JOMBANG – Memasuki musim tanam padi, petani di Dusun Pacar, Desa Pacarpeluk, Kecamatan Megaluh waswas ancaman hama tikus yang setiap tahun menyerang tanaman padi petani. Sebagai upaya, petani ramai-ramai memburu tikus.
Pantauan di lokasi, tampak petani membawa alat gropyokan di pematang sawah. Bermodalkan jerami kering, belerang dan alat josmo dari elpiji tiga kilo, petani memburu tikus dengan membakar sarang mereka. Cara tersebut dilakukan sejumlah petani dengan menyebar ke beberapa titik. ”Belerang ini kita masukan ke lubang tikus, lalu kita bakar dengan jerami. Asapnya akan mengepul ke lubang tikus dan membuat tikus lemas seketika,” ujar Paino, 49, salah satu petani kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (4/1).
Dijelaskan, ketika tikus terkena asap belerang, tikus akan keluar dari sarang. Saat itulah petani langsung memukul dengan tongkat. ”Kita lakukan ramai-ramai supaya banyak yang ngejar tikus,” tambahnya.
Dia menerangkan, selama ini serangan hama tikus menjadi momok bagi petani di wilayahnya lantaran serangannya yang masif. ”Dulu pernah tidak kita lakukan gropyokan, hasilnya panen kita anjlok hampir 50 persen. Namun setelah kita lakukan secara rutin menjelang musim tanam dan sesudah musim panen, hasilnya bisa terkendali,” jelas dia.
Dalam sehari, petani bisa membasmi kurang lebih 50–100 ekor tikus. Selain cara tersebut, petani juga menggunakan cara lain dengan menaruh racun tikus di sekitar pematang sawah. ”Ada bantuan obat tikus dari Disperta, tapi ya tetap saja belum bisa maksimal dalam membasmi hama tikus,’’ pungkasnya.
Hal senada juga disampaikan Johanes Pamungkas anggota kelompok tani. Diakui, serangan hama tikus cukup masif di wilayahnya. ”Serangan hama tikus lumayan banyak. Untuk itu kita tanggap sebelum turun tanam kita lakukan gropyokan tikus,’’ ujar dia.
Dijelaskan, pembelian belerang sebagai bahan dasar gropyokan dilakukan secara swadaya kelompok tani. Per kilogram belerang petani membeli seharga Rp 16 ribu. ”Tahun lalu ada bantuan dari Disperta, namun di awal tahun ini belum ada. Sehingga kita swadaya sendiri,’’ pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh