Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Si Manis Legit Durian Bido Wonosalam Jombang

Rojiful Mamduh • Kamis, 8 Juli 2021 | 14:50 WIB
Si Manis Legit Durian Bido Wonosalam
Si Manis Legit Durian Bido Wonosalam

SIAPAPUN pasti tahu durian bido asli Wonosalam. Durian yang dikenal dengan rasa manis legit dengan sensasi pahit ini banyak diburu pecinta durian. Untuk mendapatkan durian inipun butuh perjuangan. Pembeli harus pesan dulu saat durian masih di pohon.


Durian bido diambilkan dari nama elang Jawa yakni badol. Durian ini memiliki cita rasa berbeda dengan durian jenis lainnya. Ukuran buahnya cukup besar, bisa mencapai diameter 15-30 sentimeter dengan berat mulai 3-4 kilogram. ”Meski ada banyak varietas durian, namun mencicipi durian bido tetap terasa nikmat,’’ ujar Suyitno, 40 petani durian asal Dusun Sumber, Desa/Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin.


Saat ini, memang belum musim durian. Beberapa pohon, termasuk bido sedang dalam masa penyerbukan bunga. Dia memperkirakan, durian mulai matang akhir tahun atau awal tahung. Kemudian panen raya biasanya dilakukan pada Maret. ”Semakin tahun, perkembangan durian termasuk bido, sudah semakin bagus,’’ tambahnya.


Sejak mendapat bukti kelegalan perlindungan varietas tanaman (PVT) dari Kementerian Pertanian 2006 lalu, lanjut dia, durian bido semakin banyak diminati. Namun dia tak menampik jika keberadaan durian bido masih sulit didapat, khususnya saat masa panen. ”Kalau yang benar-benar bido memang sulit, karena sejak di pohon banyak yang sudah pesan,’’ tambahnya lagi.


Durian jenis ini memiliki ketebalan daging dibanding varietas lainnya. Ia menyebut, tingkat edible ketebalan buah mencapai 34-36 persen dari perbandingan kulit. ”Edible itu artinya buah yang bisa dimakan,’’ terang dia. Untuk mengembangkan varietas unggulan ini, petani membentuk Asosiasi Komoditas Petani Durian Wonosalam (Askom Wonosalam).


Aosiasi ini mencatat, total ada 10 ribu batang durian bido yang ada di Wonosalam. Dari jumlah itu, ada sekitar 1.000 pohon yang siap buah tahun ini. ”Penyebarannya ada di sembilan desa, mulai Sumberjo, Panglungan, Carangwulung, Wonosalam, Wonomerto, Jarak, Galengdowo, Wonokerto, dan Sambirejo,’’ jelas dia.


Tak hanya itu, untuk mengembangkan durian jenis ini, petani yang tergabung Askom Wonosalam juga membuat label pada setiap pohon durian bido. Label tersebut mengandung informasi mulai kondisi, jenis, dan nama petani. Sehingga calon konsumen/pembeli dapat mengetahui semua informasi dengan menggunakan kode QR atau QR code. ”Sehingga upaya pengembangan kita dapat terdata jelas,’’ paparnya.


Ia menyebut, upaya lain untuk mempercepat pengembangan durian bido yakni dengan menanam teknik kaki ganda. Teknik ini mulai gencar dilakukan petani dengan menyambungkan sisip tanaman bido dengan durian lokal. ”Kaki ganda, maksudnya kita menyambungkan batang bawah durian lokal sebanyak tiga batang atau lebih dengan satu batang atas jenis bido,’’ bebernya sambil menunjukkan batang durian.


Dengan teknik ini, durian bido yang dikenal langka dapat lebih cepat dikembangkan. Sebab, keunggulan dari teknik ini diantara pertumbuhan lebih cepat, lebih kuat dan tidak gampang terserang penyakit. ”Dari ukuran 1 meter, dengan teknik kaki tiga, bisa tiga sampai empat tahun berbuah. Tapi kalau normal bisa baru tujuh tahun berbuah,’’ pungkas Suyitno.


Editor : Rojiful Mamduh