan.
“Banyak penonton di studio sampai menutup telinga karena nggak tahan sama kualitas suaranya. Ini pertama kali saya lihat orang satu bioskop kompak begitu,” ujarnya.
Aspek visual juga tak luput dari sorotan. Ia menyebut animasi film kasar, penuh pengulangan, hingga banyak terjadi kesalahan teknis (bug).
“Ada karakter yang nge-clip sama bajunya sampai kelihatan ketek. Gerakan mulut kadang nggak sesuai suara. Adegan transisi pun suka tiba-tiba berhenti di tengah dialog. Parah banget,” kritiknya.
Meski berniat menyuguhkan kisah perjuangan dan persatuan, En Qi menilai hasil akhir film justru membuat penonton tertawa karena terlalu buruk.
“Di bioskop, banyak orang malah ngakak setiap kali muncul adegan aneh. Dari kentut 45 detik, domba ngamuk, sampai pak hansip yang cuma ngerekam anak-anak tanpa alasan jelas,” tulisnya.
Menurutnya, hal ini membuat film terasa seperti parodi yang tidak disengaja. “Accidental comedy. Bukan film perjuangan, tapi lebih kayak lelucon besar di layar lebar,” tambahnya.
Pada akhir ulasannya, En Qi mengingatkan agar publik tidak tergiur menonton film ini hanya karena rasa penasaran.
“Jangan sia-siakan 50 ribu seperti saya. Cukup lihat cuplikan yang saya unggah biar tahu seberapa buruknya,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan pesan penting untuk mendukung karya animasi Indonesia yang benar-benar berkualitas.
“Kalau mau dukung animasi lokal, tunggu film Panji Tengkorak. Itu lebih layak ditonton. Industri animasi kita bisa maju kalau serius, bukan asal jadi,” pungkasnya. (riz)
Editor : Achmad RW