Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Mukhlis dan Mukhlas

Rojiful Mamduh • Minggu, 4 Juli 2021 | 14:30 WIB
SAAT khutbah di Polres Jombang, Jumat (2/7), KH Fauzan Kamal Tebuireng
SAAT khutbah di Polres Jombang, Jumat (2/7), KH Fauzan Kamal Tebuireng

SAAT khutbah di Polres Jombang, Jumat (2/7), KH Fauzan Kamal Tebuireng menjelaskan pentingnya menjadi orang yang ikhlas. ’’Hanya orang yang dijadikan Allah SWT sebagai orang ikhlas yang tak akan bisa digoda setan,’’ tegasnya.


Dia lantas mengutip QS Alhijr 39-40. Iblis berkata: ’’Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik perbuatan maksiat di muka bumi. Dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlas di antara mereka.


’’Yang disebut dalam ayat ini adalah Almukhlasin,’’ ucapnya.  Almukhlasin merupakan bentuk jamak dari mukhlas. Bukan Almukhlisin, bentuk jamak dari mukhlis. Mukhlis itu orang yang terus berjuang agar bisa ikhlas. Mukhlas adalah hamba Allah yang hidupnya segala dari Allah, bukan dari daya dan ikhtiarnya. Orang yang keikhlasannya masih tingkat mukhlis, masih bisa digoda Iblis.


Sebaliknya, orang yang sudah mencapai tingkat mukhlas, akan terhindar dari cengkeraman iblis. Juga terhindar dari fitnah dan berbagai kecelakaan sosial. Seorang ulama tasawuf bernama Makhul mengatakan: ’’Tidak seorang pun hamba yang ikhlas selama 40 hari kecuali  akan tampak hikmah dari hatinya melalui lidahnya.”


Barang siapa yang sudah mencapai tingkat mukhlas, maka patut bersyukur karena ia sudah berhasil menjadi orang yang langka. Kelangkaannya terlihat dari sulitnya menemui orang yang betul-betul ikhlas tanpa pamrih sedikit pun dari amal kebajikannya.


Banyak sekali orang yang kelihatannya sudah menjadi tokoh bahkan ulama. Tetapi masih berhasil tergoda dan jatuh di dalam cengkeraman nafsu dan perbuatan terlarang. Itu menjadi pertanda perlunya kita selalu mengasah keikhlasan.


Tingkat pertama orang ikhlas disebut Almukhlisin, yakni mereka yang berusaha untuk ikhlas. Sedangkan Almukhlasin adalah mereka yang mendapat anugerah ikhlas atau diikhlaskan oleh Allah SWT.


Dalam Alquran ada dua  jenis keikhlasan. Yaitu ketika kita berupaya untuk ikhlas, ini dibahasakan dengan mukhlis. Serta sebuah karunia dari Allah terhadap orang-orang yang mukhlis yaitu keikhlasan yang datang dari Allah. Ini dibahasakan dengan mukhlas.


Imam Al Qusyairy berkata: ’’Jika Allah menghendaki untuk memurnikan keikhlasan seseorang, Dia akan menjadikan orang itu tidak menyadari keikhlasannya sendiri. Sehingga jadilah dia ikhlas oleh Tuhan atau mukhlas. Bukan ikhlas karena dirinya sendiri atau mukhlis”.


Orang-orang yang mukhlas inilah yang tidak bisa digoda iblis.


Rasulullah Muhammad SAW bersabda, iblis pernah sesumbar. Aku menyesatkan manusia dengan dosa-dosa dan maksiat. Sedangkan manusia balik merusakku dengan istighfar dan La ilaha illallah. Setelah mengetahui itu, iblis menggunakan jurus kedua. Yakni merusak manusia dengan hawa nafsu. Sehingga manusia merasa sudah ikhlas, merasa sudah baik dan merasa lebih baik dari yang lain. ’’Karena itu kita harus banyak baca istigfar dan La ilaha illallah. Juga terus menerus berusaha ikhlas dan memerangi hawa nafsu,’’ sarannya.


Editor : Rojiful Mamduh