MASJID Al Ma’ruf di Dusun Beyan, Desa Pandanwangi, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang dibangun sejak 1960-an. Namun, desain masjid tak seperti masjid lawas pada umumnya meski bangunannya terlihat jadul.
Masjid yang berlokasi di gang kecil ini sangat mencolok dari kejauhan. Tak seperti kebanyakan masjid lawas yang mengusung desain Jawa dengan atap susun, masjid ini justru nampak bergaya modern.
Kubah besar berbahan seng terlihat dengan jelas dari kejauhan laiknya kubah masjid terkini, meski tampilannya lebih sederhana. Bentuk atap pun menyerupai kantor-kantor pemerintahan di era 60-an, dengan lis tembok kotak dan genting memanjang.
Bangunan utama masjid dibangun dengan menggunakan banyak gawang melengkung. Mihrab masjid justru dibangun lebih kecil dari pada emperan. Di dalam mihrab, hanya ada satu ruang yang digunakan untuk imam dan khatib. Satu pintu masuk di tengah yang diapit dua jendela kaca. Masjid ini tampil dengan dua lapis teras dan lantai marmer.
“Memang dibangun tidak dengan konsep masjid Jawa, tapi modern. Masjid terbaik di eranya tapi sekarang terlihat kuno,” terang Muhammad Kholil Sekretaris Takmir Masjid Al Ma’ruf, beberapa waktu kemarin.
Ia menceritakan, lingkungan masjid dulu milik kiai Ma’ruf seorang ulama yang datang dari Jawa Tengah dan membuka lahan di Dusun Beyan. Bangunan masjid dulu adalah bangunan musala kecil namun ramai. “Dari masterplan wakaf yang kami dapat, sejak 1928 sudah tercatat sebagai wakaf tanah,” lanjutnya.
Hingga 1960, musala dibongkar total dan diganti bangunan masjid. Tak banyak perubahan yang dilakukan. Seluruh bangunan yang ada masih seperti aslinya. “Kecuali relief pada mihrab dalam itu saja, lainnya masih asli semua,” tambahnya.
Ia menyebut, sejak dulu masjid ini jadi saksi perkembangan penyebaran ilmu dan kegiatan masyarakat. Hingga kini kegiatan keagamaan masih terus dilestarikan. “Jadi sejak era kiai Ma’ruf dulu, masjid jadi pusat kegiatan agama. Beliau juga yang membina, bahkan jadi lokasi gemblengan masyarakat,” tambah Kholil.
Karena itu pula, meski dulu masih berupa musala kecil, namun semua kegiatan ibadah terpusat. Mulai salat fardu hingga kegiatan lain. Salat jumat dan salat hari raya. Menurutnya, jejak keluarga kiai Ma’ruf terus meluas. Dari surau kecil, kini jadi lokasi perkampungan yang terus bertambah seiring jumlah anggota keluarga. “Makanya kalau di sekitar sini hampir semua masih saudara,” katanya.
Kholil juga menceritakan, kawasan sekitar masjid hingga kini masih dipertahankan menjadi pusat kegiatan keilmuan. Ada lembaga pendidikan PAUD dan MI yang dikelola yayasan. Sejumlah pengajian kitab kuning hingga kegiatan rutin mingguan juga masih terlaksana. “Namun memang sekarang masih libur karena pandemi,” pungkas dia.
Editor : M Nasikhuddin