JOMBANG – Setelah bercokol selama 3,5 tahun di Jombang, akhirnya penjajah Jepang menyerah kepada Sekutu tanggal 14 Agustus 1945. Secara otomatis Jombang dalam keadaan status quo seperti wilayah lain di seluruh Indonesia.
Meski menyerah tanpa syarat, tentara Jepang masih memegang senjata. Mereka masih menguasai obyek-obyek vital dan kantor pemerintahan. Sembari menunggu kedatangan pasukan Sekutu untuk melucuti dan penyerahan diri.
Memanfaatkan situasi itu Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia dikumandangkan di Jakarta oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama Bangsa Indonesia.
Tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, seluruh komponen bangsa di Jombang segera bersiap. Meski pasukan Pembela Tanah Air (PETA) bentukan Jepang secara resmi dibubarkan sehari kemudian, namun para prajurit tetap siap.
Begitu pula puluhan pelatih calon anggota Laskar Hizbullah Jombang yang baru saja digembleng oleh empat perwira lulusan pendidikan Cibarusah. Berbeda dengan badan-badan lain bentukan Jepang, Laskar Hizbullah tidak ikut dibubarkan. Keberadaannya masih solid dan dalam kendali Markas Tertinggi (MT) Hizbullah.
Berita pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia oleh Bung Karno dan Bung Hatta itu segera disebarluaskan ke segala penjuru dunia, melalui saluran apa saja yang bisa dilakukan. Baik melalui radio, telegraf, koran, pamflet maupun dari mulut ke mulut.
Seperti yang dimuat di dua koran edisi Sabtu Pahing, 18 Agustus 1945. Surat kabar Asia Raya memilih judul headline “Pengangkatan Kepala Negara Indonesia Merdeka Ir Soekarno dan Drs Moh Hatta” di halaman muka. Meski mengangkat judul Indonesia Merdeka, tapi justru tidak ada tulisan tentang Proklamasi Kemerdekaan.
Berbeda dengan koran Asia Raya, surat kabar sore Soeara Asia justru memuat teks proklamasi kemerdekaan secara lengkap. Bahkan dengan ukuran huruf yang diperbesar dan warna tinta merah mencolok dan menarik perhatian. Selain itu, dua foto wajah proklamator Bung Karno dan Bung Hatta, dipasang di halaman muka.
Dimuat juga maklumat dari Soekarno-Hatta dan Komite Nasional Indonesia (KNI). Tidak ketinggalan, teks lagu kebangsaan Indonesia Raya ada.
Meski begitu, dua koran ini sama-sama tidak memuat foto-foto peristiwa pembacaan proklamasi kemerdekaan dan pengibaran bendera merah putih. Kedua foto itu baru dimuat enam bulan kemudian.
Adalah koran Merdeka yang pertama kali memuat foto Bung Karno didampingi Bung Hatta membacakan proklamasi serta pengibaran bendera di edisi 19 dan 20 Februari 1946. Kabar gembira tentang Kemerdekaan Bangsa Indonesia ini akhirnya sampai di Jombang.
“Seluruh penduduk menyambut antusias dan bersyukur atas nikmat kemerdekaan yang sudah dinanti-nantikan,” kata M Fathoni Mahsun, penelusur sejarah perjuangan di Jombang.
Tetapi, bukan berarti situasi sudah bebas dan aman sepenuhnya. Sebab, serdadu Jepang masih ada di mana-mana. Di tengah situasi genting dalam posisi saling menunggu itu, Presiden Soekarno mengumumkan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 23 Agustus 1945.
Inilah salah satu cikal bakal pasukan pejuang (setelah menjadi TKR) yang nantinya akan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Mereka sadar, kemerdekaan ini tidak akan mudah untuk dipertahankan. Sama sulitnya ketika merebut kemerdekaan, mempertahankannya pun lebih sulit. Pihak Belanda tentu tidak begitu saja rela melepaskan tanah jajahannya dengan cuma-cuma.
Begitu juga, penjajah Jepang belum pergi dari tanah air, meskipun status Indonesia sudah menjadi negara merdeka.
Pembentukan BKR di pusat ini segera ditindaklanjuti dengan mobilisasi di tingkat daerah. “Para pemuda di bawah komando Letkol R Kretarto segera bergerak cepat. BKR Jombang dibentuk 25 Agustus 1945 dan membuka pendaftaran anggota secara terbuka,” jelasnya.
Bangunan yang dipakai sebagai tempat pendaftaran anggota BKR Jombang itu, lanjutn dia, berada di gedung Djaksa Djombang (sekarang kantor Kejaksaan Negeri Jombang). Meskipun hanya sebentar saja karena bersifat sementara menempati di kantor kejaksaan ini. Sebab antusiasme para pemuda semakin meningkat untuk mendaftarkan diri.
“Sehingga lokasi markas BKR Jombang harus pindah ke beberapa bangunan berderet empat di depan RSUD Jombang,” lanjut penulis buku novel Perang Jombang ini. Di tahun 1980-an, bangunan itu sempat digunakan sebagai paviliun RSUD Jombang dengan nama paviliun Cempaka, Seruni, Mawar, dan Kenanga.
Kemudian awal 1990-an sempat dipakai sebagai rumah dinas dokter RSUD Jombang. Saat ini bekas gedung terebut sudah dirobohkan dan diganti menjadi kantor Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kabupaten Jombang.
Sebulan kemudian, pada 5 Oktober 1945, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dibentuk. Pendaftaran anggota TKR Jombang dibuka di bekas gedung pertemuan (societiet) sebelah timur Kebonrojo.
Selain dari anggota BKR, juga dari pemuda yang baru direkrut. Bersama badan-badan perjuangan lainnya, Laskar Hizbullah dan TKR berjuang mempertahankan wilayah Jombang dari agresi militer Belanda 1947 dan 1948.
“Letkol R Kretarto bisa bertindak cepat membentuk BKR Jombang, karena dia mempunyai kedekatan emosional dengan Jombang. Di jaman Jepang, Pak Kret sudah melatih PETA Jombang,” tambah Fathoni.
Letkol R Kretarto bertugas di Jombang sampai berakhirnya Agresi Militer Belanda ke-2 pada Desember 1949. Kemudian meneruskan karir militernya hingga mencapai pangkat Brigjen TNI AD di Jakarta.
Dengan demikian, Brigjen R Kretarto yang pernah menjadi Ketua BKR dan Komandan TKR Jombang bisa dianggap sebagai cikal bakal pembentuk TNI yang ada di Jombang. (fai/bin/riz)
Editor : Achmad RW