”Sebelum menjadi masjid seperti sekarang, dulu ini Musala Al Muttaqin, setelah menjadi masjid namanya diganti menjadi Baitul Muttaqin,” ungkap Muhammad Azam Yasir, Ketua Takmir Masjid Baitul Muttaqin Sidomulyo, kemarin.
Azam menerangkan, saat masih berbentuk musala, bangunannya belum besar seperti sekarang. Selain ukurannya lebih kecil, letaknya juga lebih menjorok ke dalam. Sekitar 1984, masyarakat punya keinginan memiliki masjid agar memudahkan warga untuk menunaikan ibadah salat Jumat.
Setelah dilakukan musyawarah, warga akhirnya sepakat mengubah Musala Al Muttaqin menjadi masjid.
Setelah dana siap, masjid kemudian dibangun. Namun bentuknya masih cukup sederhana, tidak tinggi, dan tidak terlalu megah. ”Hanya lebih besar dari musala yang sebelumnya dipakai,” terangnya.
Seiring perkembangannya, jumlah jamaah terus bertambah. Saking banyaknya, saat melaksanakan ibadah salat Jumat sampai meluber.
Hal itu mendorong warga dan pengurus untuk merehab masjid agar bisa menampung seluruh jamaah. Setelah melakukan musyawarah warga sepakat merehab kembali bangunan masjid.
Akhirnya pada 2018 dimulailah pekerjaan rehab masjid. Bangunan masjid yang lama direhab total. Bekas material bangunan masjid yang dirobohkan ditimbun di bawah bangunan masjid yang sekarang berdiri. Pembangunan masjid berlangsung hampir setahun. ”Sisa bangunannya ditimbun, kayu-kayu yang masih bagus disumbangkan kepada musala-musala yang membutuhkan. Pembangunan murni swadaya masyarakat, hanya gerbang masuk saja dapat bantuan dari Kemenag,” ungkap Azam.
Dari kejauhan, warga dan para jamaah bisa dengan mudah menemukan masjid lantaran terdapat bangunan menara masjid yang tinggi menjulang.
Dilihat dari gaya bangunannya, corak bangunan Masjid Baitul Muttaqin identik dengan gaya bangunan masjid di Timur Tengah. Selain menara, Masjid Baitul Muttaqin juga memiliki tiga kubah besar. Satu kubah utama yang berukuran besar, dan dua kubah lainnya memiliki ukuran lebih kecil. Selain bentuknya yang indah, warna kubah yang didominasi warna kuning keemasan semakin mempercantik masjid.
Masjid Baitul Muttaqin memiliki halaman cukup luas sehingga para jamaah tidak perlu kerepotan mencari tempat parkir kendaraan.
Memasuki ruang utama masjid, tampak sejumlah ornamen masjid begitu indah. Jika mata melongok ke atas, jamaah akan dibuat takjub eloknya hiasan dengan konsep langit lepas ditambah gumpalan awan yang elok. Selain itu terdapat lampu gantung yang indah.
Luas bangunan masjid mencapai 9x9 meter. Dilengkapi kipas angin dan AC. Di dalam masjid juga ada jam besar yang diletakkan di pojok. ”Agar masyarakat senang dan ingin berlama-lama ibadah dalam masjid,” katanya.
Tidak ada filosofi khusus mengenai bangunan masjid. Warna emas memang dibuat agar masjid tampak megah dan menarik perhatian, warna cokelat dan hijau sebagai pemanis. ”Tujuannya agar orang senang dan ingin beribadah di Masjid Baitul Muttaqin,” jelasnya.
Gaya Arsitektur Masjid Jadi Percontohan
SEMENTARA itu, megahnya bangunan masjid Baitul Muttaqin membuat banyak orang tertarik. Setidaknya sudah ada enam orang yang meminta gambar untuk dijadikan referensi. ”Ada orang Pulo Lor, Kabuh, Perak yang minta gambar masjid ini, alhamdulillah menarik bagi sebagian orang,” kata Azam.
Saking menariknya, tidak jarang calon pengantin melirik masjid Baitul Muttaqin dijadikan sebagai tempat melaksanakan akad nikah. ”Pernah ada salah satu pendatang yang menyatakan mualaf dan mengucapkan syahadat di masjid Baitul Muttaqin,” ungkapnya.
Kegiatan semakin ramai saat Ramadan. Ada buka bersama setiap hari. Warga sekitar kompak menyiapkan menu takjil untuk berbuka puasa. Setiap hari pukul 01.00, masjid juga sudah ramai dengan warga yang berdatangan untuk melaksanakan salat tahajud. ”Lanjut sampai saur dan subuh bersama di masjid,” jelasnya.
Setiap pagi, masjid juga ramai dengan riuhnya suara anak-anak. Karena sebgaian tanahnya dibangun lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tepat di sisi selatan masjid. ”Di kelas-kelas itu juga dipakai untuk pendidikan diniyah kalau sore,” pungkasnya.