”Jadi terkait warga di Megaluh itu kami sudah menerima informasinya. Insya Allah besok kami ke sana untuk menindaklanjuti,’’ ujarnya.
Harapan Jombang bebas pasung sepertinya sulit terwujud karena kondisi latar belakang masyarakat berbeda. ”Kita sebenarnya target bebas pasung sejak 2-3 tahun lalu, namun fakta di lapangan masih kesulitan,’’ tegasnya.
Menurut dia, ada beberapa latar belakang warga memasung anggota keluarga mereka yang mengalami gangguan jiwa. Misalnya, sering ngamuk, sering kabur dari rumah atau malu karena memiliki keluarga ODGJ. ”Akhirnya dipasung di dalam rumah,’’ papar dia.
Disinggung masih ada berapa warga yang dipasung? Eko secara pasti belum bisa menyebut angka pastinya. Namun ia tak menampik jika kasus pasung masih kerap ditemukan. ”Jumlah pastinya kami mohon waktu. Namun dari data Dinkes sekitar 16 warga,’’ jelas dia.
Meski masih banyak warga yang dipasung, namun upaya pembebasan terus dilakukan. Ia menyebut, Pos Kesehatan Jiwa di Desa Bongkot dan Desa Dukuhklopo telah membebaskan sekitar 30 warga dari pemasungan. ”Dan ini terus dilakukan secara berkala setiap tahun,’’ pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Mujib, 62, Seorang lansia yang juga ODGJ di Dusun Candi, Desa Sidomulyo, Kecamatan Megaluh, terpaksa dipasung keluarganya. Hal itu dilakukan menyusul mereka yang kesulitan mengobati orang tuanya karena kendala biaya. Pemasungan ini juga dilakukan karena ODGJ ini sering mengamuk dan merusak rumah.(ang/bin) Editor : Achmad RW