Layang-layang tidak hanya digemari anak kecil. Orang tua juga banyak yang memainkannya. Kemarau seperti sekarang, pembuat layang-layang mulai panen pesanan.
Seperti dijalani Fendy Firmasyah, pembuat layang-layang asal Desa Pandanwangi, Kecamatan Diwek. Di rumahnya, kita bisa melihat puluhan layang-layang terpajang di halaman. Mulai ukuran kecil hingga paling besar, berukuran dua meter. Bentuknya juga bervariasi.
’’Proses pembuatan layang-layang sangat mudah,’’ kata Fendy sambil menghaluskan batang bambu yang sudah dipotong kecil-kecil. Dengan cekatan Fendy membentuk potongan bambu menjadi kerangka layang-layang. ’’Yang paling sulit memang membuat kerangkanya,’’ ujarnya sambil merakit layang-layang.
Dia sudah lima tahun membuat layang-layang.
Yang khas dari layang-layang buatanya Fendy adalah jenis sowangan. Saat layang-layang ini dinaikkan akan menghasilkan suara. Layang-layang sowangan mempunyai bentuk sayap yang lebar.
Sumber bunyinya terdapat pada sowangan. Ini dibuat dengan menggunakan tali pita plastik yang diikat pada dua tabung bambu berukuran kecil di samping kanan dan kiri. Jika diterbangkan dan tertiup angin, pita plastik tersebut akan mengeluarkan bunyi yang nyaring.
Awalnya, dia membuat layang-layang ini karena hobi. ’’Sejak kecil saya suka bermain layang-layang,’’ ucapnya. Dia lantas belajar membuat layang-layang sendiri. Ketika sudah bisa membuat, kemudian muncul niat untuk menjualnya.
’’Saya tidak membuat layang-layang setiap hari,’’ ungkapnya. Pasalnya, layang-layang hanya laku pada saat musim kemarau saja. Biasanya, dia mulai membuat layang-layang pada Juni hingga Oktober. ’’Ramai-ramainya pesanan pada Agustus, tapi sekarang juga sudah mulai banyak pesanan,’’ terangnya.
Editor : Rojiful Mamduh