JOMBANG – Masjid Baiturrohman di Dusun/Desa Blimbing, Kecamatan Gudo ini diyakini sudah ada sejak 1918.
Peletakan batu pertama bangunan masjid yang sudah berusia lebih dari seabad itu, dilakukan Kiai Hasyim Asy’ari.
Pantauan di lokasi, masjid ini berada di tengah perkampungan. Saat ini tengah dilakukan rehab terutama di bagian atap.
Di lingkungan masjid juga berdiri yayasan pendidikan. Di salah satu sudut dinding masjid, terpampang foto lawas kondisi masjid sebelum direhab.
Foto itu menerangkan masjid dibangun 1918. Foto yang dipajang merupakan cetakan 23 Desember 2010 lalu.
Ahmad Fauzi salah seorang tokoh masyarakat mengatakan, Masjid Baiturrohman sudah ada sejak lama. Kini usianya bahkan sudah satu abad lebih.
Warga meyakini berdirinya masjid itu ada keterkaitan dengan salah satu pondok pesantren di Desa Cukir, Kecamatan Diwek.
Bahkan berdasarkan cerita dari para sesepuh dusun maupun pengurus masjid lama, peletakan batu pertama dilakukan KH Hasyim Asy’ari.
”Masjid di sini ada keterkaitan dengan Ponpes Tebuireng, karena waktu bangunnya dulu peletakan batu pertama oleh Mbah Kiai Hasyim Asy’ari,” kata Fauzi.
Masjid itu dulunya dibangun beserta pondok. Berada di sekitaran pabrik gula atau Suiker Fabriek (SF) Blimbing yang kini sudah hancur.
”Sejarahnya dulu yang memegang masjid ini bapaknya almarhum Pak Agus Aly Muhammad,” imbuh dia.
Menurut dia, keluarga Agus Aly Muhammad merupakan tokoh pendiri masjid. Berbeda dengan bangunan yang sekarang, bangunan yang lama lebih sederhana.
Gaya arsitektur masjid terinspirasi Masjid Demak. ”Sebelum direhab 1984, bentuk masjid lama juga mirip dengan masjid di Tebuireng,” tutur Fauzi yang sebelumnya menjabat pengurus atau takmir masjid ini.
Dia masih ingat, sebelum masjid itu dibongkar. Kondisinya mirip dengan foto yang dipajang. Mayoritas bangunan dari kayu meski dindingnya sudah tembok.
Bagian serambi terdapat beberapa pilar besar dari cor. ”Sementara bagian dalam tiangnya dari kayu jati berbentuk kotak, waktu pembongkaran 1984 saya masih remaja,” tutur Fauzi yang kini berusia 57 tahun ini.
Dikatakan, karena dibongkar seluruh bagian masjid saat itu disumbangkan ketiga dusun di desa setempat. Mulai dari kayu jati hingga peralatan lainnya.
”Saat itu semua dusun belum memiliki masjid, masih berupa langgar. Pusat masjidnya ada di Blimbing,” lanjut dia.
Di dekat masjid kala itu terdapat sumber mata air dan banyak pohon besar. Kini yang masih tersisa tinggal sumber mata air. ”Di area masjid juga ada kolam, tempat bersuci. Dilengkapi tempat wudu,” ujar Fauzi.
Menurut dia, bangunan yang kini berdiri merupakan hasil renovasi 1984 lalu. Butuh waktu tiga tahun masjid itu direhab seperti sekarang ini.
”Dan baru tahun ini direnovasi lagi, tapi hanya bagian atapnya. Rencananya mau dikembalikan ke bentuk semula atau awal dulu,” kata Fauzi. (fid/naz/riz)
Editor : Achmad RW