PURA Amerta Buana adalah salah satu pura tua di Jombang. Pura yang berada di Dusun Ngepeh, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang ini berdiri tahun 1979 silam. Awalnya, pura ini dibuat dari bambu.
”Tempatnya dulu tidak di sini, tapi di belakang pekarangan rumah warga,” ujar Pranutik salah seorang pemangku Pura Amerta Buana. Diceritakan, awal berdiri pura hanya terbuat dari bambu. Bahkan, lokasinya bekas kandang sapi dan menumpang di tanah milik warga. ”Itu bertahan sampai 1983,” kenangnya.
Sebagian besar warga Dusun Ngepeh memang menganut agama Hindu. Tak heran, kalau kemudian warga ingin mempunyai tempat ibadah sendiri. Sehingga dilakukan urunan untuk membeli tanah. Sesuai rencana, pembelian tanah digunakan untuk membangun tempat ibadah. ”Ada yang menjual sapi, dan ada yang menjual perhiasan untuk membeli tanah,” ungkapnya.
Pada pembangunan awal, masih berbentuk joglo yang terbuat dari bambu. Hal ini lantaran tidak ada uang kas untuk melanjutkan pembangunan. ”Baru pada tahun 1998 dibangun menyerupai candi,” ceritanya. Keberadaan joglo bambu itu sendiri tetap digunakan, meski terkadang disisihkan. Lambat laun, atap yang terbuat dari bambu itu tidak bisa bertahan lama.
”Setiap Hari Raya Nyepi selalu berbenah. Sesepuh berpikir bagaimana agar tidak berbenah setiap tahun,” tutur dia. Kemudian, sekitar tahun 2000 dibangun sebuah balai agung. Bangunan dibentuk dari semen dan bata yang diukir pada 2012. ”Dua tahun kemudian, 2014, dibangun ruang pembelajaran agama untuk anak-anak,” beber Pranutik.
Bukan hanya digunakan untuk ibadah saat Hari Raya Nyepi, Pura Amerta Buana Ngoro juga digunakan kegiatan pembelajaran agama Hindu. ”Pembelajaran agama untuk anak-anak ini rutin dilakukan setiap Sabtu dan Minggu. Kecuali gurunya berhalangan hadir,” tegasnya.
Ia menyampaikan, upacara melaspas di Pura Amerta Buana baru dilakukan tahun 2012. Pertimbangannya, mayoritas umat Hindu di Dusun Ngepeh beraktivitas sebagai petani. Sebelum dilakukan ritual melaspas, keberadaan pura diukir mulai fatma dan gapura depan.
”Itu diukir agar terlihat seninya. Dulu yang mengukir orang Banyuwangi,” terang Pratunik. Sehingga bangunan pura sekarang, terlihat lebih artistik dengan ukiran-ukiran bunga teratai. ”Jadi ukiran itu juga mempunyai nilai tersendiri,” pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh