Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Program Magang ke Jepang yang Digagas Ganjar Disambut Antusias Masyarakat

Achmad RW • Jumat, 6 Oktober 2023 | 13:43 WIB
Ganjar Pranowo menghadiri pembukaan tes seleksi magang Jepang tahun 2023 di halaman Kantor Disnakertrans Provinsi Jawa Tengah, Senin (12/6)
Ganjar Pranowo menghadiri pembukaan tes seleksi magang Jepang tahun 2023 di halaman Kantor Disnakertrans Provinsi Jawa Tengah, Senin (12/6)

RADAR JOMBANG - Program magang ke Jepang yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, menyedot animo tinggi dari masyarakat.

Program tersebut diharapkan bisa meningkatkan skill peserta serta ikut mengentaskan warga dari garis kemiskinan.

Tidak hanya lulusan SMK saja yang boleh mengikuti program ini. Bagi lulusan sekolah nonvokasi, semisal madrasah aliyah.

Hanya saja, perlu menambahkan sertifikat keteknikan sebagai syarat pendaftaran.

Program magang Jepang ini juga bisa diikuti peserta dari luar Provinsi Jateng.

Tahapan pendaftaran program magang ke Jepang tahun 2023 telah dimulai sejak 13 Februari hingga 2 Juni 2023.

Kemudian tes seleksi akan berlangsung selama lima hari, dimulai pada 12 Juni hingga 16 Juni 2023. Durasi magang ke Jepang itu diikuti minimal tiga tahun.

Seorang calon peserta program magang Jepang, Abdul Rosyid mengaku antusias mengikuti seleksi.

Dia menyebut keikutsertaannya untuk mengubah nasib dan mewujudkan asanya mempunyai sebuah bengkel sepeda motor.

”Saudara saya juga pernah mengikuti magang ke Jepang ini. Sekarang saudara saya sudah punya usaha dari upah magang di Jepang. Nah, saya ingin kerja di sana untuk mengumpulkan modal,” urainya.

Sementara itu, Rahmat Andrian mengaku senang bisa berpartisipasi dalam program ini.

Lulusan madrasah aliyah di Demak itu berharap mendapat pekerjaan yang baik dan bisa berkarir di luar negeri.

”Program ini sangat membantu menaikkan skill SDM, terutama bagi anak-anak muda seperti saya,” tandasnya.

Mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, program ini memberikan kesempatan bagi para lulusan SMK.

Khususnya di Jateng untuk bisa menambah ilmu dan pengalaman.

”Kami mencoba membuka ruang seluas-luasnya, agar anak-anak kita bisa bekerja di seluruh dunia. Kita carikan jalan untuk mereka bisa mendapatkan tempat yang baik dan tentu pengalaman yang lebih baik,” katanya.

Menurut Ganjar, program magang Jepang ini telah memberikan banyak manfaat, khususnya bagi warga Jawa Tengah.

Beberapa peserta akhirnya pulang ke daerah asal untuk membuka usaha sendiri setelah mendapatkan pengalaman kerja dan modal untuk membuka usaha.

Namun, tidak sedikit yang tetap tinggal di Jepang untuk melanjutkan karirnya.

”Rata-rata yang mereka punya pengalaman luar nilai tambahnya banyak sekali, inilah cara kami mendorong anak-anak kita agar dalam usia-usia kerja ini betul-betul mereka bisa mendapatkan kesempatan itu,” sambungnya.

Kepala Bidang Pelatihan Kerja dan Produktivitas Disnakertrans Jateng Masduqi mengatakan, selain tes fisik para peserta yang lolos juga akan dibekali bahasa dan budaya Jepang.

”Mereka akan kerja di berbagai sektor, seperti pertanian, konstruksi, manufaktur, hingga care giver (perawat),” jelasnya.

Baca Juga: Ini Komitmen Ganjar Dorong Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan di Masyarakat

Sementara di Jombang, program magang juga kerja di luar negeri juga terus bertumbuh.

Sepanjang 2021 sampai 2022, pertumbuhan penyaluran pekerja migran Indonesia asal Jombang yang ke luar negeri naik 100 persen.

”Di tahun 2021 ada 103 orang, di tahun 2022 menjadi 247 orang, tahun 2023 ini juga akan lebih banyak lagi ini,” terang Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Jombang Priadi kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Priadi menyebut, kenaikan jumlah PMI itu juga berbanding lurus dengan naiknya kapasitas Pendidikan dan kemampuan PMI yang disalurkan.

Mayoritas PMI yang berangkat ke luar negeri kini tak lagi bekerja di ranah domestik atau pembantu rumah tangga.

”Sekarang mayoritas di manufaktur, pendidikannya juga SMA-SMK, skrining kita juga ketat, sehingga kemungkinan kecil sampai terlantar di sana,” imbuhnya.

Program peningkatan kapasitas PMI itu, diharapkan juga terus dikembangkan dengan penataan sistem yang lebih baik. (riz/naz/riz)

 

Editor : Achmad RW
#Ganjar Pranowo #luar negeri #tenaga kerja