Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Sejarah Lapas Jombang yang Telah Dirintis Sejak Tahun 1881, Dulunya Cuma Tampung Ratusan Napi

Anggi Fridianto • Minggu, 5 Mei 2024 | 18:32 WIB

 

Kompleks bangunan penjara Jombang difoto udara dari selatan dan timur tahun 1948
Kompleks bangunan penjara Jombang difoto udara dari selatan dan timur tahun 1948

RadarJombang.id –  Penataan tata kota baru di wilayah Afdeeling Jombang mulai dilakukan secara bertahap setelah ditetapkannya seorang pimpinan wilayah setingkat Asisten Residen (AR) pada 20 Maret 1881.

Pimpinan wilayah ini mempunyai otoritas mandiri untuk menata sumber alam dan sumber daya manusia di Jombang yang tidak lagi di bawah kuasa Mojokerto.

Beberapa tender  proyek pembangunan infrastruktur segera dibuka, dalam kendali Dinas Pekerjaan Umum Sipil Belanda (BOW = Burgerlijke Openbare Werken) yang berkantor di Mojokerto.

Misalnya, pembangunan rumah dan kantor Asisten Residen baru beserta ruang pengadilan dan kantor panitera.

Taman kota (Kebonrojo), penataan kawasan alun-alun serta gereja (Gereja Katolik Santa Maria tahun 1908).

Termasuk pembangunan penjara (gevangenis) atau bui bagi para narapidan yang letaknya di sebelah timur kantor jaksa di Heerenstraat (jalan KH Wahid Hasyim saat ini).

“Saya menemukan dokumen pengumuman pembukaan lelangnya di koran Soerabaijasch Handelsblad edisi tanggal 1 dan 3 Agustus 1881,” kata Moch. Faisol, salah satu penelusur sejarah Jombang.

Dijelaskan, pemerintah kolonial juga mendirikan pasar baru (Pasar Pon) di desa Kaliwungu, yang letaknya berdekatan dengan bangunan penjara Jombang.

Tepat di sebelah tembok penjara bagian selatan.

Pemilihan lokasi penjara Jombang cukup strategis, di tepi jalan utama yang menghubungkan poros utara ke selatan wilayah Malang dan Kediri.

Tata niaga garam juga diatur oleh pemerintah kolonial dengan kontrol ketat.

Di Jombang gudang garam (zoutpakhuis) dibangun di sebelah timur penjara dan Pasar Pon.

Luas lahan penjara Jombang mencapai 8.360 meter persegi. Renovasi sempat dilakukan pada 2002 silam.

Saat itu, seluruh bagian lapas dilakukan penguatan dengan poles tembok dan penggantian atap.

Awalnya dirancang untuk kapasitas maksimal hanya 130 orang narapidana.

Namun pada praktiknya jumlah narapidana dan tahanan sering terjadi kelebihan kapasitas hingga mencapai 200 orang.

Dari konsep perencanaan pusat pemerintahan baru di Jombang, yang mudah dijangkau dari segala arah.

Lokasinya juga mempermudah transportasi, maka dipilihlah di lokasi sekitar alun-alun saat ini.

Lokasi penjara, juga dipilih karena dekat lintasan kereta api dan mudah terjangkau dari jalan utama.

Penjara juga dekat dengan kantor jaksa dan landraad (pengadilan rakyat pribumi).

Pada 1 Oktober 1932, penjara Jombang sempat ditutup sementara untuk dimerger dengan penjara Mojokerto.

Bangunan penjara Jombang sempat menjadi saksi aksi bumi hangus yang dilakukan para pejuang Indonesia di akhir bulan Desember 1948.

Hampir sebagain besar obyek vital di Jombang dibakar, termasuk sebagian bangunan penjara di sisi selatan.

Baca Juga: Penemuan Topeng Perunggu di Goa Made Jombang dan Skandal Penipuan Artefak Kuno Level Internasional

Menjelang agresi militer Belanda kedua, terjadi sabotase di penjara Jombang
Menjelang agresi militer Belanda kedua, terjadi sabotase di penjara Jombang

Satu bulan sebelumnya juga terjadi aksi sabotase di penjara Jombang.

Aksi pembakaran itu dilakukan sebagai buntut gerakan pemberontakan PKI di Madiun.

“Seperti dokumen yang saya temukan di website archieven.nl,” lanjut Faisol. Dalam dokumen laporan militer Belanda itu tertulis:

Situasi Militer di Republik: Berdasarkan perintah Kolonel. AH. Nasoetion, Kepala Staf Operasi Jawa, ditujukan kepada semua otoritas militer (bertujuan untuk membatasi sebanyak mungkin transmisi radiografi perintah dan pesan operasi (untuk alasan keamanan). Ketika menyusun sinyal ini, menerima terlalu sedikit pesan operasi untuk memperoleh gambaran selengkap mungkin mengenai situasi militer di Republik. Oleh karena itu, laporan ini tidak dapat dikatakan lengkap sehubungan dengan perlakuan terhadap kegiatan militer dalam konflik yang terjadi saat ini antara Pemerintah Republik di satu pihak dan PKI-Moeso di pihak lain.

Keadaan yang jauh dari kata tenang di wilayah Jawa yang dikuasai Republik terlihat dari rangkuman kejadian berikut ini:

Baca Juga: Ada Beragam Sekolah di Jombang saat Era Kolonial Belanda, Ini Lokasi dan Kondisi Bangunannya Kini

A.Di KOETOARDJO (Z.-KEDOE) pasukan Republik mempunyai pasukan "merah" yang terdiri dari 2 Batalyon. (lihat juga Sinyal No.46 hal.2) berhasil diusir, sehingga 170 pemberontak ditangkap.

  1. Di BANDJARNEGARA, orang-orang dari unit Republik secara keliru ditangkap oleh pasukan setempat. Mereka mendapat perlakuan yang sama seperti tawanan perang pemberontak, yang mengakibatkan beberapa orang tewas.
  2. TAWANGMANGGOE di kompleks Lawu, diperkuat oleh pasukan Republik seiring dengan "mendorongnya" pimpinan Republik. Pasukan "merah" dari BOELÕEKERTO (+30 km dari TAWANG MANGGOE).
  3. Kasus sabotase saluran telepon di Karesidenan BODJONEGORO,
  4. Terjadinya kebakaran di penjara DJOMBANG (diduga sabotase), menimbulkan kerugian materil.
  5. Pelarian dari penjara di BLITAR, baik tahanan politik maupun kriminal.

Baca Juga: Inilah Beberapa Jejak Sekolah di Era Kolonial Belanda di Jombang, Ada Sekolah Khusus Bangsawan, Khusus Eropa hingga Khusus Pribumi

Selanjutnya, interogasi massal pertama terhadap pemberontak yang ditangkap oleh Dinas Penerangan Republik terjadi di BODJONEGORO.

Interogasi ini menunjukkan bahwa banyak pemberontak yang menjadi alat kelompok fanatik PKI. Hanya sekelompok kecil tawanan perang yang mengetahui sepenuhnya tujuan PKI. Selain itu, "jejak (tiruan)Sovietisme" masih terdapat pada semua narapidana.

Selepas pengakuan kemerdekaan Indonesia pada akhir 1949, pengelolaan penjara Jombang dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehakiman.

Namanya juga berubah dari bui atau penjara menjadi rumah tahanan negara (rutan).

Baca Juga: Catatan Media Hingga Catatan Pasukan Sekutu Saat Watertoren Ringin Contong Jombang Dibangun dan Digunakan

Kemudian berubah konsepnya menjadi lembaga pemasyarakatan (lapas).

Setiap tanggal 27 April, diperingati sebagai Hari Bhakti Pemasyarakatan. (ang/riz)

 

 

 

Editor : Achmad RW
#Penjara #lapas #Jombang #sejarah